Rupiah diprediksi terus menguat
Senin, 13 Agustus 2012 - 07:56 WIB
Rupiah diprediksi terus menguat
A
A
A
Sindonews.com - Bertahannya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di zona hijau pada penutupan perdagangan pekan lalu, meskipun Rupiah sempat melemah, namun masih terbatas karena adanya harapan, otoritas moneter China akan menggulirkan stimulus.
"Pergerakan nilai tukar Rupiah/USD berdasarkan kurs BI berada di level Rp9.477/USD dari sebelumnya di level Rp9.483/USD. Pergerakan ini dipicu respon positif pelaku pasar terhadap pertumbuhan GDP (YoY) Indonesia yang di atas perkiraan, di tengah sentimen negatif yang beredar," ujar pengamat pasar modal dari Indosurya Asset Management‪, Reza Priyambada, Senin (13/8/2012).
Sentimen negatif tersebut, lanjut Reza, di antaranya adalah rilis data dari neraca perdagangan China yang menunjukkan angka penurunan. "Kondisi itu memicu kecemasan atas kekuatan ekonomi regional Asia terbesar," lanjutnya.
Penurunan neraca perdagangan tersebut, dikarenakan ekspor China hanya naik 1 persen dari tahun sebelumnya dan dibandingkan ekspektasi 8 persen.
Selain itu, lanjutnya, bursa saham Asia Pasifik pun terlihat bergerak negatif kecuali pada bursa saham Bangladesh, Laos, Malaysia, Pakistan, dan Sri Lanka.
"Pergerakan dipicu sikap negatifnya pelaku pasar setelah dirilis data neraca perdagangan China yang mengalami penurunan dan pertumbuhan penyaluran kredit yang di bawah estimasi," sambungnya.
Selain pergerakan bursa saham Asia seperti China yang menunjukkan pergerakan yang negatif, Reza memandang, dari internal (Indonesia) pun sebenarnya juga kurang mendukung pergerakan. Apalagi setelah dirilis Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada Q2-12 tercatat defisit USD2,8 miliar.
"BI menerangkan, transaksi berjalan Q2-12 mengalami defisit sebesar USD 6,9 miliar (3,1 persen dari PDB), naik dari Q1-12 yang mencatat defisit USD3,2 miliar (1,5 persen dari PDB). Penurunan ini karena surplus neraca perdagangan yang turun sehingga tidak dapat mengimbangi defisit neraca jasa dan neraca pendapatan yang melebar," terang Reza.
Meskipun dengan data yang kurang baik ini memunculkan ekspektasi PBoC akan kembali memangkas suku bunganya namun, masih ada keraguan akan hal ini. Reza memandang, adanya kenaikan GDP (YoY) Indonesia dinilai cukup positif di tengah defisit perdagangan yang terjadi sebab penurunan ekspor bisa diimbangi oleh kenaikan investasi.
"Pelaku pasar menilai masih akan ada harapan untuk ke depannya. Bila lebih banyak sentimen positif yang beredar, pasar akan bergerak naik menuju pemulihan dan bila kondisinya makin memburuk maka diharapkan bank sentral akan memberikan stimulusnya sehingga memberikan sentimen positif," simpulnya.
"Pergerakan nilai tukar Rupiah/USD berdasarkan kurs BI berada di level Rp9.477/USD dari sebelumnya di level Rp9.483/USD. Pergerakan ini dipicu respon positif pelaku pasar terhadap pertumbuhan GDP (YoY) Indonesia yang di atas perkiraan, di tengah sentimen negatif yang beredar," ujar pengamat pasar modal dari Indosurya Asset Management‪, Reza Priyambada, Senin (13/8/2012).
Sentimen negatif tersebut, lanjut Reza, di antaranya adalah rilis data dari neraca perdagangan China yang menunjukkan angka penurunan. "Kondisi itu memicu kecemasan atas kekuatan ekonomi regional Asia terbesar," lanjutnya.
Penurunan neraca perdagangan tersebut, dikarenakan ekspor China hanya naik 1 persen dari tahun sebelumnya dan dibandingkan ekspektasi 8 persen.
Selain itu, lanjutnya, bursa saham Asia Pasifik pun terlihat bergerak negatif kecuali pada bursa saham Bangladesh, Laos, Malaysia, Pakistan, dan Sri Lanka.
"Pergerakan dipicu sikap negatifnya pelaku pasar setelah dirilis data neraca perdagangan China yang mengalami penurunan dan pertumbuhan penyaluran kredit yang di bawah estimasi," sambungnya.
Selain pergerakan bursa saham Asia seperti China yang menunjukkan pergerakan yang negatif, Reza memandang, dari internal (Indonesia) pun sebenarnya juga kurang mendukung pergerakan. Apalagi setelah dirilis Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada Q2-12 tercatat defisit USD2,8 miliar.
"BI menerangkan, transaksi berjalan Q2-12 mengalami defisit sebesar USD 6,9 miliar (3,1 persen dari PDB), naik dari Q1-12 yang mencatat defisit USD3,2 miliar (1,5 persen dari PDB). Penurunan ini karena surplus neraca perdagangan yang turun sehingga tidak dapat mengimbangi defisit neraca jasa dan neraca pendapatan yang melebar," terang Reza.
Meskipun dengan data yang kurang baik ini memunculkan ekspektasi PBoC akan kembali memangkas suku bunganya namun, masih ada keraguan akan hal ini. Reza memandang, adanya kenaikan GDP (YoY) Indonesia dinilai cukup positif di tengah defisit perdagangan yang terjadi sebab penurunan ekspor bisa diimbangi oleh kenaikan investasi.
"Pelaku pasar menilai masih akan ada harapan untuk ke depannya. Bila lebih banyak sentimen positif yang beredar, pasar akan bergerak naik menuju pemulihan dan bila kondisinya makin memburuk maka diharapkan bank sentral akan memberikan stimulusnya sehingga memberikan sentimen positif," simpulnya.
(gpr)