Jaga stabilitas harga pangan
Kamis, 19 Juli 2012 - 11:54 WIB
Jaga stabilitas harga pangan
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah diminta turun langsung untuk mengendalikan stabilitas harga pokok menjelang bulan puasa dan Lebaran.
Sekretaris Fraksi Partai Partai Hanura Saleh Husin mengatakan, pemerintah perlu melakukan langkah-langkah tepat agar situasi di masyarakat tidak terguncang akibat harga kebutuhan pokok yang berpotensi melonjak drastis.
”Memasuki bulan suci Ramadan, berbagai harga kebutuhan pokok merangkak naik,” kata Saleh Husin di Gedung DPR, Jakarta, kemarin.
Hal senada diungkapkan Sekjen DPP PDIP Tjahjo Kumolo. Menurut dia, pemerintah selaku pengendali harga bahan pokok harus tanggap.
”PDIP sudah meminta fraksi di DPR untuk meminta pemerintah menyediakan dan mencukupi stok pangan dan kebutuhan lain secara cukup agar rakyat tidak selalu terbebani,” katanya.
Ketua DPP Partai Demokrat yang juga Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron meyakini kebutuhan bahan pokok menjelang bulan puasa dan Lebaran mencukupi. Dia memprediksi bahwa akan ada kenaikan harga. Namun, dia tetap percaya pemerintah bisa melakukan pengendalian sehingga kenaikan itu tetap pada batas normal.
Sementara, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan yakin harga sejumlah barang kebutuhan pokok berada dalam kondisi stabil hingga Lebaran.
“Kami melihat data menunjukkan pasokan per hari untuk seluruh komoditas sayur mayur dan buah meningkat,” kata Gita seusai kunjungan pasar guna memeriksa harga menjelang puasa di Pasar Santa dan Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ), Jakarta, kemarin.
Dia menilai, semakin banyak pasokan barang kebutuhan pokok maka stabilitas harga di pasar bisa terjaga dengan baik. ”Harga buah dan sayur atau barang hortikultura dalam kondisi stabil, kecuali dua produk yaitu cabai dan bawang putih karena produk tersebut masih sepenuhnya diimpor dari China danThailand,” ujarnya.
Dari pantauan di Pasar Santa, Jakarta Selatan, kemarin, beberapa komoditas sudah mengalami peningkatan harga, antara lain telur dan daging sapi.Harga telur meningkat dari yang biasanya Rp18.000 menjadi Rp20.000 per kg, sementara daging sapi dari semula Rp75.000 menjadi Rp80.000 per kg.
Di tempat terpisah, Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha mengatakan, Kepala Negara telah menugaskan menteri perdagangan untuk melakukan inspeksi mendadak dan melakukan operasi pasar bila perlu. ”Mendag telah melakukan inspeksi agar bahan pokok tidak terganggu,” katanya.
Di sisi lain, Gita mengatakan, impor hanya akan dilakukan jika benar-benar stok kebutuhan pokok di dalam negeri tidak mencukupi.
Namun sebelum impor dilakukan, menurut Gita, pemerintah tentu saja tidak tinggal diam untuk meningkatkan produksi dalam negeri. Baik itu produksi beras, daging sapi maupun daging ayam. Produksi harus ditingkatkan agar bisa memenuhi kebutuhan puasa dan Lebaran. “Paling utama, kita meningkatkan produksi,” tegasnya.
Sedangkan Bulog mengaku tidak akan mengimpor beras. Alasannya sepanjang 2012 akan terjadi surplus beras hingga akhir tahun yang diperkirakan bisa mencapai 5,5 juta ton.
Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan, berdasarkan data BPS,produksi gabah kering giling pada 2012 diproyeksi bisa mencapai 2,84 juta ton, atau naik 4,31% dibandingkan 2011. Hingga semester I/2012, jumlah pengadaan beras Bulog telah mencapai 2.336.217 ton.
Posisi tersebut meningkat 83% dibandingkan realisasi penyerapan Bulog setara beras pada periode yang sama tahun lalu, sebesar 1.276.883 ton. Total realisasi pengadaan beras dalam negeri pada tahun lalu mencapai 1.742.480 ton.
