Batik Kudus di sudut Jakarta
Minggu, 29 Juli 2012 - 13:34 WIB
Batik Kudus di sudut Jakarta
A
A
A
BATIK kini tidak bisa disangkal lagi sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari dunia mode Tanah Air. Dari tahun ke tahun bermunculan model batik baru yang dihasilkan oleh ratusan bahkan mungkin ribuan perajin batik dari berbagai daerah.
Sejak diakui UNESCO sebagai salah satu warisan kebudayaan dunia pada September 2009 silam, penggunaan batik pun semakin digemari masyarakat.Tidak saja di hari tertentu atau acara undangan saja, tapi juga sudah lazim dipakai di hari-hari biasa atau ke kantor. Adalah Yusak Maulana yang menjadi salah satu pegiat fashion (mode) motif batik. Usianya yang masih muda tidak menghalanginya berkarya. Beragam model batik hasil olahan tangannya mendapat tempat di hati konsumen.
Bagi pria kelahiran Kudus, 3 Mei 1985 ini, usia memang bukan halangan untuk berkarya. Upaya yang dilakukannya pun tidak sia-sia. Produk-produknya yang dulu hanya dikenal di lingkungan tempat tinggalnya di Kudus, Jawa Tengah, kini mampu menembus pusat perbelanjaan papan atas di kawasan utara Jakarta. Yuza, demikian panggilan akrab Yusak Maulana, punya cerita perihal kesukaannya pada duniamode.Diamengakui,sejak kecil memang suka memperhatikan sang ibunda tercintanya menjahit pakaiannya sendiri.
Rupanya, setiap detil busana sang ibu diperhatikannya termasuk saat memilih model,kain, hingga merawat kain-kain batik peninggalan neneknya. Jalan bagi Yuza terjun ke desainer profesional semakin terbuka ketika pada April 2011 lalu dia mendapat undangan product screening untuk mengikuti Bangkok International Fashion Fair (BIFF) untuk kedua kalinya.
Undangan tersebut diperoleh karena seringnya dia mengikuti berbagai pameran, baik di tempat asalnya maupun di Jakarta. Di antara pameran besar yang turut diikutinya adalah Inacraft. Di sinilah Yuza bertemu sejumlah desainer senior Ibu Kota. Dari ajang inilah dia ditawari untuk bekerja sama memajang produk-produknya di concept store bernama Koloni atau Toko Kreasi Anak Indonesia di Mall of Indonesia,Jakarta Utara.
Yuza lalu membawa merek yang dia bangun yakni Kultura di butik tersebut. “Di tempat ini, Cultura bersama-sama merek busana lain saling melengkapi satu sama lain dengan model dan corak fashion yang berbeda,” kata Yuza kepada SINDO beberapa waktu lalu. Sebelum membuat Cultura, yang fokus pada jenis busana batik bermotif khusus Kudus, Yuza pernah mencoba memproduksi baju-baju anak dari kain perca batik. Hasil karyanya ternyata mendapat perhatian pembeli asing ketika berpameran.
Hal inilah yang membuatnya semakin percaya diri kendati masih belum berani memasarkan produknya ke luar negeri karena kapasitas produksi dan biayanya yang dianggap masih terlalu tinggi. Butik Koloni sendiri adalah toko busana yang di dalamnya terdapat produk hasil karya desainer-desainer muda dari sejumlah daerah. Busana yang dijual pun tidak hanya produk pakaian jadi,namun juga aksesori pendukung penampilan lainnya seperti sepatu, tas dan pernak-pernik lain.
“Koloni dibuat untuk mereka yang punya idealisme, ide orisinal dan benar-benar asli keluar dari anak bangsa,” ungkap sarjana lulusan Universitas Trisakti itu. Dia menambahkan, kebanyakan dari vendor yang masuk di Koloni adalah pemain pemula yang sebelumnya hanya memiliki toko di dunia maya (online shopping). Mereka akhirnya mau terlibat di Koloni karena banyak pelanggan yang menanyakan toko “riil”-nya.
