Gas realistis, tapi tidak berjalan
Kamis, 19 Juli 2012 - 18:01 WIB
Gas realistis, tapi tidak berjalan
A
A
A
Sindonews.com - PT. Pertamina (persero) sangat membutuhkan bantuan pemerintah, jika ingin mengembangkan Bahan Bakar Gas (BBG) di Indonesia untuk mengantikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Walaupun gas dinilai realistis, namun tanpada penanganan yang serius, maka program tersebut hanya menjadi sebuah wacana.
"Karena secara ekonomis memungkinkan tapi harus didukung oleh pemerintah," kata kata Vice President Corporate Communication, Ali Mundakir kepada wartawan di Jakarta, Kamis (19/7/2012)
Paling utama, menurutnya adalah infrastruktur, seperi Sarana Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang sering terkendala dalam perizinan pembangunan. Kemudian mother station yang tersisa, Ali mengatakan alat itu cuma beberapa yang tergolong aktif dan sema sekali tidak berkembang.
"Di Malaysia harga gas di bawah USD1. Yang jelas izin yang dari Pemerintah Daerah. Yang Hiswana bukan merubah mungkin nambah tangki, belum jalan karena demandnya belum tercipta," ucapnya.
Selain itu, Ali menuturkan, peralatan pendukung seperti converter kit yang dinilai sangat mahal. "Di New Zealand converternya dipinjami oleh bank. Sekitar Rp5 juta, dia nyicil ke bank. Harga BBG lebih murah, karena BBM-nya ngga disubsidi. Selama masih ada premium, ini jadi kendala pengembangan gas. Kita optimis tapi itu kendala yang kita hadapi di lapangan," pungkasnya.
"Karena secara ekonomis memungkinkan tapi harus didukung oleh pemerintah," kata kata Vice President Corporate Communication, Ali Mundakir kepada wartawan di Jakarta, Kamis (19/7/2012)
Paling utama, menurutnya adalah infrastruktur, seperi Sarana Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang sering terkendala dalam perizinan pembangunan. Kemudian mother station yang tersisa, Ali mengatakan alat itu cuma beberapa yang tergolong aktif dan sema sekali tidak berkembang.
"Di Malaysia harga gas di bawah USD1. Yang jelas izin yang dari Pemerintah Daerah. Yang Hiswana bukan merubah mungkin nambah tangki, belum jalan karena demandnya belum tercipta," ucapnya.
Selain itu, Ali menuturkan, peralatan pendukung seperti converter kit yang dinilai sangat mahal. "Di New Zealand converternya dipinjami oleh bank. Sekitar Rp5 juta, dia nyicil ke bank. Harga BBG lebih murah, karena BBM-nya ngga disubsidi. Selama masih ada premium, ini jadi kendala pengembangan gas. Kita optimis tapi itu kendala yang kita hadapi di lapangan," pungkasnya.
(gpr)