Sekretaris Fraksi Partai Partai Hanura Saleh Husin mengatakan, pemerintah perlu melakukan langkah-langkah tepat agar situasi di masyarakat tidak terguncang akibat harga kebutuhan pokok yang berpotensi melonjak drastis.
”Memasuki bulan suci Ramadan, berbagai harga kebutuhan pokok merangkak naik,” kata Saleh Husin di Gedung DPR, Jakarta, kemarin.
Hal senada diungkapkan Sekjen DPP PDIP Tjahjo Kumolo. Menurut dia, pemerintah selaku pengendali harga bahan pokok harus tanggap.
”PDIP sudah meminta fraksi di DPR untuk meminta pemerintah menyediakan dan mencukupi stok pangan dan kebutuhan lain secara cukup agar rakyat tidak selalu terbebani,” katanya.
Ketua DPP Partai Demokrat yang juga Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron meyakini kebutuhan bahan pokok menjelang bulan puasa dan Lebaran mencukupi. Dia memprediksi bahwa akan ada kenaikan harga. Namun, dia tetap percaya pemerintah bisa melakukan pengendalian sehingga kenaikan itu tetap pada batas normal.
Sementara, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan yakin harga sejumlah barang kebutuhan pokok berada dalam kondisi stabil hingga Lebaran.
“Kami melihat data menunjukkan pasokan per hari untuk seluruh komoditas sayur mayur dan buah meningkat,” kata Gita seusai kunjungan pasar guna memeriksa harga menjelang puasa di Pasar Santa dan Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ), Jakarta, kemarin.
Dia menilai, semakin banyak pasokan barang kebutuhan pokok maka stabilitas harga di pasar bisa terjaga dengan baik. ”Harga buah dan sayur atau barang hortikultura dalam kondisi stabil, kecuali dua produk yaitu cabai dan bawang putih karena produk tersebut masih sepenuhnya diimpor dari China danThailand,” ujarnya.
Dari pantauan di Pasar Santa, Jakarta Selatan, kemarin, beberapa komoditas sudah mengalami peningkatan harga, antara lain telur dan daging sapi.Harga telur meningkat dari yang biasanya Rp18.000 menjadi Rp20.000 per kg, sementara daging sapi dari semula Rp75.000 menjadi Rp80.000 per kg.
Di tempat terpisah, Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha mengatakan, Kepala Negara telah menugaskan menteri perdagangan untuk melakukan inspeksi mendadak dan melakukan operasi pasar bila perlu. ”Mendag telah melakukan inspeksi agar bahan pokok tidak terganggu,” katanya.
Di sisi lain, Gita mengatakan, impor hanya akan dilakukan jika benar-benar stok kebutuhan pokok di dalam negeri tidak mencukupi.
Namun sebelum impor dilakukan, menurut Gita, pemerintah tentu saja tidak tinggal diam untuk meningkatkan produksi dalam negeri. Baik itu produksi beras, daging sapi maupun daging ayam. Produksi harus ditingkatkan agar bisa memenuhi kebutuhan puasa dan Lebaran. “Paling utama, kita meningkatkan produksi,” tegasnya.
Sedangkan Bulog mengaku tidak akan mengimpor beras. Alasannya sepanjang 2012 akan terjadi surplus beras hingga akhir tahun yang diperkirakan bisa mencapai 5,5 juta ton.
Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan, berdasarkan data BPS,produksi gabah kering giling pada 2012 diproyeksi bisa mencapai 2,84 juta ton, atau naik 4,31% dibandingkan 2011. Hingga semester I/2012, jumlah pengadaan beras Bulog telah mencapai 2.336.217 ton.
Posisi tersebut meningkat 83% dibandingkan realisasi penyerapan Bulog setara beras pada periode yang sama tahun lalu, sebesar 1.276.883 ton. Total realisasi pengadaan beras dalam negeri pada tahun lalu mencapai 1.742.480 ton.
(gpr)
Lihat Juga :