Kondisi Pasar Blauran Surabaya memprihatinkan
Selasa, 14 Agustus 2012 - 16:02 WIB
Kondisi Pasar Blauran Surabaya memprihatinkan
A
A
A
Sindonews.com – Kondisi pasar tradisional di Kota Pahlawan terus memprihatinkan. Salah satunya Pasar Blauran yang merupakan salah satu pasar lagendaris di Surabaya. Selain sepinya pembeli yang datang, para pedagang pun harus berhati-hati karena bangunan sudah rusak dan bocor.
Kondisi paling parah terjadi di lantai II dan III. Pada kedua lantai yang didominasi pedagang pakaian, tas dan sepatu itu tak layak untuk dipakai jualan. Selain atap pasar yang bocor, kondisi lantai juga sudah pecah-pecah. Parahnyalagi, di tiap ujung stan tercium bau air kencing.
Kondisi itu membuat pembeli enggan untuk datang dan naik ke lantai II maupun III. Para pembeli selama ini hanya masuk ke Pasar Blauran dan mengunjungi stan di lantai dasar yang menjual buku serta peralatan tulis.
Dari pantauan SINDO, sejak pagi sampai siang hari hanya ada 3-4 pembeli yang naik ke lantai II dan III. Padahal momen jelang Lebaran harusnya banyak pembeli yang datang ke stan pakaian atau sepatu. Beberapa stan masih saja kosong tanpa pembeli dan hanya ada iringan musik yang terus melantunkan tembang pengisi waktu lenggang.
“Ini saja baru ada satu pembeli, selama ini memang sepi seperti ini,” kata Gusman, salah satu pedagang, Selasa (14/8/2012).
Alasan pembeli yang tak mau naik ke lantai II dan III cukup beralasan. Kalau pengunjung mulai menaiki tangga di bagian barat maupun timur, maka mereka akan disambut bau tak sedap. Belum lagi kondisi pasar yang kumuh membuat mereka semakin yakin untuk tidak naik ke atas.
Ironisnya lagi, di lantai II maupun III juga ada tempat sampah yang posisinya tak jauh dari stan pedagang. Tempat sampah itu sudah rusak dan luberan sampah sampai ke lantai. Tumpukan sampah pun mengunung dan tak juga diambil. Tak ayal bau menyengat langsung saja hadir ke beberapa stan.
Kepala Perusahaan Daerah (PD) Pasar Surya Karyanto Wibowo menuturkan, revitalisasi Pasar Blauran menjadi salah satu agenda besar PD Pasar dan tahun-tahun pertama ini. Pihaknya sedang mencari konsep yang tepat untuk menyemarakan kembali pasar legendaris itu.
“Ini sedang kami carikan formulanya. Biar para pengujung mau naik ke lantai atas. Karena selama ini pembeli memang ada di lantai dasar saja,” ujar Karyanto.
Ia melanjutkan, revitalisasi nantinya juga membahas tentang jenis pedagang yang akan ada di Blauran. PD Pasar sendiri sedang mengodok penyeragaman dan jenis pasar. Dengan adanya penyeragaman itu, maka sebuah pasar memiliki identitas pada pembeli untuk datang.
“Nanti modelnya ada sentra jualan sesuatu, misalnya tenun di Pasar Kapasan. Pasar Blauran nantinya juga akan dijadikan model seperti itu,” katanya.
Untuk revitalisasi sendiri, katanya, PD Pasar tak mungkin mengeluarlan kocek pribadi untuk membangunnya. Kalau saja Pemkot Surabaya tak mengucurkan dana, maka pihaknya akan berusaha mencari investor yang mau membangun pasar. “Kami tetap ingin semua pasar bisa maju dan berkembang,” pungkasnya.
Kondisi paling parah terjadi di lantai II dan III. Pada kedua lantai yang didominasi pedagang pakaian, tas dan sepatu itu tak layak untuk dipakai jualan. Selain atap pasar yang bocor, kondisi lantai juga sudah pecah-pecah. Parahnyalagi, di tiap ujung stan tercium bau air kencing.
Kondisi itu membuat pembeli enggan untuk datang dan naik ke lantai II maupun III. Para pembeli selama ini hanya masuk ke Pasar Blauran dan mengunjungi stan di lantai dasar yang menjual buku serta peralatan tulis.
Dari pantauan SINDO, sejak pagi sampai siang hari hanya ada 3-4 pembeli yang naik ke lantai II dan III. Padahal momen jelang Lebaran harusnya banyak pembeli yang datang ke stan pakaian atau sepatu. Beberapa stan masih saja kosong tanpa pembeli dan hanya ada iringan musik yang terus melantunkan tembang pengisi waktu lenggang.
“Ini saja baru ada satu pembeli, selama ini memang sepi seperti ini,” kata Gusman, salah satu pedagang, Selasa (14/8/2012).
Alasan pembeli yang tak mau naik ke lantai II dan III cukup beralasan. Kalau pengunjung mulai menaiki tangga di bagian barat maupun timur, maka mereka akan disambut bau tak sedap. Belum lagi kondisi pasar yang kumuh membuat mereka semakin yakin untuk tidak naik ke atas.
Ironisnya lagi, di lantai II maupun III juga ada tempat sampah yang posisinya tak jauh dari stan pedagang. Tempat sampah itu sudah rusak dan luberan sampah sampai ke lantai. Tumpukan sampah pun mengunung dan tak juga diambil. Tak ayal bau menyengat langsung saja hadir ke beberapa stan.
Kepala Perusahaan Daerah (PD) Pasar Surya Karyanto Wibowo menuturkan, revitalisasi Pasar Blauran menjadi salah satu agenda besar PD Pasar dan tahun-tahun pertama ini. Pihaknya sedang mencari konsep yang tepat untuk menyemarakan kembali pasar legendaris itu.
“Ini sedang kami carikan formulanya. Biar para pengujung mau naik ke lantai atas. Karena selama ini pembeli memang ada di lantai dasar saja,” ujar Karyanto.
Ia melanjutkan, revitalisasi nantinya juga membahas tentang jenis pedagang yang akan ada di Blauran. PD Pasar sendiri sedang mengodok penyeragaman dan jenis pasar. Dengan adanya penyeragaman itu, maka sebuah pasar memiliki identitas pada pembeli untuk datang.
“Nanti modelnya ada sentra jualan sesuatu, misalnya tenun di Pasar Kapasan. Pasar Blauran nantinya juga akan dijadikan model seperti itu,” katanya.
Untuk revitalisasi sendiri, katanya, PD Pasar tak mungkin mengeluarlan kocek pribadi untuk membangunnya. Kalau saja Pemkot Surabaya tak mengucurkan dana, maka pihaknya akan berusaha mencari investor yang mau membangun pasar. “Kami tetap ingin semua pasar bisa maju dan berkembang,” pungkasnya.
(gpr)
Lihat Juga :