Inflasi Jabar bisa lampaui 5%
Selasa, 04 September 2012 - 07:00 WIB
Inflasi Jabar bisa lampaui 5%
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah mesti serius mengendalikan harga sejumlah kebutuhan pokok agar laju inflasi lebih terkendali sesuai target 2012 sebesar 4,5 persen.
Upaya tersebut perlu dilakukan, berkaca pada laju inflasi di beberapa daerah di Indonesia, termasuk Jabar. Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar, Inflasi Jawa Barat selama delapan bulan (Januari-Agustus 2012) mencapai 3,53 persen. Naik cukup signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai 1,77 persen.
Selama periode tersebut, BPS mencatat tiga kali kenaikan inflasi di atas inflasi nasional pada bulan Januari, Juli, dan Agustus 2012. Fluktuasi inflasi yang terjadi di Jabar disebabkan berbagai hal. Seperti isu kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) beberapa waktu lalu, pergolakan pasokan kedelai, daging ayam, daging sapi, dan telur ayam.
“Kita berharap terjadi deflasi dari sejumlah komoditas, agar laju inflasi di Jabar lebih terkendali. Kami khawatir inflasi pada tahun ini bisa di atas 5 persen," ujar Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar Anggoro Dwitjahyono di Jalan PHH Mustopha, Kota Bandung, kemarin.
Menurut dia, tanpa ada langkah pengendalian lebih serius, inflasi di Jabar bisa melampoi 5 persen. Terlebih, selama empat bulan kedepan, pasar diperkirakan akan menghadapi sejumlah pergolakan harga. Yaitu pada momen Idul Adha, Tahun Baru 2013, dan rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL).
Anggoro masih berharap, terjadi penurunan sejumlah komoditas pokok di pasaran. Penurunan ongkos transportasi dan datangnya musim panen, diharapkan berkontribusi menekan inflasi di Jabar. Seperti inflasi pada Agustus lalu, turunnya harga 38 komoditas berkontribusi terhadap pengurangan inflasi Jabar sebanyak 25 persen.
Pada Agustus lalu, inflasi gabungan dari 7 kota yakni, Kota Bandung, Cirebon, Tasikmalaya, Bekasi, Bogor, Sukabumi dan Depok Jabar mengalami inflasi sebesar 1,03 persen. Angka inflasi itu, tertinggi sepanjang tahun 2012. Dan dua kali lipat lebih tinggi dari inflasi Jabar pada periode yang sama di tahun 2011 sebesar 0,54 persen.
Inflasi tertinggi terjadi di Kota Bogor yaitu sebesar 2,07 persen. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan inflasi pada bulan Juli yang hanya 0,54 persen. Sedangkan inflasi di daerah lain yaitu Kota Depok 1,21 persen, Kota Tasikmalaya 1,14 persen, Kota Bekasi 1,05 persen, Kota Bandung 0,65 persen, Kota Cirebon 0,52 persen dan Kota Sukabumi 0,19 persen.
“Tujuh kelompok pengeluaran rumah tangga menyokong inflasi pada Agustus lalu. Di antaranya pada kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 2,95 persen,” pungkas dia.
Inflasi dari kelompok bahan makanan sebesar 1,58 persen, kelompok transportasi komunikasi & jasa keuangan sebesar 1,24 persen, kelompok sandang 0,90 persen, kelompok makanan jadi minuman dan rokok & tembakau 0,56 persen, kelompok kesehatan 0,28 persen.
Diakui dia, pada Agustus lalu, semua kelompok mengalami inflasi. Inflasi terendah terjadi pada kelompok perumahan air listrik gas & bahan bakar sebesar 0,22 persen.
Upaya tersebut perlu dilakukan, berkaca pada laju inflasi di beberapa daerah di Indonesia, termasuk Jabar. Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar, Inflasi Jawa Barat selama delapan bulan (Januari-Agustus 2012) mencapai 3,53 persen. Naik cukup signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai 1,77 persen.
Selama periode tersebut, BPS mencatat tiga kali kenaikan inflasi di atas inflasi nasional pada bulan Januari, Juli, dan Agustus 2012. Fluktuasi inflasi yang terjadi di Jabar disebabkan berbagai hal. Seperti isu kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) beberapa waktu lalu, pergolakan pasokan kedelai, daging ayam, daging sapi, dan telur ayam.
“Kita berharap terjadi deflasi dari sejumlah komoditas, agar laju inflasi di Jabar lebih terkendali. Kami khawatir inflasi pada tahun ini bisa di atas 5 persen," ujar Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar Anggoro Dwitjahyono di Jalan PHH Mustopha, Kota Bandung, kemarin.
Menurut dia, tanpa ada langkah pengendalian lebih serius, inflasi di Jabar bisa melampoi 5 persen. Terlebih, selama empat bulan kedepan, pasar diperkirakan akan menghadapi sejumlah pergolakan harga. Yaitu pada momen Idul Adha, Tahun Baru 2013, dan rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL).
Anggoro masih berharap, terjadi penurunan sejumlah komoditas pokok di pasaran. Penurunan ongkos transportasi dan datangnya musim panen, diharapkan berkontribusi menekan inflasi di Jabar. Seperti inflasi pada Agustus lalu, turunnya harga 38 komoditas berkontribusi terhadap pengurangan inflasi Jabar sebanyak 25 persen.
Pada Agustus lalu, inflasi gabungan dari 7 kota yakni, Kota Bandung, Cirebon, Tasikmalaya, Bekasi, Bogor, Sukabumi dan Depok Jabar mengalami inflasi sebesar 1,03 persen. Angka inflasi itu, tertinggi sepanjang tahun 2012. Dan dua kali lipat lebih tinggi dari inflasi Jabar pada periode yang sama di tahun 2011 sebesar 0,54 persen.
Inflasi tertinggi terjadi di Kota Bogor yaitu sebesar 2,07 persen. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan inflasi pada bulan Juli yang hanya 0,54 persen. Sedangkan inflasi di daerah lain yaitu Kota Depok 1,21 persen, Kota Tasikmalaya 1,14 persen, Kota Bekasi 1,05 persen, Kota Bandung 0,65 persen, Kota Cirebon 0,52 persen dan Kota Sukabumi 0,19 persen.
“Tujuh kelompok pengeluaran rumah tangga menyokong inflasi pada Agustus lalu. Di antaranya pada kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 2,95 persen,” pungkas dia.
Inflasi dari kelompok bahan makanan sebesar 1,58 persen, kelompok transportasi komunikasi & jasa keuangan sebesar 1,24 persen, kelompok sandang 0,90 persen, kelompok makanan jadi minuman dan rokok & tembakau 0,56 persen, kelompok kesehatan 0,28 persen.
Diakui dia, pada Agustus lalu, semua kelompok mengalami inflasi. Inflasi terendah terjadi pada kelompok perumahan air listrik gas & bahan bakar sebesar 0,22 persen.
(gpr)
Lihat Juga :