Baru 19% orang Indonesia punya tabungan di bank
Sabtu, 14 Juli 2012 - 17:00 WIB
Baru 19% orang Indonesia punya tabungan di bank
A
A
A
Sindonews.com - Antusiasme masyarakat Indonesia memanfaatkan jasa perbankan terbilang masih kalah bersaing dibanding dengan negara Asia Tenggara lainnya. Bahkan di negeri tetangga kita, Malaysia, hampir 68 persen penduduknya telah memiliki rekening tabungan. Begitu pula di Singapura, tujuh juta penduduknya semuanya memiliki rekening tabungan.
"Sedangkan di Indonesia, dari 240 juta warganya hanya 19 persen saja yang memiliki tabungan," kata Ketua Umum GP Ansor Yusron Wahid saat pembukaan International Islamic Financial Inclusion Summit (IFIS) di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (14/7/2012).
Menurut Yusron, rendahnya minat masyarakat Indonesia untuk berurusan dengan perbangkan disebabkan adanya anggapan bila berurusan dengan perbangkan merupakan aib yang memalukan.
"Semisal, pagi-pagi rumah kita didatangi pihak bank, tentu akan muncul anggapan di lingkungan kita ternyata rumah kita yang kita tempati utang di bank. Itu dianggap aib, yang memalukan," paparnya.
Sehingga, lanjutnya, ada kecenderungan di masyarakat lebih condong mempercayai lembaga keuangan tidak resmi, seperti rentenir untuk menutup kebutuhan finansialnya. Meskipun bunga yang diberikan jauh lebih tinggi dibandingkan bunga perbangkan.
“Kondisi seperti ini banyak terjadi pada masyarakat di daerah-daerah terpencil,"ujarnya.
Lebih lanjut Yusron mengatakan, Salah satu solusi yang bisa diambil dari permasalahan tersebut adalah dengan melakukan edukasi kepada masyarakat. Serta meminta kepada kalangan perbangkan untuk tidak menerapkan aturan yang rumit.
Selama ini, diakui oleh Yusron, aturan kredit yang diterapkan perbangkan masih dianggap terlalu berbelit-belit yang menyebabkan masyarakat malas untuk datang ke bank. Tak hanya itu saja, keterbatasan unit perbangkan yang tidak menyentuh kepedesaan membuat rendahnya jumlah warga Indonesia yang memiliki rekening.
"Idealnya, kalau besarnya biaya yang harus dikeluarkan kalangan perbankan untuk membuka cabang di pelosok desa, bisa diambil dengan cara menjalin kerjasama dengan Koperasi Simpan Pinjam atau BMT-BMT," paparnya.
Menurutnya, lembaga keuangan mikro dan perbankan dinilai lebih aman dan menjamin kesejahteraan masyarakat. International Islamic Financial Inclusion Summit (IFIS) merupakan serangkaian acara harlah GP Ansor yang dilaksanakan selama lima hari di Stadion Manahan. Puncak acara harlah sendiri akan dilaksanakan pada 16 Juli lusa yang rencananya akan dihadiri oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.
"Sedangkan di Indonesia, dari 240 juta warganya hanya 19 persen saja yang memiliki tabungan," kata Ketua Umum GP Ansor Yusron Wahid saat pembukaan International Islamic Financial Inclusion Summit (IFIS) di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (14/7/2012).
Menurut Yusron, rendahnya minat masyarakat Indonesia untuk berurusan dengan perbangkan disebabkan adanya anggapan bila berurusan dengan perbangkan merupakan aib yang memalukan.
"Semisal, pagi-pagi rumah kita didatangi pihak bank, tentu akan muncul anggapan di lingkungan kita ternyata rumah kita yang kita tempati utang di bank. Itu dianggap aib, yang memalukan," paparnya.
Sehingga, lanjutnya, ada kecenderungan di masyarakat lebih condong mempercayai lembaga keuangan tidak resmi, seperti rentenir untuk menutup kebutuhan finansialnya. Meskipun bunga yang diberikan jauh lebih tinggi dibandingkan bunga perbangkan.
“Kondisi seperti ini banyak terjadi pada masyarakat di daerah-daerah terpencil,"ujarnya.
Lebih lanjut Yusron mengatakan, Salah satu solusi yang bisa diambil dari permasalahan tersebut adalah dengan melakukan edukasi kepada masyarakat. Serta meminta kepada kalangan perbangkan untuk tidak menerapkan aturan yang rumit.
Selama ini, diakui oleh Yusron, aturan kredit yang diterapkan perbangkan masih dianggap terlalu berbelit-belit yang menyebabkan masyarakat malas untuk datang ke bank. Tak hanya itu saja, keterbatasan unit perbangkan yang tidak menyentuh kepedesaan membuat rendahnya jumlah warga Indonesia yang memiliki rekening.
"Idealnya, kalau besarnya biaya yang harus dikeluarkan kalangan perbankan untuk membuka cabang di pelosok desa, bisa diambil dengan cara menjalin kerjasama dengan Koperasi Simpan Pinjam atau BMT-BMT," paparnya.
Menurutnya, lembaga keuangan mikro dan perbankan dinilai lebih aman dan menjamin kesejahteraan masyarakat. International Islamic Financial Inclusion Summit (IFIS) merupakan serangkaian acara harlah GP Ansor yang dilaksanakan selama lima hari di Stadion Manahan. Puncak acara harlah sendiri akan dilaksanakan pada 16 Juli lusa yang rencananya akan dihadiri oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.
(and)
Lihat Juga :