Konversi BBG cuma omong doang
Kamis, 26 Juli 2012 - 18:48 WIB
Konversi BBG cuma omong doang
A
A
A
Sindonews.com - Anggota Center for Petroleum and Energy Economics Studies (CPEES), Kurtubi menilai, usaha pemerintah untuk mengkonversi energi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) adalah omong kosong besar.
Pernyataan Kurtubi tersebut didasarkan pada kenyataan di lapangan dimana hingga saat ini pemerintah belum mampu menyediakan fasilatas yang kongkret untuk mengimplementasikan konversi BBM ke BBG tersebut.
"Pertama saya ingin menggali pidahnya BBM ke gas itu bagus. Kongretnya, omong doang (omdo). Pembangunan fasilatas gas amat sangat minim, Stasiun Pengisian Bahanbakar Gas (SPBG)-nya saat ini ada berapa. Dibandingkan pakistan sudah ada 3.000," paparnya.
Pemerintah, menurut Kurtubi, telah salah membuat kebijakan, yaitu mengekspor gas yang berasal dari lapangan-lapangan yang ada di Indonesia ke negara lain. "Inikan lucu, gas yang ramah lingkungan kita ekspor, kita malah mengimpor BBM," tutup Kurtubi.
Sebelumnya Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso berpendapat jika konversi BBM ke BBG berhasil, maka Indonesia tidak akan dihantui oleh kenaikan minyak dunia terus menerus. Pihaknya berharap kepada pemerintah untuk tidak ragu-ragu dalam mengambil keputusan.
"Saya minta kepada kementerian ESDM dan sekitarnya, serta Menko perekonomian untuk tidak ragu-ragu untuk segera menyiapkan infrastruktur yang berkaitan dengan konversi. Karena alternatif lain tidak tersedia," ucapnya.
Lebih lanjut Priyo memaparkan, pasokan minyak Indonesia secara umum, terutama hari ini sudah dalam kondisi warning. Kebutuhan gas di berbagai provinsi semakin tipis dan langka, sementra pemerintah belum menyiapkan infrastrukturnya.
"Parahnya, dalam lima tahun ke depan agak bahaya nih masalah pasokan kita. Dan ini menyangkut harkat martabat kita semua," tukas Priyo.
Pernyataan Kurtubi tersebut didasarkan pada kenyataan di lapangan dimana hingga saat ini pemerintah belum mampu menyediakan fasilatas yang kongkret untuk mengimplementasikan konversi BBM ke BBG tersebut.
"Pertama saya ingin menggali pidahnya BBM ke gas itu bagus. Kongretnya, omong doang (omdo). Pembangunan fasilatas gas amat sangat minim, Stasiun Pengisian Bahanbakar Gas (SPBG)-nya saat ini ada berapa. Dibandingkan pakistan sudah ada 3.000," paparnya.
Pemerintah, menurut Kurtubi, telah salah membuat kebijakan, yaitu mengekspor gas yang berasal dari lapangan-lapangan yang ada di Indonesia ke negara lain. "Inikan lucu, gas yang ramah lingkungan kita ekspor, kita malah mengimpor BBM," tutup Kurtubi.
Sebelumnya Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso berpendapat jika konversi BBM ke BBG berhasil, maka Indonesia tidak akan dihantui oleh kenaikan minyak dunia terus menerus. Pihaknya berharap kepada pemerintah untuk tidak ragu-ragu dalam mengambil keputusan.
"Saya minta kepada kementerian ESDM dan sekitarnya, serta Menko perekonomian untuk tidak ragu-ragu untuk segera menyiapkan infrastruktur yang berkaitan dengan konversi. Karena alternatif lain tidak tersedia," ucapnya.
Lebih lanjut Priyo memaparkan, pasokan minyak Indonesia secara umum, terutama hari ini sudah dalam kondisi warning. Kebutuhan gas di berbagai provinsi semakin tipis dan langka, sementra pemerintah belum menyiapkan infrastrukturnya.
"Parahnya, dalam lima tahun ke depan agak bahaya nih masalah pasokan kita. Dan ini menyangkut harkat martabat kita semua," tukas Priyo.
(and)
Lihat Juga :