Akses pembiayaan masih terbatas
Jum'at, 20 Juli 2012 - 12:06 WIB
Akses pembiayaan masih terbatas
A
A
A
Sindonews.com - Bank Indonesia (BI) menyatakan masih banyak rumah tangga (RT) yang belum terjangkau pembiayaan dari lembaga keuangan.
Deputi Direktur Grup Stabilitas Sistem Keuangan BI Yunita Resmi Sari mengatakan, hanya 45,1% dari 4.095 responden rumah tangga yang menerima pinjaman dari lembaga keuangan.
”Sebanyak 54,9% rumah tangga di Indonesia belum memiliki utang di lembaga keuangan,” tuturnya dalam seminar tentang Potensi Keuangan Rumah Tangga Indonesia, di Gedung BI, Jakarta, kemarin.
Meskipun demikian,Yunita menilai akses pinjaman rumah tangga ke bank meningkat menjadi 19,58% pada 2011 dibandingkan dengan 2010 yang tercatat hanya 18,21%.
Menurut dia, apabila dilihat dari kategori pendapatan, masyarakat yang memiliki pendapatan tinggi, umumnya lebih banyak melakukan pinjaman daripada masyarakat yang memiliki pendapatan rendah.
Selain itu, preferensi sumber pinjamannya juga berbeda. Jika masyarakat berpenghasilan rendah lebih banyak meminjam pada nonlembaga keuangan, masyarakat berpenghasilan sedang dan tinggi lebih banyak meminjam ke bank.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti menambahkan, akses layanan finansial saat ini memang masih belum banyak dinikmati masyarakat secara keseluruhan.
Destry mengambil data dari Global Financial Inclusion (McKinsey, 2010) dan mengatakan di Asia Tenggara dan Asia Timur,59% dari populasi belum terjangkau layanan finansial. Hal ini juga terjadi di Indonesia, di mana akses terhadap layanan finansial masih relatif rendah.
”Di Indonesia 49% dari populasi belum memiliki akses terhadap layanan finansial, ini data World Bank 2010,” ujarnya.
Berbagai alasan penyebab penduduk di Indonesia belum memiliki akses layanan finansial, kata Destry, di antaranya disebabkan masih banyaknya masyarakat yang belum memiliki penghasilan memadai. Selain itu, banyak masyarakat yang tidak layak mendapatkan pinjaman.
Destry menyoroti pertumbuhan masyarakat kelas menengah. Hanya, dia menekankan perlunya mewaspadai guncangan ekonomi. Pasalnya, jika inflasi melejit maka daya beli masyarakat kelas ini bisa saja menurut.
”Pertumbuhan middle income class ini menjadi hot topic, cuma kalau ini tidak dimanfaatkan kan sayang,” ujarnya.
Ekonom Senior Bank Dunia untuk Indonesia Vivi Alatas menambahkan, Bank Dunia menilai bertambahnya jumlah kelas menengah di Tanah Air tidak melulu berdampak positif bagi perkembangan Indonesia secara keseluruhan.
Menurut Vivi, tidak ada jaminan pertumbuhan kelas menengah akan bermanfaat bagi perkembangan Indonesia.
Menurut dia, pertumbuhan yang pesat dan terkonsentrasi secara terbatas pada kelas menengah lapisan atas bisa berdampak negatif.
Deputi Direktur Grup Stabilitas Sistem Keuangan BI Yunita Resmi Sari mengatakan, hanya 45,1% dari 4.095 responden rumah tangga yang menerima pinjaman dari lembaga keuangan.
”Sebanyak 54,9% rumah tangga di Indonesia belum memiliki utang di lembaga keuangan,” tuturnya dalam seminar tentang Potensi Keuangan Rumah Tangga Indonesia, di Gedung BI, Jakarta, kemarin.
Meskipun demikian,Yunita menilai akses pinjaman rumah tangga ke bank meningkat menjadi 19,58% pada 2011 dibandingkan dengan 2010 yang tercatat hanya 18,21%.
Menurut dia, apabila dilihat dari kategori pendapatan, masyarakat yang memiliki pendapatan tinggi, umumnya lebih banyak melakukan pinjaman daripada masyarakat yang memiliki pendapatan rendah.
Selain itu, preferensi sumber pinjamannya juga berbeda. Jika masyarakat berpenghasilan rendah lebih banyak meminjam pada nonlembaga keuangan, masyarakat berpenghasilan sedang dan tinggi lebih banyak meminjam ke bank.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti menambahkan, akses layanan finansial saat ini memang masih belum banyak dinikmati masyarakat secara keseluruhan.
Destry mengambil data dari Global Financial Inclusion (McKinsey, 2010) dan mengatakan di Asia Tenggara dan Asia Timur,59% dari populasi belum terjangkau layanan finansial. Hal ini juga terjadi di Indonesia, di mana akses terhadap layanan finansial masih relatif rendah.
”Di Indonesia 49% dari populasi belum memiliki akses terhadap layanan finansial, ini data World Bank 2010,” ujarnya.
Berbagai alasan penyebab penduduk di Indonesia belum memiliki akses layanan finansial, kata Destry, di antaranya disebabkan masih banyaknya masyarakat yang belum memiliki penghasilan memadai. Selain itu, banyak masyarakat yang tidak layak mendapatkan pinjaman.
Destry menyoroti pertumbuhan masyarakat kelas menengah. Hanya, dia menekankan perlunya mewaspadai guncangan ekonomi. Pasalnya, jika inflasi melejit maka daya beli masyarakat kelas ini bisa saja menurut.
”Pertumbuhan middle income class ini menjadi hot topic, cuma kalau ini tidak dimanfaatkan kan sayang,” ujarnya.
Ekonom Senior Bank Dunia untuk Indonesia Vivi Alatas menambahkan, Bank Dunia menilai bertambahnya jumlah kelas menengah di Tanah Air tidak melulu berdampak positif bagi perkembangan Indonesia secara keseluruhan.
Menurut Vivi, tidak ada jaminan pertumbuhan kelas menengah akan bermanfaat bagi perkembangan Indonesia.
Menurut dia, pertumbuhan yang pesat dan terkonsentrasi secara terbatas pada kelas menengah lapisan atas bisa berdampak negatif.
(gpr)
Lihat Juga :