Mandiri pinjami XL Rp25 T
Selasa, 07 Agustus 2012 - 09:43 WIB
Mandiri pinjami XL Rp25 T
A
A
A
Sindonews.com - PT XL Axiata Tbk (EXCL) memperoleh fasilitas pinjaman sebesar Rp2,5 triliun dari Bank Mandiri. Perjanjian kredit perusahaan telekomunikasi tersebut telah dilakukan pada akhir pekan lalu.
Presiden Direktur EXCL Hasnul Suhaimi mengatakan, bunga dari pinjaman tersebut mengikuti pasar.”Fasilitas pinjaman dari bank Mandiri akan digunakan perseroan untuk belanja modal (capital expenditure/ capex) dan membayar kembali (refinancing) utang perseroan yang akan jatuh tempo,” katanya di Jakarta kemarin.
Dia menuturkan, dari fasilitas pinjaman tersebut, perseroan mencairkannya sebagian pada pekan ini. Sedangkan, sisanya akan dicairkan pada kuartal III tahun ini.Porsi pinjaman yang dialokasikan untuk belanja modal dan refinancing utang belum ditentukan besarannya. ”Untuk porsi capex dan refinancing akan ditentukan kemudian,”imbuhnya.
Sekretaris Perusahaan EXCL Murni Nurdini menuturkan,tenor dari fasilitas kredit memiliki jangka waktu maksimal lima tahun sejak tanggal perjanjian kredit. Batas waktu penarikannya maksimal 12 bulan setelah penandatanganan perjanjian kredit pada 3 Agustus 2012.
Perseroan per 30 Juni 2012 mencatat total utang sebesar Rp12,8 triliun, dengan utang yang jatuh tempo senilai Rp3,8 triliun. Dari utang Rp3,8 triliun, sekitar Rp1,5 triliun merupakan utang obligasi dan sisanya Rp2,3 triliun dari perbankan.
Sementara, jumlah utang jatuh tempo perseroan per akhir semester I tahun ini Rp2,06 triliun, sehingga sisa utang perseroan yang jatuh tempo pada paruh kedua tahun ini senilai Rp1,74 triliun. Murni menambahkan, sisa utang jatuh tempo pada semester II/2012 senilai Rp620 miliar akan jatuh tempo pada kuartal III/2012.Sedangkan,Rp1,12 triliun jatuh tempo pada kuartal IV tahun ini.
Sementara,perseroan pada semester I tahun ini telah mencairkanpinjamanbarusebesar Rp4 triliun dari PT BCA dan BTMU serta melunasiutang Rp2,1 triliun yang jatuh tempo pada semester I/2012. Adapun, total utang perseroan meningkat dariRp10triliunmenjadiRp12,7 triliun pada semester I tahun ini. Hal ini menyebabkan naiknya rasio utang bersih (EBITDA) dari 1.0x pada semester I/2011 menjadi 1.2x pada semester I/2012. Adapun, belanja modal perseroan sebesar Rp7-8 triliun, yang sudah terserap hingga enam bulan pertama tahun ini sebesar Rp5,3 triliun.
Seluruh dana belanja modal yang terserap tersebut berasal dari kas internal. Dana belanja modal tahun ini dialokasikan untuk pengembangan jaringan layanan data 3G mencapai 60 persen atau setara Rp4,2-4,8 triliun dan sisanya untuk layanan 2G. Analis Capital Price Deddy Ertanto berpendapat, pinjaman perbankan yang baru saja diperoleh perusahaan telekomunikasi berkode EXCL tersebut akan memberi imbas positif bagi perusahaan lantaran digunakan untuk belanja modal dan refinancing utang jatuh tempo.
”Dana tersebut bisa digunakan perseroan untuk mengembangkan bisnis, seperti peningkatan teknologi maupun perluasan jaringan,”ujarnya. Kendati demikian, dia menilai, industri telekomunikasi di Tanah Air saat ini sudah mengalami titik jenuh.Guna meningkatkan keuntungan dan margin perusahaan, menurut Deddy, perusahaan telekomunikasi akan meningkatkan pengembangan pada layanan data lantaran potensi untuk layanan berbasis data masih cukup besar untuk dikembangkan.
