Harga kedelai turun jadi Rp7.600/Kg
Minggu, 29 Juli 2012 - 13:47 WIB
Harga kedelai turun jadi Rp7.600/Kg
A
A
A
Sindonews.com – Kebijakan pembebasan bea masuk impor kedelai diyakini bisa menekan harga kedelai. Keputusan pembebasan bea masuk diprediksi menurunkan harga kedelai menjadi Rp7.600 per kilogram.
Wakil Menteri Pertanian, Rusman Heriawan, mengungkapkan, harga kedelai saat ini sekitar Rp8.000 per kilogram sehingga menyebabkan meningkatnya harga jual dan memberatkan masyarakat pembeli, khususnya kalangan bawah.
“Walau demikian, estimasi harga kedelai menjadi Rp7.600 per kilogram di tingkat pedagang tempe tahu masih kategori tinggi.Khususnya di Jatim, karena mayoritas mereka biasa beli dengan harga antara Rp5.000-Rp6.000 per kilogram,” ujarnya, ditemui saat Panen Raya Kedelai di Desa Pager Ngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, kemarin.
Menurut dia, secara umum, penurunan bea masuk kedelai dari sebelumnya 5 persen menjadi nol persen dan diberlakukan per awal Agustus mendatang seharusnya bisa disikapi dengan bijak.”Pembebasan bea masuk kedelai jadi nol persen bukan berarti pemerintah kalah dengan tekanan harga kedelai. Tetapi bea masuk kedelai ini sifatnya jangka pendek,”katanya. Oleh karena itu, kata Wamen, pihaknya akan terus memantau pemberlakuan kebijakan pembebasan bea masuk kedelai apakah berdampak pada pemulihan harga tahu tempe atau tidak.
“Di sisi lain,kami juga tidak membebaskan keran impor kedelai ke Indonesia mengingat produksi kedelai nasional tidak banyak,”katanya. Sementara, sebut dia, tujuan impor kedelai ini guna menjaga agar stok nasional tetap terpenuhi sedangkan jika dipenuhi dari lokal belum tentu petani bisa menyediakannya.” Apalagi, stok kedelai petani lokal perlu menunggu musim.Ya kalau sudah musimnya bisa gampang men-dapatkan kedelai tetapi pas tidak musim, susah,” katanya.
Menyikapi bea masuk nol persen untuk kedelai impor, Ketua Umum Kelompok Tani Nelayan Andalan Nasional/KTNA, Winarno Tohir,meminta,agar pemberlakuan bea masuk kedelai impor tidak terlalu lama atau maksimal tiga bulan.”Yang penting sekarang adalah dibentuknya Harga Pembelian Pemerintah untuk kedelai. Sementara, bagi pedagang tahu tempe idealnya mereka tidak harus demo karena bisa menjual harga lebih tinggi,”katanya.
Pengamat ekonomi menilai bahwa kebijakan untuk pembebasan bea masuk kedelai, memperbanyak impor serta memberikan subsidi harga bukan merupakan solusi tepat mengatasi masalah krisis bahan baku tahu dan tempe. “Bukan solusi tepat, khususnya dalam jangka panjang untuk mengatasi permasalahan kesulitan perajin tempe dan tahu dalam negeri,” kata pengamat ekonomi Sumut Jhon Tafbu Ritonga, di Medan.
Dia menambahkan, “Justru itu akan membebani pemerintah sendiri karena selain tetap sangat tergantung dengan impor juga mengurangi pendapatan dari BM (bea masuk) hingga beban subsidi. Harusnya yang dilaku-kan adalah mempercepat swasembada dan menjaga harga jual petani,” imbuh. Gubernur Jatim Soekarwo menyarankan, pemerintah pusat agar memproduksi tanaman kedelai di wilayah luar Jawa Timur (Jatim) seperti Papua.
“Daerah tersebut sangat berpotensi untuk ditanami tanaman kedelai karena wilayahnya sangat bagus untuk memenuhi kebutuhan kedelai yang harganya cenderung meningkat akhir-akhir ini,” kata Gubernur Jawa Timur, Soekarwo saat memberikan sembako di Krian,Sidoarjo. Menurut dia,daerah seperti Papua memiliki kelembaban yang sangat bagus untuk kedelai. “Sementara di Jawa Timur sendiri untuk mendapatkan air para petani kedelai harus mengandalkan pompa air untuk memenuhi pasokan air yang ada,”katanya.
Ia mengatakan, saat ini petani di Jawa Timur lebih cenderung senang menanam komoditas lain seperti padi dan juga tebu karena memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi dibandingkan dengan kedelai.“Kalau di Jawa Timur difokuskan untuk menanam kedelai sangat susah, karena petani sendiri akan lebih memilih tanaman yang lebih produktif seperti padi dan juga tebu,”katanya.
M Sholikin,salah satu perajin tempe di kawasan Tanah Merah Surabaya,berharap kebijakan pemerintah dapat menurunkan bahan baku tempe. ”Yang penting kami dilindungi usaha kami,”katanya.Menurut Ainurrofiq, pengusaha tempe lainnya, kondisi pengusaha tempe sudah tercekik. ”Sebagian dari kami sudah banyak yang beralih profesi jadi kuli di tempat lain,”tandasnya.