Yuza dan rekan-rekannya di Koloni mengakui tidak keberatan dengan skema bagi hasil yang ditetapkan pengelola butik tersebut. Dengan porsi 30:70, angka tersebut dirasa tidak begitu memberatkan bagi tenant karena pertimbangan mereka tidak mengeluarkan modal besar untuk melakukan promosi karena semuanya terintegrasi dalam satu toko. “Selain pertimbangan itu, yang membuat saya yakin adalah suasana di Koloni yang sangat Indonesia. Dengan dekorasi dari bambu-bambu menciptakan keselarasan dengan konsep utamanya yang mengangkatbudaya bangsamelaluikarya cipta anak bangsa,”ujarnya.
Selain itu, Yuza menyukai konsep Koloni yang membebaskan para vendor termasuk dirinya dalam menuangkan ide. Alhasil,setiapmerekyangadadi butik tersebut muncul dengan ciri khas masing-masing. Terkait masalah produksi, Yuza saat ini mengandalkan lima penjahit tetap yang ada di Kudus dan Jakarta.
Khusus di Kudus, tetap dipertahankan karena dekat dengan sumber bahan baku dan tenaga kerja sambilan yang kebanyakan adalah pada tetangganya. “Mereka biasanya mengerjakan pesanan dari saya di rumah- masing-masing sehingga lebih efisien,”ungkap Yuza yang lebih banyak memproduksi pakaian jenis ready to wear ini.
Dalam memproduksi batiknya, Yusak Maulana atau Yuza sengaja menyiapkan jenis busana ready to wear atau pakaian siap jadi.Namun untuk menjaga keunikannya, Yuza membuat baju-baju Cultura hanya satu model untuk masing-masing ukuran S,M, L,dan XL.
Cara ini dipakai Yuza untuk menjaga ekslusivitas Cultura bagi para penggunanya. Selain itu, dia memberi sentuhan khas Kudus sehingga busana yang diproduksinya beda dengan yang lain.Adapun bahan yang digunakan dengan memadukan kain tradisional asli Indonesia,seperti batik atau tenun dengan bahan motif polos, garis-garis, kotak-kotak dari jenis katun, sifon, atau sutera. Sementara jenis batiknya, Yuza konsisten hanya menggunakan batik tulis atau batik cap.
“Saya menghindari pemakaian batik printingatau sablon buatan pabrik.Ini untuk mengangkat perajin-perajin batik asli,”katanya. Demikian pula untuk kain tenunnya,Yuza hanya menggunakan tenun tradisional yang asli ditenun secara manual,bukan kain yang di-print dengan motif tenun. Dengan begitu, Cultura mempunyai karakter tersendiri dalam menyisir target pasar yang spesifik antara usia 20–30 tahun, yang senang menunjukkan keindonesiaan melalui busana.
Meski terasa kesan kulturnya,guratan desain Yuza tetap dikemas dalam bentuk lebih modern sesuai perkembangan mode zaman sekarang. “Sebenarnya saya mulai dari 2008 ketika mendapat gelar sarjana teknologi industri. Saya pulang kampung ke Kudus dan mendapatkan dukungan secara moral adik saya satu-satunya untuk melanjutkan usaha dengan modal nekat,”kenangnya.
Dalam setiap rancangan, Yuza membuat konsep dengan mengombinasikan motif bordir khas Kudus dan motif-motif bordir kuno yang diadopsi dari kebaya Melayu dan motif etnis Tionghoa. Dengan bertambahnya pengetahuan dan kreativitasnya,dari sinilah dia mulai menikmati perjalanan eksplorasi berbisnis batik yang lalu dijualnya pada kisaran harga Rp80 ribu–500 ribu per helai.
Untuk terus mengembangkan bisnis pakaian batiknya,Cultura terus melakukan promosi mulai bazar dari mal ke mal,menjadi sponsor kelompok musik,hingga mengirimkan pesan broadcastdi media sosial. Upaya tersebut berhasil mendukung pendapatan Yuza,yang setiap bulannya bisa mengantongi paling tidak Rp10–15 juta
“Tapi itu hanya angka.Terpenting dari saya adalah dedikasi untuk terus mencintai budaya negeri dan komitmen terus membantu banyak orang,dan itu menjadi sesuatu yang tak ternilai harganya,”kata Yuza.
