Pertumbuhan ekspor Jabar lemah
Senin, 06 Agustus 2012 - 17:30 WIB
Pertumbuhan ekspor Jabar lemah
A
A
A
Sindonews.com - Pertumbuhan ekspor Jawa Barat (Jabar) pada triwulan II/2012 dinilai masih cukup lamban. Pertumbuhannya belum sesuai harapan untuk mengejar target pertumbuhan 6,25 persen sampai akhir tahun 2012.
Kepala Bidang Pengolahan Integrasi Produk Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, Unggul Sampurna mengatakan, pertumbuhan ekspor Jabar ke sejumlah Negara di dunia masih lemah. Neraca pertumbuhannya, masih sedikit lebih rendah dari pencapaian pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu.
“Pada triwulan II/2012, pertumbuhan ekspor Jabar baru mencapai 0,32 persen. Posisi ini
masih sangat lemah, apabila Jabar mengandalkan ekspor sebagai penggerak ekonomi rakyat,” kata dia, Senin (6/8/2012).
Diakui dia, pertumbuhan ekspor yang belum sesuai harapan, salah satunya disebabkan perlambatan ekonomi dunia yang dimulai oleh krisis ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa.
Sementara, target ekspor ke sejumlah Negara lainnya, seperti Timur Tengah dan Afrika masih memerlukan proses. Ekspor ke kedua kawasan tersebut belum memberikan andil signifikan terhadap ekspor Jabar. Penyebab lainnya, lanjut Unggul yaitu, orienatasi pemasaran produk dalam negeri untuk pemenuhan kebutuhan domestik.
Kendati demikian, BPS optimistis, Jabar mampu mengejar target pertumbuhan 6,25 persen sampai akhir tahun 2012. Biasanya, semester III dan IV menjadi puncak ekspor dalam negeri. Indikasi tersebut terlihat pada angka stok atau inventori yang mencapai 5,47 persen.
Dia memprediksi, stok produksi ekspor itu akan dikeluarkan pada triwulan III, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi Jabar pada triwulan tersebut.
Dia optimististis, lemahnya posisi ekspor Jabar justru akan memperbesar posisi pemasaran di dalam negeri. Apalagi, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi cukup positif selama beberapa dekade terakhir.
Pertumbuhan ekonomi Jabar pada triwulan II/2012 tumbuh sebesar 2,60 persen. Konsumsi rumah tangga tercatat mengalami kenaikan sebesar 1,08 persen dan konsumsi pemerintah tumbuh 24,94 persen.
“Pada triwulan II/2012, impor Jabar meningkat dengan dominasi bahan baku industri. Artinya, industri akan mulai mengolah bahan baku tersebut di dalam negeri. Kondisi ini otomatis akan menggerakkan ekonomi masyarakat dan menyerap tenaga kerja,” beber dia.
Apalagi, dari sisi lapangan usaha, Jabar mengalami pertumbuhan hampir di semua sektor kecuali pertanian yang tumbuh negatif minus 1,70 persen.
Menurut dia, tiga sektor yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Jabar yaitu sektor industri pengolahan 35,86 persen, perdagangan hotel dan restoran 23,37 persen, dan sektor pertanian 11,91 persen.
Kepala Seksi Neraca Konsumsi BPS Jabar Muhdar Saleh memprediksi nilai Indeks Tendensi Konsumen (ITK) pada triwulan III mencapai 112,57 poin atau lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.
"Pada triwulan III, masyarakat akan melakukan pembelian barang-barang tahan lama seperti televisi, emas, HP, lemari es, mesin cuci, mebel dan lainnya," pungkasnya.
Menurut dia, ITK pada triwulan II/2012 sebesar 108,98 poin. Penyokong terbesar pada ITK periode tersebut yaitu pendapatan rumah tangga dikaitkan dengan konsumsi makanan. Terutama pada konsumsi komoditas rokok yaitu sebesar 113,90 poin.
Kepala Bidang Pengolahan Integrasi Produk Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, Unggul Sampurna mengatakan, pertumbuhan ekspor Jabar ke sejumlah Negara di dunia masih lemah. Neraca pertumbuhannya, masih sedikit lebih rendah dari pencapaian pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu.
“Pada triwulan II/2012, pertumbuhan ekspor Jabar baru mencapai 0,32 persen. Posisi ini
masih sangat lemah, apabila Jabar mengandalkan ekspor sebagai penggerak ekonomi rakyat,” kata dia, Senin (6/8/2012).
Diakui dia, pertumbuhan ekspor yang belum sesuai harapan, salah satunya disebabkan perlambatan ekonomi dunia yang dimulai oleh krisis ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa.
Sementara, target ekspor ke sejumlah Negara lainnya, seperti Timur Tengah dan Afrika masih memerlukan proses. Ekspor ke kedua kawasan tersebut belum memberikan andil signifikan terhadap ekspor Jabar. Penyebab lainnya, lanjut Unggul yaitu, orienatasi pemasaran produk dalam negeri untuk pemenuhan kebutuhan domestik.
Kendati demikian, BPS optimistis, Jabar mampu mengejar target pertumbuhan 6,25 persen sampai akhir tahun 2012. Biasanya, semester III dan IV menjadi puncak ekspor dalam negeri. Indikasi tersebut terlihat pada angka stok atau inventori yang mencapai 5,47 persen.
Dia memprediksi, stok produksi ekspor itu akan dikeluarkan pada triwulan III, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi Jabar pada triwulan tersebut.
Dia optimististis, lemahnya posisi ekspor Jabar justru akan memperbesar posisi pemasaran di dalam negeri. Apalagi, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi cukup positif selama beberapa dekade terakhir.
Pertumbuhan ekonomi Jabar pada triwulan II/2012 tumbuh sebesar 2,60 persen. Konsumsi rumah tangga tercatat mengalami kenaikan sebesar 1,08 persen dan konsumsi pemerintah tumbuh 24,94 persen.
“Pada triwulan II/2012, impor Jabar meningkat dengan dominasi bahan baku industri. Artinya, industri akan mulai mengolah bahan baku tersebut di dalam negeri. Kondisi ini otomatis akan menggerakkan ekonomi masyarakat dan menyerap tenaga kerja,” beber dia.
Apalagi, dari sisi lapangan usaha, Jabar mengalami pertumbuhan hampir di semua sektor kecuali pertanian yang tumbuh negatif minus 1,70 persen.
Menurut dia, tiga sektor yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Jabar yaitu sektor industri pengolahan 35,86 persen, perdagangan hotel dan restoran 23,37 persen, dan sektor pertanian 11,91 persen.
Kepala Seksi Neraca Konsumsi BPS Jabar Muhdar Saleh memprediksi nilai Indeks Tendensi Konsumen (ITK) pada triwulan III mencapai 112,57 poin atau lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.
"Pada triwulan III, masyarakat akan melakukan pembelian barang-barang tahan lama seperti televisi, emas, HP, lemari es, mesin cuci, mebel dan lainnya," pungkasnya.
Menurut dia, ITK pada triwulan II/2012 sebesar 108,98 poin. Penyokong terbesar pada ITK periode tersebut yaitu pendapatan rumah tangga dikaitkan dengan konsumsi makanan. Terutama pada konsumsi komoditas rokok yaitu sebesar 113,90 poin.
(gpr)
Lihat Juga :