Pemerintah SBY tidak berpihak pada petani
Jum'at, 27 Juli 2012 - 16:39 WIB
Pemerintah SBY tidak berpihak pada petani
A
A
A
Sindonews.com - Koordinator Nasional Aliansi Untuk Desa Sejahtera, Tejo Wahyu Jatmiko memandang pemerintah sudah sangat melupakan jati diri bangsa yang dulu terkenal sebagai bangsa agraris. Pemerintah juga lupa bahwa masalah pangan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan.
“Yang paling mendasar kita lupa pangan menjadi kebutuhan bersama. Seperti pada masa Soekarno, 'pangan kehidupan bangsa' kata Sukarno," terang Tejo menirukan perkataan Presiden RI Pertama, Soekarno.
Hal tersebut dipaparkannya secara gamblang dalam Dialog Interaktif "Perspektif Indonesia", bertajuk "Lonjakan Harga Pangan dan Ancaman Krisis", di gedung DPD, Jumat (27/72012).
Dirinya berpendapat, saat ini bangsa Indonesia sudah sangat tergantung dengan impor sebagai konsekuensi dari kebijakan-kebijakan pemerintah yang sama sekali tidak memihak kepada petani dan dunia pertanian. "Saat pindah jaman Soeharto memang masih diperhatikan, tapi gencar dengan impor, itu terus menerus sampai jaman SBY,” terangnya.
Ketidakberpihakkan kepada petani tersebut, lanjut Tejo, terlihat dari masa pemerintahan presiden SBY, yang mengalokasikan anggaran pertanian hanya 2,9 persen dari APBN terakhir.
"Ketersediaan biji-bijian pangan setiap tahun cenderung menurun. Sementara demand meningkat. Padahal kita sangat tergantung dengan impor, negara kita juga aneh, katanya kita merdeka tapi kita masih tergantung dengan mereka," pungkasnya.
“Yang paling mendasar kita lupa pangan menjadi kebutuhan bersama. Seperti pada masa Soekarno, 'pangan kehidupan bangsa' kata Sukarno," terang Tejo menirukan perkataan Presiden RI Pertama, Soekarno.
Hal tersebut dipaparkannya secara gamblang dalam Dialog Interaktif "Perspektif Indonesia", bertajuk "Lonjakan Harga Pangan dan Ancaman Krisis", di gedung DPD, Jumat (27/72012).
Dirinya berpendapat, saat ini bangsa Indonesia sudah sangat tergantung dengan impor sebagai konsekuensi dari kebijakan-kebijakan pemerintah yang sama sekali tidak memihak kepada petani dan dunia pertanian. "Saat pindah jaman Soeharto memang masih diperhatikan, tapi gencar dengan impor, itu terus menerus sampai jaman SBY,” terangnya.
Ketidakberpihakkan kepada petani tersebut, lanjut Tejo, terlihat dari masa pemerintahan presiden SBY, yang mengalokasikan anggaran pertanian hanya 2,9 persen dari APBN terakhir.
"Ketersediaan biji-bijian pangan setiap tahun cenderung menurun. Sementara demand meningkat. Padahal kita sangat tergantung dengan impor, negara kita juga aneh, katanya kita merdeka tapi kita masih tergantung dengan mereka," pungkasnya.
(gpr)
Lihat Juga :