BI: Defisit RI harus berani di atas 3%
Jum'at, 31 Agustus 2012 - 15:42 WIB
BI: Defisit RI harus berani di atas 3%
A
A
A
Sindonews.com - Jika pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI berani untuk memperlebar defisit pada ambang batas 3,5 persen, maka ruang anggaran akan semakin besar. Begitu juga dengan percepatan pembangunan infrastruktur.
Demikianlah yang disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution. Hal itu menurutnya diukur dari perbandingan dengan negara lain.
"Yang saya mau katakan hanya sederhana saja, diukur dari defisit dari berbegai negara, defisit anggaran, kita itu kecil. Kita punya ruang untuk membesarkan itu dengan untuk membangun infrastruktur," kata Darmin di kantornya, Jumat (31/8/2012).
Namun dia menambahkan, pilihan ini merupakan keputusan politik. Karena Undang-undang mengatur defisit tidak boleh dari 3 persen. Malaysia, lanjutnya, mematok defisit hingga 5 persen. Seandainya ada tujuan yang jelas, menurut Darmin fiskal space yang diharapkan dapat terwujud. "Artinya itu keputusan politik. Saya tentu tidak mau berkomentar lebih banyak," tegasnya.
Ketakutan krisis, menurut Darmin menjadi penyebab defisit tidak bisa diperlebar lagi. Walaupun dia sudah menegaskan, baik fiskal maupun moneter sudah jadi kekuatan dalam kebijakan.
"Jadi secara moneter dan secara fiskal kita punya. Tapi kalau anda lihat Amerika, fiskal dia nggak punya moneter, punya tapi dia sudah gunakan dua kali besar-besar. Eropa hampir-hampir tidak punya. Punya moneter space tapi sangat susah mekanismenya karena pemerintahnya banyak," pungkasnya.
Demikianlah yang disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution. Hal itu menurutnya diukur dari perbandingan dengan negara lain.
"Yang saya mau katakan hanya sederhana saja, diukur dari defisit dari berbegai negara, defisit anggaran, kita itu kecil. Kita punya ruang untuk membesarkan itu dengan untuk membangun infrastruktur," kata Darmin di kantornya, Jumat (31/8/2012).
Namun dia menambahkan, pilihan ini merupakan keputusan politik. Karena Undang-undang mengatur defisit tidak boleh dari 3 persen. Malaysia, lanjutnya, mematok defisit hingga 5 persen. Seandainya ada tujuan yang jelas, menurut Darmin fiskal space yang diharapkan dapat terwujud. "Artinya itu keputusan politik. Saya tentu tidak mau berkomentar lebih banyak," tegasnya.
Ketakutan krisis, menurut Darmin menjadi penyebab defisit tidak bisa diperlebar lagi. Walaupun dia sudah menegaskan, baik fiskal maupun moneter sudah jadi kekuatan dalam kebijakan.
"Jadi secara moneter dan secara fiskal kita punya. Tapi kalau anda lihat Amerika, fiskal dia nggak punya moneter, punya tapi dia sudah gunakan dua kali besar-besar. Eropa hampir-hampir tidak punya. Punya moneter space tapi sangat susah mekanismenya karena pemerintahnya banyak," pungkasnya.
(gpr)
Lihat Juga :