PTPN III cari pinjaman Rp10 T
Kamis, 09 Agustus 2012 - 09:13 WIB
PTPN III cari pinjaman Rp10 T
A
A
A
Sindonews.com –PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III selaku induk usaha (holding) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor perkebunan akan mencari pinjaman senilai Rp10 triliun.
Rencananya untuk mendapatkan pinjaman tersebut perseroan akan menerbitkan surat utang (obligasi). Dana hasil obli gasi tersebut di gunakan un tuk ekspansi usaha oleh sejumlah perusahaan perkebunan pelat merah. Direktur Utama PTPN III Megananda Daryono mengatakan, holding BUMN perkebunan memiliki rencana untuk mencari pendanaan dari pasar modal dalam bentuk obligasi.
“Kita ada rencana untuk menerbitkan obligasi tapi oleh holding. Jadi, (penerbitan obligasi) tidak satu-satu oleh PTPN,” kata dia di Jakarta kemarin.
Dia menjelaskan, rencana penerbitan obligasi tersebut menunggu keluarnya Peraturan Pemerintah (PP) terkait holding BUMN perkebunan. Menurutnya, jika PP holding BUMN perkebunan bisa terbit pada kuartal III tahun ini, maka obligasi paling cepat bisa direalisasikan pada akhir 2012.
Jika belum terealisasi pada akhir tahun ini, dia berharap obligasi bisa diterbitkan pada tahun depan. Megananda mengatakan, PTPN III telah membahas rencana penerbitan obligasi tersebut dengan PT Danareksa Sekuritas selaku penasihat keuangan.
“Pokoknya, setelah hol ding terbentuk, kami langsung terbitkan obligasi. PE (public expose) bisa dilakukan pada 2013,” ujarnya. Dana hasil penerbitan obligasi tersebut akan digunakan untuk investasi sejumlah BUMN perkebunan dalam jangka waktu lima tahun ke depan seperti pembangunan pabrik, revitaisasi pabrik, maupun perluasan lahan. Pembangunan pabrik tersebut di antaranya pabrik oleokimia dengan kapasitas maksimal mencapai 7.500 ton minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) per hari.
Pada tahap pertama, kapasitas produksi diperkirakan sekitar 2.500 ton per hari dan akan ditingkatkan secara bertahap selama 10 tahun hingga mencapai kapasitas maksimal. Nilai pembangun an pabrik di Sumatera Utara itu diperkirakan sebesar Rp2 triliun, dengan target pemancangan tiang pertama (groundbreaking) pada akhir tahun ini. Diharapkan, pabrik sudah bisa berproduksi secara komersial pada 2014. Menurutnya, pembangunan pabrik oleokimia tersebut merupakan kerja sama antara PTPN III dan IV.
Dengan demikian, dana pembangunan pabrik ini sekitar 30–35 persen berasal dari internal kedua perusahaan dan sisanya dari perbankan maupun obligasi. Selain pabrik oleokimia, PTPN III, XI dan XII juga akan membangun pabrik gula Glenmor di Banyuwangi dengan nilai investasi sekitar Rp1,4 triliun. Dana tersebut sekitar 35 persen dari internal tiga BUMN perkebunan. “Dari 35 persen, kita sekitar 60 persen,” imbuh Megananda.
Sementara, Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Airlangga Hartato mendorong pemerintah untuk segera mencatatkan saham perusahaan BUMN sektor perkebunan kelapa sawit di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini mengingat sepinya BUMN yang melakukan IPO pada tahun ini. Airlangga menuturkan, BUMN yang bergerak di sektor per kebunan kelapa sawit hingga saat ini belum ada satu pun yang melepas sebagian sahamnya ke publik.
“BUMN di sektor yang menarik, seperti perkebunan kelapa sawit belum ada yang disiapkan ke pasar modal,” kata dia kepada SINDO.
Rencananya untuk mendapatkan pinjaman tersebut perseroan akan menerbitkan surat utang (obligasi). Dana hasil obli gasi tersebut di gunakan un tuk ekspansi usaha oleh sejumlah perusahaan perkebunan pelat merah. Direktur Utama PTPN III Megananda Daryono mengatakan, holding BUMN perkebunan memiliki rencana untuk mencari pendanaan dari pasar modal dalam bentuk obligasi.
“Kita ada rencana untuk menerbitkan obligasi tapi oleh holding. Jadi, (penerbitan obligasi) tidak satu-satu oleh PTPN,” kata dia di Jakarta kemarin.
Dia menjelaskan, rencana penerbitan obligasi tersebut menunggu keluarnya Peraturan Pemerintah (PP) terkait holding BUMN perkebunan. Menurutnya, jika PP holding BUMN perkebunan bisa terbit pada kuartal III tahun ini, maka obligasi paling cepat bisa direalisasikan pada akhir 2012.
Jika belum terealisasi pada akhir tahun ini, dia berharap obligasi bisa diterbitkan pada tahun depan. Megananda mengatakan, PTPN III telah membahas rencana penerbitan obligasi tersebut dengan PT Danareksa Sekuritas selaku penasihat keuangan.
“Pokoknya, setelah hol ding terbentuk, kami langsung terbitkan obligasi. PE (public expose) bisa dilakukan pada 2013,” ujarnya. Dana hasil penerbitan obligasi tersebut akan digunakan untuk investasi sejumlah BUMN perkebunan dalam jangka waktu lima tahun ke depan seperti pembangunan pabrik, revitaisasi pabrik, maupun perluasan lahan. Pembangunan pabrik tersebut di antaranya pabrik oleokimia dengan kapasitas maksimal mencapai 7.500 ton minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) per hari.
Pada tahap pertama, kapasitas produksi diperkirakan sekitar 2.500 ton per hari dan akan ditingkatkan secara bertahap selama 10 tahun hingga mencapai kapasitas maksimal. Nilai pembangun an pabrik di Sumatera Utara itu diperkirakan sebesar Rp2 triliun, dengan target pemancangan tiang pertama (groundbreaking) pada akhir tahun ini. Diharapkan, pabrik sudah bisa berproduksi secara komersial pada 2014. Menurutnya, pembangunan pabrik oleokimia tersebut merupakan kerja sama antara PTPN III dan IV.
Dengan demikian, dana pembangunan pabrik ini sekitar 30–35 persen berasal dari internal kedua perusahaan dan sisanya dari perbankan maupun obligasi. Selain pabrik oleokimia, PTPN III, XI dan XII juga akan membangun pabrik gula Glenmor di Banyuwangi dengan nilai investasi sekitar Rp1,4 triliun. Dana tersebut sekitar 35 persen dari internal tiga BUMN perkebunan. “Dari 35 persen, kita sekitar 60 persen,” imbuh Megananda.
Sementara, Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Airlangga Hartato mendorong pemerintah untuk segera mencatatkan saham perusahaan BUMN sektor perkebunan kelapa sawit di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini mengingat sepinya BUMN yang melakukan IPO pada tahun ini. Airlangga menuturkan, BUMN yang bergerak di sektor per kebunan kelapa sawit hingga saat ini belum ada satu pun yang melepas sebagian sahamnya ke publik.
“BUMN di sektor yang menarik, seperti perkebunan kelapa sawit belum ada yang disiapkan ke pasar modal,” kata dia kepada SINDO.
(and)