Sejak diakui UNESCO sebagai salah satu warisan kebudayaan dunia pada September 2009 silam, penggunaan batik pun semakin digemari masyarakat.Tidak saja di hari tertentu atau acara undangan saja, tapi juga sudah lazim dipakai di hari-hari biasa atau ke kantor. Adalah Yusak Maulana yang menjadi salah satu pegiat fashion (mode) motif batik. Usianya yang masih muda tidak menghalanginya berkarya. Beragam model batik hasil olahan tangannya mendapat tempat di hati konsumen.
Bagi pria kelahiran Kudus, 3 Mei 1985 ini, usia memang bukan halangan untuk berkarya. Upaya yang dilakukannya pun tidak sia-sia. Produk-produknya yang dulu hanya dikenal di lingkungan tempat tinggalnya di Kudus, Jawa Tengah, kini mampu menembus pusat perbelanjaan papan atas di kawasan utara Jakarta. Yuza, demikian panggilan akrab Yusak Maulana, punya cerita perihal kesukaannya pada duniamode.Diamengakui,sejak kecil memang suka memperhatikan sang ibunda tercintanya menjahit pakaiannya sendiri.
Rupanya, setiap detil busana sang ibu diperhatikannya termasuk saat memilih model,kain, hingga merawat kain-kain batik peninggalan neneknya. Jalan bagi Yuza terjun ke desainer profesional semakin terbuka ketika pada April 2011 lalu dia mendapat undangan product screening untuk mengikuti Bangkok International Fashion Fair (BIFF) untuk kedua kalinya.
Undangan tersebut diperoleh karena seringnya dia mengikuti berbagai pameran, baik di tempat asalnya maupun di Jakarta. Di antara pameran besar yang turut diikutinya adalah Inacraft. Di sinilah Yuza bertemu sejumlah desainer senior Ibu Kota. Dari ajang inilah dia ditawari untuk bekerja sama memajang produk-produknya di concept store bernama Koloni atau Toko Kreasi Anak Indonesia di Mall of Indonesia,Jakarta Utara.
Yuza lalu membawa merek yang dia bangun yakni Kultura di butik tersebut. “Di tempat ini, Cultura bersama-sama merek busana lain saling melengkapi satu sama lain dengan model dan corak fashion yang berbeda,” kata Yuza kepada SINDO beberapa waktu lalu. Sebelum membuat Cultura, yang fokus pada jenis busana batik bermotif khusus Kudus, Yuza pernah mencoba memproduksi baju-baju anak dari kain perca batik. Hasil karyanya ternyata mendapat perhatian pembeli asing ketika berpameran.
Hal inilah yang membuatnya semakin percaya diri kendati masih belum berani memasarkan produknya ke luar negeri karena kapasitas produksi dan biayanya yang dianggap masih terlalu tinggi. Butik Koloni sendiri adalah toko busana yang di dalamnya terdapat produk hasil karya desainer-desainer muda dari sejumlah daerah. Busana yang dijual pun tidak hanya produk pakaian jadi,namun juga aksesori pendukung penampilan lainnya seperti sepatu, tas dan pernak-pernik lain.
“Koloni dibuat untuk mereka yang punya idealisme, ide orisinal dan benar-benar asli keluar dari anak bangsa,” ungkap sarjana lulusan Universitas Trisakti itu. Dia menambahkan, kebanyakan dari vendor yang masuk di Koloni adalah pemain pemula yang sebelumnya hanya memiliki toko di dunia maya (online shopping). Mereka akhirnya mau terlibat di Koloni karena banyak pelanggan yang menanyakan toko “riil”-nya.
