Tren defisit belum tunjukan penurunan
Selasa, 04 September 2012 - 11:43 WIB
Tren defisit belum tunjukan penurunan
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah belum dapat memastikan tren defisit yang saat ini terjadi pada neraca perdangan akan menurun. Kondisi ini masih sangat terpengaruh dengan kondisi global yang masih sulit dideteksi. Apalagi berdampak kuat terhadap ekspor.
"Yah, kita nggak tahu lah, kalau ekspor kan kondisi global sekarang sangat sulit dipegang, tidak bisa ditentukan sebelumnya," ungkap Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Bambang Brodjonegoro di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (4/9/2012).
Dibandingkan Juni, nilai defisit Juli memang menurun. Menurut Bambang itu karena ada tendensi ekspor yang memperlihatkan perbaikan pada neraca. "kondisi pressure di neraca perdagangan akan membaik karena ekspor membaik dan impor akan agak berkurang," jelasnya.
Terkait pelemahan rupiah, Bambang tidak setuju jika dikatakan faktor kesengajaan oleh Bank Indonesia (BI). Menurutnya, BI memang harus menghitung nilai equibilirium untuk kondisi tertentu.
"Nah, untuk kondisi sekarang kalau rupiah terlalu kuat, juga nggak bagus karena impornya terlalu besar, terutama impor barang konsumsi. Jadi dengan nilai rupiah cukup pas untuk kondisi sekarang, impor lebih bisa dikendalikan, jadi pertumbuhannya lebih kecil dari sebelumnya," pungkasnya.
"Yah, kita nggak tahu lah, kalau ekspor kan kondisi global sekarang sangat sulit dipegang, tidak bisa ditentukan sebelumnya," ungkap Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Bambang Brodjonegoro di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (4/9/2012).
Dibandingkan Juni, nilai defisit Juli memang menurun. Menurut Bambang itu karena ada tendensi ekspor yang memperlihatkan perbaikan pada neraca. "kondisi pressure di neraca perdagangan akan membaik karena ekspor membaik dan impor akan agak berkurang," jelasnya.
Terkait pelemahan rupiah, Bambang tidak setuju jika dikatakan faktor kesengajaan oleh Bank Indonesia (BI). Menurutnya, BI memang harus menghitung nilai equibilirium untuk kondisi tertentu.
"Nah, untuk kondisi sekarang kalau rupiah terlalu kuat, juga nggak bagus karena impornya terlalu besar, terutama impor barang konsumsi. Jadi dengan nilai rupiah cukup pas untuk kondisi sekarang, impor lebih bisa dikendalikan, jadi pertumbuhannya lebih kecil dari sebelumnya," pungkasnya.
(gpr)
Lihat Juga :