Harga minyak mentah dunia bakal terus meroket
Jum'at, 03 Agustus 2012 - 11:26 WIB
Harga minyak mentah dunia bakal terus meroket
A
A
A
Sindonews.com - Situasi penuh gejolak di Timur Tengah khususnya konflik berkepanjangan akibat embargo minyak Iran diperkirakan akan memperkuat harga minyak mentah dunia di pasar internasional sepanjang bulan Agustus ini.
Selain itu, faktor lain yang juga memperkuat harga minyak adalah upaya lembaga-lembaga internasional untuk menghindarkan dunia dari resesi melalui stimulus ekonomi dan program bantuan dana serta bail-out bila diperlukan.
"Harga rata-rata minyak mentah Indonesia selama bulan Juli 2012 berdasarkan perhitungan Formula Indonesian Crude Price (ICP) mencapai USD102,88 per barel, naik USD3,80 per barel dari bulan Juni 2012 sebesar USD99,08 per barel," ungkap Tim Harga Minyak Indonesia sebagaimana dikutip dari situs resmi Ditjen Migas, Jumat (3/8/2012).
Faktor lainnya yang juga tengah diwaspadai adalah konflik terbuka antara pemerintah berkuasa pihak opisisi di Suriah, turut meningkatkan kekhawatiran pasar atas stabilitas politik di Timur Tengah.
Selain itu, turunnya produksi minyak dari negara-negara OPEC antara 0,07-0,14 juta barel per hari pada bulan Juni 2012 dibandingkan bulan sebelumnya berdasarkan publikasi OPEC, IEA (International Energy Agency), CGES (Centre for Global Energy Studies) dan Reuters Juli 2012 akibat penurunan produksi di Iran, Angola, Qatar dan Libya. CGES memperkirakan produksi Iran saat ini hanya 2,9 juta barel per hari atau merupakan level produksi terendah sejak akhir tahun 1980-an.
Naiknya harga minyak internasional juga disebabkan turunnya produksi minyak dari negara-negara non-OPEC sebesar 0,40 juta barel per hari pada bulan Juni 2012 dibandingkan bulan sebelumnya berdasarkan publikasi IEA akibat penurunan produksi di AS, Meksiko, Inggris, Norwegia, Rusia, China, Malaysia, Indonesia, Argentina dan Yaman. Produksi minyak Norwegia diperkirakan turun hingga 13 persen akibat pemogokan kerja.
Penyebab lainnya, respon positif pasar atas langkah-langkah penanggulangan krisis dan kondisi indikator ekonomi yaitu sejumlah stimulus ekonomi yang akan diberikan oleh Bank Sentral AS, Eropa dan China guna menopang perekonomian yang lesu berupa kebijakan pelonggaran moneter tahap 3 di AS, pemotongan bunga oleh Bank Central Eropa dan penurunan rasio cadangan bank di China. Membaiknya pasar perumahan AS dan pertumbuhan GDP Triwulan 2 di AS yang melebihi ekspektasi pasar.
"Stok minyak mentah komersial AS di akhir bulan Juli 2012 mengalami penurunan sebesar 2,8 juta barel dibandingkan stok bulan sebelumnya, juga memperkuat harga minyak di pasar internasional," tandasnya.
Untuk kawasan Asia Pasifik, peningkatan harga minyak juga dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan Jepang akibat tingginya permintaan produk minyak khususnya jenis light dan middle distillates serta belum beroperasinya beberapa pembangkit tenaga nuklir serta peningkatan penggunaan bahan bakar komersial di India, sejalan dengan program peningkatan infrastruktur yang digalakkan pemerintahnya.
Meski diprediksi menguat, namun sejumlah faktor lain diperkirakan juga dapat melemahkan harga minyak selama Agustus adalah kondisi ekonomi sejumlah negara Eropa yang buruk dan diperkirakan memerlukan waktu untuk recovery serta produksi minyak Saudi Arabia yang meningkat dan dipertahankan di atas 10 juta barel per hari.
Selain itu, faktor lain yang juga memperkuat harga minyak adalah upaya lembaga-lembaga internasional untuk menghindarkan dunia dari resesi melalui stimulus ekonomi dan program bantuan dana serta bail-out bila diperlukan.
"Harga rata-rata minyak mentah Indonesia selama bulan Juli 2012 berdasarkan perhitungan Formula Indonesian Crude Price (ICP) mencapai USD102,88 per barel, naik USD3,80 per barel dari bulan Juni 2012 sebesar USD99,08 per barel," ungkap Tim Harga Minyak Indonesia sebagaimana dikutip dari situs resmi Ditjen Migas, Jumat (3/8/2012).
Faktor lainnya yang juga tengah diwaspadai adalah konflik terbuka antara pemerintah berkuasa pihak opisisi di Suriah, turut meningkatkan kekhawatiran pasar atas stabilitas politik di Timur Tengah.
Selain itu, turunnya produksi minyak dari negara-negara OPEC antara 0,07-0,14 juta barel per hari pada bulan Juni 2012 dibandingkan bulan sebelumnya berdasarkan publikasi OPEC, IEA (International Energy Agency), CGES (Centre for Global Energy Studies) dan Reuters Juli 2012 akibat penurunan produksi di Iran, Angola, Qatar dan Libya. CGES memperkirakan produksi Iran saat ini hanya 2,9 juta barel per hari atau merupakan level produksi terendah sejak akhir tahun 1980-an.
Naiknya harga minyak internasional juga disebabkan turunnya produksi minyak dari negara-negara non-OPEC sebesar 0,40 juta barel per hari pada bulan Juni 2012 dibandingkan bulan sebelumnya berdasarkan publikasi IEA akibat penurunan produksi di AS, Meksiko, Inggris, Norwegia, Rusia, China, Malaysia, Indonesia, Argentina dan Yaman. Produksi minyak Norwegia diperkirakan turun hingga 13 persen akibat pemogokan kerja.
Penyebab lainnya, respon positif pasar atas langkah-langkah penanggulangan krisis dan kondisi indikator ekonomi yaitu sejumlah stimulus ekonomi yang akan diberikan oleh Bank Sentral AS, Eropa dan China guna menopang perekonomian yang lesu berupa kebijakan pelonggaran moneter tahap 3 di AS, pemotongan bunga oleh Bank Central Eropa dan penurunan rasio cadangan bank di China. Membaiknya pasar perumahan AS dan pertumbuhan GDP Triwulan 2 di AS yang melebihi ekspektasi pasar.
"Stok minyak mentah komersial AS di akhir bulan Juli 2012 mengalami penurunan sebesar 2,8 juta barel dibandingkan stok bulan sebelumnya, juga memperkuat harga minyak di pasar internasional," tandasnya.
Untuk kawasan Asia Pasifik, peningkatan harga minyak juga dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan Jepang akibat tingginya permintaan produk minyak khususnya jenis light dan middle distillates serta belum beroperasinya beberapa pembangkit tenaga nuklir serta peningkatan penggunaan bahan bakar komersial di India, sejalan dengan program peningkatan infrastruktur yang digalakkan pemerintahnya.
Meski diprediksi menguat, namun sejumlah faktor lain diperkirakan juga dapat melemahkan harga minyak selama Agustus adalah kondisi ekonomi sejumlah negara Eropa yang buruk dan diperkirakan memerlukan waktu untuk recovery serta produksi minyak Saudi Arabia yang meningkat dan dipertahankan di atas 10 juta barel per hari.
(and)
Lihat Juga :