Yuza dan rekan-rekannya di Koloni mengakui tidak keberatan dengan skema bagi hasil yang ditetapkan pengelola butik tersebut. Dengan porsi 30:70, angka tersebut dirasa tidak begitu memberatkan bagi tenant karena pertimbangan mereka tidak mengeluarkan modal besar untuk melakukan promosi karena semuanya terintegrasi dalam satu toko. “Selain pertimbangan itu, yang membuat saya yakin adalah suasana di Koloni yang sangat Indonesia. Dengan dekorasi dari bambu-bambu menciptakan keselarasan dengan konsep utamanya yang mengangkatbudaya bangsamelaluikarya cipta anak bangsa,”ujarnya.
Selain itu, Yuza menyukai konsep Koloni yang membebaskan para vendor termasuk dirinya dalam menuangkan ide. Alhasil,setiapmerekyangadadi butik tersebut muncul dengan ciri khas masing-masing. Terkait masalah produksi, Yuza saat ini mengandalkan lima penjahit tetap yang ada di Kudus dan Jakarta.
Khusus di Kudus, tetap dipertahankan karena dekat dengan sumber bahan baku dan tenaga kerja sambilan yang kebanyakan adalah pada tetangganya. “Mereka biasanya mengerjakan pesanan dari saya di rumah- masing-masing sehingga lebih efisien,”ungkap Yuza yang lebih banyak memproduksi pakaian jenis ready to wear ini.
Dalam memproduksi batiknya, Yusak Maulana atau Yuza sengaja menyiapkan jenis busana ready to wear atau pakaian siap jadi.Namun untuk menjaga keunikannya, Yuza membuat baju-baju Cultura hanya satu model untuk masing-masing ukuran S,M, L,dan XL.
Cara ini dipakai Yuza untuk menjaga ekslusivitas Cultura bagi para penggunanya. Selain itu, dia memberi sentuhan khas Kudus sehingga busana yang diproduksinya beda dengan yang lain.Adapun bahan yang digunakan dengan memadukan kain tradisional asli Indonesia,seperti batik atau tenun dengan bahan motif polos, garis-garis, kotak-kotak dari jenis katun, sifon, atau sutera. Sementara jenis batiknya, Yuza konsisten hanya menggunakan batik tulis atau batik cap.
“Saya menghindari pemakaian batik printingatau sablon buatan pabrik.Ini untuk mengangkat perajin-perajin batik asli,”katanya. Demikian pula untuk kain tenunnya,Yuza hanya menggunakan tenun tradisional yang asli ditenun secara manual,bukan kain yang di-print dengan motif tenun. Dengan begitu, Cultura mempunyai karakter tersendiri dalam menyisir target pasar yang spesifik antara usia 20–30 tahun, yang senang menunjukkan keindonesiaan melalui busana.
Meski terasa kesan kulturnya,guratan desain Yuza tetap dikemas dalam bentuk lebih modern sesuai perkembangan mode zaman sekarang. “Sebenarnya saya mulai dari 2008 ketika mendapat gelar sarjana teknologi industri. Saya pulang kampung ke Kudus dan mendapatkan dukungan secara moral adik saya satu-satunya untuk melanjutkan usaha dengan modal nekat,”kenangnya.
Dalam setiap rancangan, Yuza membuat konsep dengan mengombinasikan motif bordir khas Kudus dan motif-motif bordir kuno yang diadopsi dari kebaya Melayu dan motif etnis Tionghoa. Dengan bertambahnya pengetahuan dan kreativitasnya,dari sinilah dia mulai menikmati perjalanan eksplorasi berbisnis batik yang lalu dijualnya pada kisaran harga Rp80 ribu–500 ribu per helai.
Untuk terus mengembangkan bisnis pakaian batiknya,Cultura terus melakukan promosi mulai bazar dari mal ke mal,menjadi sponsor kelompok musik,hingga mengirimkan pesan broadcastdi media sosial. Upaya tersebut berhasil mendukung pendapatan Yuza,yang setiap bulannya bisa mengantongi paling tidak Rp10–15 juta
“Tapi itu hanya angka.Terpenting dari saya adalah dedikasi untuk terus mencintai budaya negeri dan komitmen terus membantu banyak orang,dan itu menjadi sesuatu yang tak ternilai harganya,”kata Yuza.
(and)
Lihat Juga :