Di embargo, Iran justru beli minyak Suriah
Jum'at, 03 Agustus 2012 - 10:47 WIB
Di embargo, Iran justru beli minyak Suriah
A
A
A
Sindonews.com - Sanksi internasional yang dijatuhkan terhadap penjualan minyak mentah Suriah, justru tidak menyurutkan niat Iran untuk membeli minyak mentah asal negeri yang sedang bergejolak tersebut. Bahkan, Iran diberitakan menjadi salah satu pembeli utama minyak asal Suriah tersebut.
Seperti diberitakan dalam Haaretz, Jumat (3/8/2012), Pemerintah Iran telah melakukan transaksi pembelian hasil produksi minyak pemerintah Suriah sebanyak dua kapal dalam jumlah kecil sepanjang Juli lalu. Meskipun Pemerintah Iran sendiri kesulitan menjual minyak hasil produksi dalam negeri mereka di tengah tekanan embargo minyak barat.
Sejak April lalu, setidaknya tercatat kapal tanker Iran telah tiga kali bolak-balik ke Suriah. Hal ini membantu Presiden Suriah, Bashar al-Assad, menghindari sanksi internasional di tengah perang di domestiknya.
Sementara itu, Iran juga kesulitan memasarkan minyak hasil produksinya. Pasalnya kapal tanker yang mengangkut minyak hasil produksi Iran tidak lagi mendapatkan asuransi keamanan. Akibatnya tidak ada jaminan keamanan saat minyak dikirimkan.
Meski demikian, China, India, Jepang, dan Turki, tetap menjadi pembeli utama minyak Iran setelah berhasil mengatasi hambatan keamanan pengiriman minyak. Selanjutnya, akan menyusul pemerintah Korea Selatan akan membeli minyak Iran, sekira bulan depan.
Tour MT dan MT Amin, dua tanker di bawah bendera Sierra Leone milik Republik Islam Iran Pelayaran (Islamic Republic of Iran Shipping Lines, IRISL), yang berada di bawah sanksi PBB pada Juli telah mengangkut sekitar 140 ribu ton minyak mentah pelabuhan Suriah Tartous pada Juli lalu.
Berdasarkan pelacakan, kapal ini sedang bergerak melalui Terusan Suez dan menuju ke Teluk Oman, sementara kapal Amin masih berada di Mediterania.
Masih belum jelas kemana minyak hasil produksi Suriah ini akan didistribusikan. Nampaknya Asia akan menjadi tujuan utama penjualan minyak ini.
Di tengah sanksi yang dijatuhkan barat, ekspor minyak Suriah kini sangat bergantung dengan Pemerintah Iran. Uni Eropa dan Amerika Serikat tahun lalu menjatuhkan sanksi minyak dengan memotong impor produk minyak agar pemerintah Assad tertekan dengan penurunan pendapatan dari hasil penjualan minyak.
Seperti diberitakan dalam Haaretz, Jumat (3/8/2012), Pemerintah Iran telah melakukan transaksi pembelian hasil produksi minyak pemerintah Suriah sebanyak dua kapal dalam jumlah kecil sepanjang Juli lalu. Meskipun Pemerintah Iran sendiri kesulitan menjual minyak hasil produksi dalam negeri mereka di tengah tekanan embargo minyak barat.
Sejak April lalu, setidaknya tercatat kapal tanker Iran telah tiga kali bolak-balik ke Suriah. Hal ini membantu Presiden Suriah, Bashar al-Assad, menghindari sanksi internasional di tengah perang di domestiknya.
Sementara itu, Iran juga kesulitan memasarkan minyak hasil produksinya. Pasalnya kapal tanker yang mengangkut minyak hasil produksi Iran tidak lagi mendapatkan asuransi keamanan. Akibatnya tidak ada jaminan keamanan saat minyak dikirimkan.
Meski demikian, China, India, Jepang, dan Turki, tetap menjadi pembeli utama minyak Iran setelah berhasil mengatasi hambatan keamanan pengiriman minyak. Selanjutnya, akan menyusul pemerintah Korea Selatan akan membeli minyak Iran, sekira bulan depan.
Tour MT dan MT Amin, dua tanker di bawah bendera Sierra Leone milik Republik Islam Iran Pelayaran (Islamic Republic of Iran Shipping Lines, IRISL), yang berada di bawah sanksi PBB pada Juli telah mengangkut sekitar 140 ribu ton minyak mentah pelabuhan Suriah Tartous pada Juli lalu.
Berdasarkan pelacakan, kapal ini sedang bergerak melalui Terusan Suez dan menuju ke Teluk Oman, sementara kapal Amin masih berada di Mediterania.
Masih belum jelas kemana minyak hasil produksi Suriah ini akan didistribusikan. Nampaknya Asia akan menjadi tujuan utama penjualan minyak ini.
Di tengah sanksi yang dijatuhkan barat, ekspor minyak Suriah kini sangat bergantung dengan Pemerintah Iran. Uni Eropa dan Amerika Serikat tahun lalu menjatuhkan sanksi minyak dengan memotong impor produk minyak agar pemerintah Assad tertekan dengan penurunan pendapatan dari hasil penjualan minyak.
(and)
Lihat Juga :