Wakil Menteri Pertanian, Rusman Heriawan, mengungkapkan, harga kedelai saat ini sekitar Rp8.000 per kilogram sehingga menyebabkan meningkatnya harga jual dan memberatkan masyarakat pembeli, khususnya kalangan bawah.
“Walau demikian, estimasi harga kedelai menjadi Rp7.600 per kilogram di tingkat pedagang tempe tahu masih kategori tinggi.Khususnya di Jatim, karena mayoritas mereka biasa beli dengan harga antara Rp5.000-Rp6.000 per kilogram,” ujarnya, ditemui saat Panen Raya Kedelai di Desa Pager Ngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, kemarin.
Menurut dia, secara umum, penurunan bea masuk kedelai dari sebelumnya 5 persen menjadi nol persen dan diberlakukan per awal Agustus mendatang seharusnya bisa disikapi dengan bijak.”Pembebasan bea masuk kedelai jadi nol persen bukan berarti pemerintah kalah dengan tekanan harga kedelai. Tetapi bea masuk kedelai ini sifatnya jangka pendek,”katanya. Oleh karena itu, kata Wamen, pihaknya akan terus memantau pemberlakuan kebijakan pembebasan bea masuk kedelai apakah berdampak pada pemulihan harga tahu tempe atau tidak.
“Di sisi lain,kami juga tidak membebaskan keran impor kedelai ke Indonesia mengingat produksi kedelai nasional tidak banyak,”katanya. Sementara, sebut dia, tujuan impor kedelai ini guna menjaga agar stok nasional tetap terpenuhi sedangkan jika dipenuhi dari lokal belum tentu petani bisa menyediakannya.” Apalagi, stok kedelai petani lokal perlu menunggu musim.Ya kalau sudah musimnya bisa gampang men-dapatkan kedelai tetapi pas tidak musim, susah,” katanya.
Menyikapi bea masuk nol persen untuk kedelai impor, Ketua Umum Kelompok Tani Nelayan Andalan Nasional/KTNA, Winarno Tohir,meminta,agar pemberlakuan bea masuk kedelai impor tidak terlalu lama atau maksimal tiga bulan.”Yang penting sekarang adalah dibentuknya Harga Pembelian Pemerintah untuk kedelai. Sementara, bagi pedagang tahu tempe idealnya mereka tidak harus demo karena bisa menjual harga lebih tinggi,”katanya.
Pengamat ekonomi menilai bahwa kebijakan untuk pembebasan bea masuk kedelai, memperbanyak impor serta memberikan subsidi harga bukan merupakan solusi tepat mengatasi masalah krisis bahan baku tahu dan tempe. “Bukan solusi tepat, khususnya dalam jangka panjang untuk mengatasi permasalahan kesulitan perajin tempe dan tahu dalam negeri,” kata pengamat ekonomi Sumut Jhon Tafbu Ritonga, di Medan.
Dia menambahkan, “Justru itu akan membebani pemerintah sendiri karena selain tetap sangat tergantung dengan impor juga mengurangi pendapatan dari BM (bea masuk) hingga beban subsidi. Harusnya yang dilaku-kan adalah mempercepat swasembada dan menjaga harga jual petani,” imbuh. Gubernur Jatim Soekarwo menyarankan, pemerintah pusat agar memproduksi tanaman kedelai di wilayah luar Jawa Timur (Jatim) seperti Papua.
“Daerah tersebut sangat berpotensi untuk ditanami tanaman kedelai karena wilayahnya sangat bagus untuk memenuhi kebutuhan kedelai yang harganya cenderung meningkat akhir-akhir ini,” kata Gubernur Jawa Timur, Soekarwo saat memberikan sembako di Krian,Sidoarjo. Menurut dia,daerah seperti Papua memiliki kelembaban yang sangat bagus untuk kedelai. “Sementara di Jawa Timur sendiri untuk mendapatkan air para petani kedelai harus mengandalkan pompa air untuk memenuhi pasokan air yang ada,”katanya.
Ia mengatakan, saat ini petani di Jawa Timur lebih cenderung senang menanam komoditas lain seperti padi dan juga tebu karena memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi dibandingkan dengan kedelai.“Kalau di Jawa Timur difokuskan untuk menanam kedelai sangat susah, karena petani sendiri akan lebih memilih tanaman yang lebih produktif seperti padi dan juga tebu,”katanya.
M Sholikin,salah satu perajin tempe di kawasan Tanah Merah Surabaya,berharap kebijakan pemerintah dapat menurunkan bahan baku tempe. ”Yang penting kami dilindungi usaha kami,”katanya.Menurut Ainurrofiq, pengusaha tempe lainnya, kondisi pengusaha tempe sudah tercekik. ”Sebagian dari kami sudah banyak yang beralih profesi jadi kuli di tempat lain,”tandasnya.
(and)
Lihat Juga :