Penggunaan kapal asing berdampak pada transaksi berjalan
Minggu, 16 September 2012 - 16:57 WIB
Penggunaan kapal asing berdampak pada transaksi berjalan
A
A
A
Sindonews.com - Bank Indonesia (BI) menilai industri perkapalan di dalam negeri perlu segera dikembangkan. Ini terkait seringnya kapal-kapal asing digunakan untuk pengangkutan barang-barang ekspor dan impor. Sehingga dapat membebani neraca transaksi berjalan dari sisi transaksi jasa-jasa.
“Kalau industri perkapalan bisa berkembang, ini bisa mengurangi beban dari sisi transaksi jasa dari angkutan barang ekspor dan impor. Karena untuk angkut barang ekspor dan impor, kita masih bergantung dengan kapal-kapal luar (milik asing),” kata Direktur Hubungan Masyarakat BI Difi A. Johansyah, di Bandung, Jawa Barat, Minggu, (16/9/2012).
Data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat dalam transaksi jasa-jasa selalu mengalami defisit selama tahun 2011, dengan total defisit sebesar USD10,63 miliar. Sementara di tahun 2012, selama triwulan satu tercatat defisit sebesar USD2,07 miliar dan sebesar USD2,88 miliar selama triwulan dua.
“Ini di transaksi jasa lebih banyak untuk transportasi dan angkutan trade (perdagangan). Selain itu dari travel (wisata) juga cukup besar,” jelasnya.
Secara tren, menurutnya surplus dari travel sebenarnya cukup baik dengan banyaknya wisatawan asing masuk ke Tanah Air. Namun, sejalan dengan bertambahnya kelas menengah di Indonesia, membuat jumlah penduduk yang berwisata ke luar negeri meningkat.
“Belakangan ini kita outflow (wisata ke luar negeri) meningkat, surplus travel yang selama ini besar jadi mengecil,” pungkasnya. (mai)
“Kalau industri perkapalan bisa berkembang, ini bisa mengurangi beban dari sisi transaksi jasa dari angkutan barang ekspor dan impor. Karena untuk angkut barang ekspor dan impor, kita masih bergantung dengan kapal-kapal luar (milik asing),” kata Direktur Hubungan Masyarakat BI Difi A. Johansyah, di Bandung, Jawa Barat, Minggu, (16/9/2012).
Data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat dalam transaksi jasa-jasa selalu mengalami defisit selama tahun 2011, dengan total defisit sebesar USD10,63 miliar. Sementara di tahun 2012, selama triwulan satu tercatat defisit sebesar USD2,07 miliar dan sebesar USD2,88 miliar selama triwulan dua.
“Ini di transaksi jasa lebih banyak untuk transportasi dan angkutan trade (perdagangan). Selain itu dari travel (wisata) juga cukup besar,” jelasnya.
Secara tren, menurutnya surplus dari travel sebenarnya cukup baik dengan banyaknya wisatawan asing masuk ke Tanah Air. Namun, sejalan dengan bertambahnya kelas menengah di Indonesia, membuat jumlah penduduk yang berwisata ke luar negeri meningkat.
“Belakangan ini kita outflow (wisata ke luar negeri) meningkat, surplus travel yang selama ini besar jadi mengecil,” pungkasnya. (mai)
(gpr)
Lihat Juga :