Presiden Direktur EXCL Hasnul Suhaimi mengatakan, bunga dari pinjaman tersebut mengikuti pasar.”Fasilitas pinjaman dari bank Mandiri akan digunakan perseroan untuk belanja modal (capital expenditure/ capex) dan membayar kembali (refinancing) utang perseroan yang akan jatuh tempo,” katanya di Jakarta kemarin.
Dia menuturkan, dari fasilitas pinjaman tersebut, perseroan mencairkannya sebagian pada pekan ini. Sedangkan, sisanya akan dicairkan pada kuartal III tahun ini.Porsi pinjaman yang dialokasikan untuk belanja modal dan refinancing utang belum ditentukan besarannya. ”Untuk porsi capex dan refinancing akan ditentukan kemudian,”imbuhnya.
Sekretaris Perusahaan EXCL Murni Nurdini menuturkan,tenor dari fasilitas kredit memiliki jangka waktu maksimal lima tahun sejak tanggal perjanjian kredit. Batas waktu penarikannya maksimal 12 bulan setelah penandatanganan perjanjian kredit pada 3 Agustus 2012.
Perseroan per 30 Juni 2012 mencatat total utang sebesar Rp12,8 triliun, dengan utang yang jatuh tempo senilai Rp3,8 triliun. Dari utang Rp3,8 triliun, sekitar Rp1,5 triliun merupakan utang obligasi dan sisanya Rp2,3 triliun dari perbankan.
Sementara, jumlah utang jatuh tempo perseroan per akhir semester I tahun ini Rp2,06 triliun, sehingga sisa utang perseroan yang jatuh tempo pada paruh kedua tahun ini senilai Rp1,74 triliun. Murni menambahkan, sisa utang jatuh tempo pada semester II/2012 senilai Rp620 miliar akan jatuh tempo pada kuartal III/2012.Sedangkan,Rp1,12 triliun jatuh tempo pada kuartal IV tahun ini.
Sementara,perseroan pada semester I tahun ini telah mencairkanpinjamanbarusebesar Rp4 triliun dari PT BCA dan BTMU serta melunasiutang Rp2,1 triliun yang jatuh tempo pada semester I/2012. Adapun, total utang perseroan meningkat dariRp10triliunmenjadiRp12,7 triliun pada semester I tahun ini. Hal ini menyebabkan naiknya rasio utang bersih (EBITDA) dari 1.0x pada semester I/2011 menjadi 1.2x pada semester I/2012. Adapun, belanja modal perseroan sebesar Rp7-8 triliun, yang sudah terserap hingga enam bulan pertama tahun ini sebesar Rp5,3 triliun.
Seluruh dana belanja modal yang terserap tersebut berasal dari kas internal. Dana belanja modal tahun ini dialokasikan untuk pengembangan jaringan layanan data 3G mencapai 60 persen atau setara Rp4,2-4,8 triliun dan sisanya untuk layanan 2G. Analis Capital Price Deddy Ertanto berpendapat, pinjaman perbankan yang baru saja diperoleh perusahaan telekomunikasi berkode EXCL tersebut akan memberi imbas positif bagi perusahaan lantaran digunakan untuk belanja modal dan refinancing utang jatuh tempo.
”Dana tersebut bisa digunakan perseroan untuk mengembangkan bisnis, seperti peningkatan teknologi maupun perluasan jaringan,”ujarnya. Kendati demikian, dia menilai, industri telekomunikasi di Tanah Air saat ini sudah mengalami titik jenuh.Guna meningkatkan keuntungan dan margin perusahaan, menurut Deddy, perusahaan telekomunikasi akan meningkatkan pengembangan pada layanan data lantaran potensi untuk layanan berbasis data masih cukup besar untuk dikembangkan.
(and)
Lihat Juga :