Komoditas masih tertekan

Rabu, 18 Juli 2012 - 11:29 WIB
Komoditas masih tertekan
Komoditas masih tertekan
A A A
Sindonews.com - Harga komoditas pada semester II/2012 diperkirakan masih akan tertekan akibat perekonomian global yang belum membaik.

Pemerintah mewaspadai tekanan harga tersebut mengingat sejumlah komoditas merupakan andalan ekspor nasional. Harga komoditas andalan ekspor Indonesia seperti karet, pertambangan, serta minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) tercatat mengalami penurunan drastis selama semester I/2012.

Hal itu membuat total nilai ekspor Indonesia menurun pada April dan Mei bahkan menyebabkan defisit neraca perdagangan pada kedua bulan tersebut.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) terkait ekspor April-Mei 2012, penurunan nilai ekspor tertinggi terjadi pada komoditas lemak dan minyak hewan/nabati seperti CPO. Sepanjang Mei, komoditas tersebut hanya mencatatkan nilai ekspor USD1,3 miliar atau berkurang USD469 juta (26,66%) dari bulan April.

Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar mengatakan, kendati tekanan harga komoditas seperti minyak dan CPO sedikit berkurang dibandingkan di semester I, hal tersebut tetap dicermati. Salah satu komoditas yang harus dicermati adalah kedelai.

Mantan Wamen Perdagangan tersebut mengatakan, pada semester II akan ada panen besar kedelai di Amerika Serikat yang bisa menekan harga kedelai.

“Ada perkembangan panen yang terpengaruh di AS,untuk kedelai misalnya,atau permintaan yang agak tinggi di China. Jadi, secara keseluruhan tekanannya tidak tinggi tapi ada satu-dua komoditas yang memang punya spesifikasi tersendiri,” tutur Mahendra, seusai menghadiri rapat koordinasi (rakor) persiapan menjelang puasa dan Lebaran, di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Selasa 17 Juli 2012.

Sementara, harga CPO di semester II menurut dia kemungkinan tidak akan berbeda jauh dengan harga minyak karena merupakan substitusinya. “Jadi, selama (harga) minyaknya datar, saya rasa kurang lebih sama,” imbuhnya.

Kendati memprediksi ada pelemahan harga sejumlah komoditas, Mahendra menegaskan bahwa pergerakan harga di semester II bisa saja berbalik arah karena beberapa faktor, seperti perlambatan perekonomian global serta faktor musiman. Pada musim dingin, misalnya, harga komoditas energi seperti minyak dan CPO biasanya terkerek naik.

Senada dengan Mahendara, Wamen Perdagangan Bayu Krisna Murthi mengakui tekanan atau pelemahan harga pada komoditas andalan ekspor Indonesia masih akan terjadi pada semester II tahun ini. Tekanan terjadi karena belum ada perbaikan ekonomi global yang cukup signifikan.

Dengan belum membaiknya perekonomian global, permintaan terhadap komoditas ekspor Indonesia tetap berkurang sehingga akan membuat harga komoditas juga menurun.

“Masih akan tertekan (pada semester II). Kalau perkembangan ekonomi belum terjadi perbaikan yang signifikan maka kita belum bisa melihat kenaikan permintaan. Jadi, pada semester II kita belum bisa mengharapkan lonjakan yang besar,” ujarnya.

Kendati demikian, Bayu optimistis bahwa neraca perdagangan pada bulan-bulan ke depan tidak akan mengalami defisit seperti halnya pada April dan Mei. Peningkatan impor barang baku/penolong, menurut Bayu, menjadi alasannya. Barang baku/penolong tersebut akan diolah industri untuk kemudian diekspor dalam bentuk barang jadi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

“Pada 4-6 bulan ini, impor kita yang besar adalah bahan baku/penolong, itu akan digunakan industri dan (selanjutnya) diekspor,” paparnya.

Meski memperkirakan ke depan harga komoditas bakal tertekan, pada semester II pemerintah justru menargetkan pemasukan bea keluar perdagangan internasional yang lebih tinggi dari pada semester sebelumnya.

Berdasarkan Laporan Pemerintah tentang Pelaksanaan APBN Semester I Tahun Anggaran 2012, pemerintah memperkirakan realisasi penerimaan negara dari bea keluar pada semester II sebesar Rp13,9 triliun atau lebih besar 59,9% dari pada realisasi semester I yang hanya Rp10,9 triliun.

Realisasi bea keluar sepanjang 2012 sendiri ditargetkan melewati Rp24,8 triliun atau 106,9% dari target dalam APBN-P 2012 yang ditetapkan sebesar Rp23,2 triliun.

Mahendra menjelaskan,peningkatan target penerimaan tersebut didorong oleh penerapan bea keluar atas ekspor 65 barang tambang mineral dan nonmineral per 16 Mei 2012. Penerapan bea keluar tersebut diharapkan memberi nilai tambah pada barang tambang yang diekspor karena yang diekspor bukan lagi bahan mentah tetapi yang sudah diolah.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Pengawasan DMO Diperketat,...
Pengawasan DMO Diperketat, PLN Didorong Kebut Kontrak Pasokan Batu Bara
1 jam yang lalu
Garuda Terapkan Bagasi...
Garuda Terapkan Bagasi Piece Concept, Bawaan Penumpang Bisa hingga 64 Kg
2 jam yang lalu
Selat Hormuz Kembali...
Selat Hormuz Kembali Ditutup Total, Siap-siap Harga Minyak Bisa Meroket
3 jam yang lalu
Bandara Banda Neira...
Bandara Banda Neira Bakal Dibangun Ulang, Pesawat Kapasitas Besar Bisa Mendarat
5 jam yang lalu
Bank Sentral Global...
Bank Sentral Global Kompak Borong Emas, Hapus Ketergantungan Dolar AS
6 jam yang lalu
Modi Incar Harta Karun...
Modi Incar Harta Karun Terlarang Australia demi Terangi Negaranya
8 jam yang lalu
Infografis
Masih Menjadi Misteri,...
Masih Menjadi Misteri, Benarkah Harimau Jawa Belum Punah?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved