Si kulit buaya pembawa berkah ratusan juta rupiah
Jum'at, 24 Agustus 2012 - 14:18 WIB
Si kulit buaya pembawa berkah ratusan juta rupiah
A
A
A
BERAWAL dari kecintaan akan berbagai produk hasil olahan kulit buaya membuat kolektor yang satu ini akhirnya menekuni sendiri profesi sebagai pengrajin kulit buaya beromset ratusan juta rupiah.
Adalah Pardianto, seorang pengerajin yang mulai mencintai berbagai produk dari kulit, seperti sepatu, ikat pinggang, dan dompet, sejak 1991. Kecintaannya terhadap berbagai produk tersebut kemudian diseriusinya dengan terjun sebagai pengusaha kerajinan kulit buaya pada tahun 1999.
"Awalnya saya hoby, kemudian ada niat dari saya untuk belajar bagaimana membuat sendiri barang-barang itu. Pertamanya saya belajar dari perajin lain dan baru saya bisa bikin sendiri," ungkap Pardianto dalam sebuah kesempatan bertemu Sindonews pada ajang pameran fashion and craft di JCC Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Apa yang dilakukan Pardianto selama 13 tahun tersebut, ternyata punya arti penting bagi masyarakat sekitar tempatnya memproduksi kerajinannya tersebut. Pasalnya diakui Pradiantoro, populasi buaya di sekitar galeri kerajinannya yang terletak di timika Papua terbilang banyak dan melimpah.
"Sudah 13 tahun saya tekuni usaha ini Alhamdulillah enggak pernah kekurangan bahan baku. Itu kan artinya jumlah buayanya banyak sekali," ujarnya.
Jumlahnya yang tergolong melimpah membuat keberadaan buaya di sana akhirnya menjadi salah satu sumber penghidupan bagi masyarakat sekitarnya. "Buaya itu kan semuanya bisa dimanfaatkan. Kulitnya bisa dimanfaatkan, giginya bisa, telurnya, empedunya, dagingnya juga bisa dimakan," ceritanya lagi.
Dari masyarakat sekitar itu lah Pardianto memperoleh bahan baku kulit buaya yang dihargainya Rp30.000 per inci. Dengan satu ekor buaya dapat mencapai ukuran 20 inci kulit, rata-rata dalam 1-3 hari, dirinya bisa mendapat pasokan kulit mentah sebanyak 200 inci dari masyarakat tersebut.
Terlihat bagaiman dlam menekuni usahanya, secara langsung dirinya mampu membantu masyarakat sekitar secara ekonomi.
Kulit-kulit yang diperolehnya tersebut kemudian diolahnya lebih lanjut dengan melakukan penyamakan atau dihaluskan dan dipisahkan dari daging yang menempel pada kulit dengan cara manual tanpa bantuan mesin modern.
Setelah kulit dirasa cukup halus sesuai standard, kulit kemudian dijait membentuk berbagai kerajunan seperti ikat pinggang, sepatu, dompet bahkan tas wanita.
Dalam sebulan, rumah produksinya mampu memproduksi sekitar 500 dompet, 25 tas wanita, dan 150 ikat pinggang. Sebagian besar wilayah pemasarannya masih sebatas di Papua saja, seperti Timika, Sorong, dan Merauke. Kendati demikian, ia mengaku penjualannya tidak pernah merugi.
"60 persen dari total produksi sebulan bisa habis terjual. Kebanyakan pembeli dari kalangan pejabat, pengusaha yang berkunjung ke Papua, dan juga satgas yang bertugas di wilayah perbatasan," ujarnya.
Dari usaha tersebut, Perdianto mengaku, dalam sebulan rata-rata dirinya mampu meraup omset hingga Rp100 juta lebih. Padahal, diakuinya, produknya tersebut hanya dijual dirumahnya saja. "Rp100 juta lah sebulan. Itu kotor loh ya. Itu dijual dirumah aja udah abis. Saya bersyukur dengan usaha yang sekarang ini bisa punya rumah, tanah, dan kendaraan pribadi. Selama 14 tahun, usaha ini pun juga tidak pernah merugi," tutur pemilik CV Argo Boyo Timika dengan jumlah karyawan 5 orang tersebut.
Kendati demikian, ada catatan unik ketika Sindonews tengah berbincang dengan Pardianto perihal usaha kerajinan yang ditekuninya tersebut. Untuk ukuran kerajinan dari kulit buaya yang tergolong langka, harga yang ditawarkan Pardianto untuk setiap produknya ternyata cukup murah, bahkan terkesan jauh di bawah harga pasar.
"Kamu bisa cek ke Plaza Senayan di sana ada toko yang jual hasil kulit buaya seperti ini juga, buat sepasang sepatu seperti ini tapi yang ada mereknya seperti merek-merek terkenal Hermes atau Louis Vuitton, harganya bisa Rp40 juta. Kalau dompet dan ikat pinggang harganya bisa Rp15 juta. Nah kalau tas wanita, harganya bisa Rp400 juta," ungkap salah seorang pembeli yang kebetulan berkunjung ketika Sindonews tengah berbincang dengan Pardianto di stan pamerannya tersebut.
Sementara produk Pardianto dibanderol mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah, seperti dompet dan ikat pinggang kisaran Rp300.000, sepatu Rp1,8 juta-Rp 2 juta, dan tas wanita Rp2 juta-Rp 2,5 juta. Dari ketiga barang tersebut, Pardianto mengakui, tas wanita dan dompetlah yang paling laku di pasaran.
Perbedaan harga yang cukup jauh tersebut ditanggapi Pardianto dengan besar hati. Pasalnya, dari segi penyamakan memang diakui Pardianto, produknya masih kalah halus. Dirinya mengungkapkan, untuk menghasilkan produksi dengan kualitas yang setara dengan merek-merek terkenal tersebut, diperlukan permodalan yang cukup besar bila ingin menerapkan mesin produksi modern.
Adalah Pardianto, seorang pengerajin yang mulai mencintai berbagai produk dari kulit, seperti sepatu, ikat pinggang, dan dompet, sejak 1991. Kecintaannya terhadap berbagai produk tersebut kemudian diseriusinya dengan terjun sebagai pengusaha kerajinan kulit buaya pada tahun 1999.
"Awalnya saya hoby, kemudian ada niat dari saya untuk belajar bagaimana membuat sendiri barang-barang itu. Pertamanya saya belajar dari perajin lain dan baru saya bisa bikin sendiri," ungkap Pardianto dalam sebuah kesempatan bertemu Sindonews pada ajang pameran fashion and craft di JCC Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Apa yang dilakukan Pardianto selama 13 tahun tersebut, ternyata punya arti penting bagi masyarakat sekitar tempatnya memproduksi kerajinannya tersebut. Pasalnya diakui Pradiantoro, populasi buaya di sekitar galeri kerajinannya yang terletak di timika Papua terbilang banyak dan melimpah.
"Sudah 13 tahun saya tekuni usaha ini Alhamdulillah enggak pernah kekurangan bahan baku. Itu kan artinya jumlah buayanya banyak sekali," ujarnya.
Jumlahnya yang tergolong melimpah membuat keberadaan buaya di sana akhirnya menjadi salah satu sumber penghidupan bagi masyarakat sekitarnya. "Buaya itu kan semuanya bisa dimanfaatkan. Kulitnya bisa dimanfaatkan, giginya bisa, telurnya, empedunya, dagingnya juga bisa dimakan," ceritanya lagi.
Dari masyarakat sekitar itu lah Pardianto memperoleh bahan baku kulit buaya yang dihargainya Rp30.000 per inci. Dengan satu ekor buaya dapat mencapai ukuran 20 inci kulit, rata-rata dalam 1-3 hari, dirinya bisa mendapat pasokan kulit mentah sebanyak 200 inci dari masyarakat tersebut.
Terlihat bagaiman dlam menekuni usahanya, secara langsung dirinya mampu membantu masyarakat sekitar secara ekonomi.
Kulit-kulit yang diperolehnya tersebut kemudian diolahnya lebih lanjut dengan melakukan penyamakan atau dihaluskan dan dipisahkan dari daging yang menempel pada kulit dengan cara manual tanpa bantuan mesin modern.
Setelah kulit dirasa cukup halus sesuai standard, kulit kemudian dijait membentuk berbagai kerajunan seperti ikat pinggang, sepatu, dompet bahkan tas wanita.
Dalam sebulan, rumah produksinya mampu memproduksi sekitar 500 dompet, 25 tas wanita, dan 150 ikat pinggang. Sebagian besar wilayah pemasarannya masih sebatas di Papua saja, seperti Timika, Sorong, dan Merauke. Kendati demikian, ia mengaku penjualannya tidak pernah merugi.
"60 persen dari total produksi sebulan bisa habis terjual. Kebanyakan pembeli dari kalangan pejabat, pengusaha yang berkunjung ke Papua, dan juga satgas yang bertugas di wilayah perbatasan," ujarnya.
Dari usaha tersebut, Perdianto mengaku, dalam sebulan rata-rata dirinya mampu meraup omset hingga Rp100 juta lebih. Padahal, diakuinya, produknya tersebut hanya dijual dirumahnya saja. "Rp100 juta lah sebulan. Itu kotor loh ya. Itu dijual dirumah aja udah abis. Saya bersyukur dengan usaha yang sekarang ini bisa punya rumah, tanah, dan kendaraan pribadi. Selama 14 tahun, usaha ini pun juga tidak pernah merugi," tutur pemilik CV Argo Boyo Timika dengan jumlah karyawan 5 orang tersebut.
Kendati demikian, ada catatan unik ketika Sindonews tengah berbincang dengan Pardianto perihal usaha kerajinan yang ditekuninya tersebut. Untuk ukuran kerajinan dari kulit buaya yang tergolong langka, harga yang ditawarkan Pardianto untuk setiap produknya ternyata cukup murah, bahkan terkesan jauh di bawah harga pasar.
"Kamu bisa cek ke Plaza Senayan di sana ada toko yang jual hasil kulit buaya seperti ini juga, buat sepasang sepatu seperti ini tapi yang ada mereknya seperti merek-merek terkenal Hermes atau Louis Vuitton, harganya bisa Rp40 juta. Kalau dompet dan ikat pinggang harganya bisa Rp15 juta. Nah kalau tas wanita, harganya bisa Rp400 juta," ungkap salah seorang pembeli yang kebetulan berkunjung ketika Sindonews tengah berbincang dengan Pardianto di stan pamerannya tersebut.
Sementara produk Pardianto dibanderol mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah, seperti dompet dan ikat pinggang kisaran Rp300.000, sepatu Rp1,8 juta-Rp 2 juta, dan tas wanita Rp2 juta-Rp 2,5 juta. Dari ketiga barang tersebut, Pardianto mengakui, tas wanita dan dompetlah yang paling laku di pasaran.
Perbedaan harga yang cukup jauh tersebut ditanggapi Pardianto dengan besar hati. Pasalnya, dari segi penyamakan memang diakui Pardianto, produknya masih kalah halus. Dirinya mengungkapkan, untuk menghasilkan produksi dengan kualitas yang setara dengan merek-merek terkenal tersebut, diperlukan permodalan yang cukup besar bila ingin menerapkan mesin produksi modern.
(and)
Lihat Juga :