2030, Arab Saudi jadi importir minyak ?
Rabu, 05 September 2012 - 19:51 WIB
2030, Arab Saudi jadi importir minyak ?
A
A
A
Sindonews.com - Citigroup Inc memprediksi ekspotir minyak terbesar di dunia, Arab Saudi dalam 20 tahun mendatang berpotensi menjadi negara pengimpor minyak.
"Jika konsumsi minyak Arab Saudi tumbuh sejalan dengan tingginya kekuatan kebutuhan, Arab Saudi diperkirakan bisa menjadi negara pengimpor minyak pada 2030 mendatang," ungkap Heidy Rehman, analis Citigroup seperti diberitakan Bloomberg, Selasa (4/9/2012).
Rehman menambahkan, sejauh ini Arab Saudi telah menggunakan hasil sumber daya gas dan berencana mengembangkan sumber daya tenaga nuklir.
Tercatat, 86 persen pendapatan tahunan Arab Saudi bersumber dari hasil produksi minyak. Sementara peningkatan eksplorasi minyak Arab Saudi terus dilakukan, negara ini berencana mengembangkan sumber tenaga matahari dan nuklir untuk melestarikan cadangan minyak mentah untuk menjaga ekspor.
Tahun 2011 lalu, konsumsi pendapatan perkapita Arab Saudi lebih besar ketimbang negara industrialisasi lainnya, misalnya Amerika Serikat.
Rehman mengatakan, berdasarkan catatan 10 tahun belakangan, peningkatan jumlah penduduk Arab Saudi memicu peningkatan konsumsi minyak 6 persen setiap tahunnya. Dimana populasi penduduk Arab Saudi 2011 lalu tercatat sebanyak 28 juta jiwa.
"Kami memprediksi angka konsumsi minyak pertahunnya akan terus meningkat seiring pertambahan populasi pemuda dan peningkatan kemampuan belanja yang didukung oleh peninggkatan pertumbuhan pendapatan Gross Domestik Product (GDP) per kapita," ungkap Rehman.
Data yang diperoleh International Monetary Fund (IMF) menunjukan, tahun ini petumbuhan GDP Arab Saudi akan tumbuh10 persen menjadi USD22.635, diperkirakan pada akhir tahun 2017 angka ini dapat tumbuh mencapai USD23.963.
Tahun lalu tercatat, total produksi minyak dan gas alam perharinya Arab Saudi mencapai 11,2 juta barel perhari. Jumlah itu, menyumbang 13 persen kebutuhan minyak dunia, lebih besar dari jumlah yang mampu disumbangkan negara lain.
Setengah dari hasil produksi minyak dan berbagai jenis turunannya telah habis dipergunakan untuk produksi listrik Arab Saudi, sementara tingkat kebutuhan nasional Arab Saudi setiap tahunnya meningkat sebanyak 8 persen.
"Jika konsumsi minyak Arab Saudi tumbuh sejalan dengan tingginya kekuatan kebutuhan, Arab Saudi diperkirakan bisa menjadi negara pengimpor minyak pada 2030 mendatang," ungkap Heidy Rehman, analis Citigroup seperti diberitakan Bloomberg, Selasa (4/9/2012).
Rehman menambahkan, sejauh ini Arab Saudi telah menggunakan hasil sumber daya gas dan berencana mengembangkan sumber daya tenaga nuklir.
Tercatat, 86 persen pendapatan tahunan Arab Saudi bersumber dari hasil produksi minyak. Sementara peningkatan eksplorasi minyak Arab Saudi terus dilakukan, negara ini berencana mengembangkan sumber tenaga matahari dan nuklir untuk melestarikan cadangan minyak mentah untuk menjaga ekspor.
Tahun 2011 lalu, konsumsi pendapatan perkapita Arab Saudi lebih besar ketimbang negara industrialisasi lainnya, misalnya Amerika Serikat.
Rehman mengatakan, berdasarkan catatan 10 tahun belakangan, peningkatan jumlah penduduk Arab Saudi memicu peningkatan konsumsi minyak 6 persen setiap tahunnya. Dimana populasi penduduk Arab Saudi 2011 lalu tercatat sebanyak 28 juta jiwa.
"Kami memprediksi angka konsumsi minyak pertahunnya akan terus meningkat seiring pertambahan populasi pemuda dan peningkatan kemampuan belanja yang didukung oleh peninggkatan pertumbuhan pendapatan Gross Domestik Product (GDP) per kapita," ungkap Rehman.
Data yang diperoleh International Monetary Fund (IMF) menunjukan, tahun ini petumbuhan GDP Arab Saudi akan tumbuh10 persen menjadi USD22.635, diperkirakan pada akhir tahun 2017 angka ini dapat tumbuh mencapai USD23.963.
Tahun lalu tercatat, total produksi minyak dan gas alam perharinya Arab Saudi mencapai 11,2 juta barel perhari. Jumlah itu, menyumbang 13 persen kebutuhan minyak dunia, lebih besar dari jumlah yang mampu disumbangkan negara lain.
Setengah dari hasil produksi minyak dan berbagai jenis turunannya telah habis dipergunakan untuk produksi listrik Arab Saudi, sementara tingkat kebutuhan nasional Arab Saudi setiap tahunnya meningkat sebanyak 8 persen.
(gpr)
Lihat Juga :