Mendag dukung konsep HPP untuk kedelai
Selasa, 07 Agustus 2012 - 10:56 WIB
Mendag dukung konsep HPP untuk kedelai
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Perdagangan (Mendag), Gita Wirjawan mengaku sangat mendukung terhadap konsep Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk komoditi kedelai. Menurutnya, rencana penetapan HPP tersebut meningkatkan produksi kedelai dalam negeri.
"Saya mendukung konsep HPP Kedelai ini agar kesejahteraan petani bisa terjamin," kata Gita, usai meninjau harga barang kebutuhan pokok jelang Lebaran di Pasar Kosambi, Jalan A Yani, Bandung, Selasa (7/8/2012).
Meski begitu, penetapan HPP kedelai tidak mudah karena perlu dukungan juga dari petani kedelai. Untuk itu, pihaknya akan
melakukan komunikasi dengan para petani. "Petani kita masih menganggap kedelai sebagai tanaman selingan sehingga mereka enggan menanam kedelai," ujarnya.
Saat ini, pihaknya akan melakukan peninjauan ke Jember dan Sumatera Selatan yang sanggup memproduksi hingga 2,5 ton per hektar lahan. Padahal, produktivitas kedelai di Indonesia selama ini hanya 0,9 ton per hektar. "Kita akan ke Jember dan Sumsel, benar engga sanggup memproduksi hingga 2,5 ton per hektar," katanya.
Dengan adanya PPH dan didukung produktivitas petani kedelai, diharapkan bisa mengurangi ketergantungan impor kedelai. Dia menjelaskan, selama ini harga kedelai sangat mempengaruhi harga dunia. Ini berpengaruh terhadap produksi tempe dan tahu. Sehingga diperlukan produksi kedelai dalam negeri.
Produksi kedelai Indonesia sendiri hanya 800.000 ton per tahun. Jumlah ini tidak mencukupi kebutuhan kedelai yang mencapai 2,6 juta ton per tahun.
Namun, sambil menunggu peningkatan produksi kedelai, pihaknya masih melakukan pembebasan bea masuk impor kedelai sebesar 5 persen yang akan berlangsung hingga Desember 2012.
"Saya mendukung konsep HPP Kedelai ini agar kesejahteraan petani bisa terjamin," kata Gita, usai meninjau harga barang kebutuhan pokok jelang Lebaran di Pasar Kosambi, Jalan A Yani, Bandung, Selasa (7/8/2012).
Meski begitu, penetapan HPP kedelai tidak mudah karena perlu dukungan juga dari petani kedelai. Untuk itu, pihaknya akan
melakukan komunikasi dengan para petani. "Petani kita masih menganggap kedelai sebagai tanaman selingan sehingga mereka enggan menanam kedelai," ujarnya.
Saat ini, pihaknya akan melakukan peninjauan ke Jember dan Sumatera Selatan yang sanggup memproduksi hingga 2,5 ton per hektar lahan. Padahal, produktivitas kedelai di Indonesia selama ini hanya 0,9 ton per hektar. "Kita akan ke Jember dan Sumsel, benar engga sanggup memproduksi hingga 2,5 ton per hektar," katanya.
Dengan adanya PPH dan didukung produktivitas petani kedelai, diharapkan bisa mengurangi ketergantungan impor kedelai. Dia menjelaskan, selama ini harga kedelai sangat mempengaruhi harga dunia. Ini berpengaruh terhadap produksi tempe dan tahu. Sehingga diperlukan produksi kedelai dalam negeri.
Produksi kedelai Indonesia sendiri hanya 800.000 ton per tahun. Jumlah ini tidak mencukupi kebutuhan kedelai yang mencapai 2,6 juta ton per tahun.
Namun, sambil menunggu peningkatan produksi kedelai, pihaknya masih melakukan pembebasan bea masuk impor kedelai sebesar 5 persen yang akan berlangsung hingga Desember 2012.
(gpr)
Lihat Juga :