Pertamina didemo Serikat Pekerja Migas Lagi
Senin, 24 September 2012 - 17:25 WIB
Pertamina didemo Serikat Pekerja Migas Lagi
A
A
A
Sindonews.com - Puluhan massa dari serikat buruh Pertamina mendatangi kantor Pertamina Unit pemasaran (UPms) III Balongan serta kilang Pertamina RU VI Balongan.
Massa bergerak menuju kantor Pertamina UPms III Balongan serta kilang balongan dengan melakukan konvoi kendaraan.Saat berada dilokasi, massa serikat pekerja buruh Pertamina dihadang petugas satuan dalmas Polres Indramayu.
Meski begitu, massa tetap melakukan aksi dan berorasi di depan kantor Pertamina UPms III Balongan serta kilang Pertamina RU VI balongan.
Massa yang kecewa tuntutannya untuk menolak sistem kerja kontrak atau outsorching di lingkungan Pertamina tidak mendapatkan respon sejak beberapa bulan terakhir, langsung melakukan aksi teatrikal berupa aksi duduk massal.
"Aksi ini merupakan lanjutan dari aksi kita sebelumnya.Kami tidak akan menyerah untuk memperjuangkan hak-hak serta kesejahteraan pekerja migas di Pertamina," ungkap Indra Susanto, pekerja migas di lingkungan Pertamina Balongan, Senin (24/9/2012).
Massa juga melakukan mogok kerja massal sejak pagi hari. Tuntutan terhadap Pertamina untuk memberikan upah minimum migas di atas upah minimum kerja (UMK) Indramayu dan segera memberikan hak normatif buruh atau pekerja berupa Jamsostek, lembur serta cuti dianggap sebagai hal yang wajar.
Tidak puas dengan aksi mereka di sejumlah unit Pertamina, massa pun bergerak ke Pendopo Indramayu. Massa juga meminta agar Pemkab Indramayu dapat memperjuangkan hak-hak pekerja migas yang saat ini belum direspon oleh Pertamina. Aksi unjuk rasa pekerja migas baik gedung Pertamina UPms III dan kilang balongan tidak mendapatkan tanggapan dari manajemen Pertamina.
Sementara itu, wakil ketua DPRD kabupaten Indramayu, Sanusi Ghofur mengaku prihatin dengan lambannya respon Pertamina terhadap tuntutan pekerja migas. Apalagi aksi unjuk rasa buruh sudah dilakukan sejak enam bulan yang lalu.
"Pertamina harus tegas dalam menentukan sikap. Jika tuntutan pekerja migas dianggap sulit dikabulkan, lebih baik melakukan pembicaraan secara terbuka kepada pekerja migas," katanya.
Jika itu tidak dilakukan berarti nasib pekerja migas akan terus "digantung". "Mereka butuh kepastian, karena sudah lebih dari setengah tahun tidak ada keputusan dari manajemen Pertamina," katanya.
DPRD kabupaten Indramayu mengaku sudah maksimal dalam memperjuangkan aspirasi dari pekerja migas. Namun, karena kewenangannya terbatas, DPRD kabupaten Indramayu tidak dapat memaksimalkan perjuangan yang telah dilakukan.
Massa bergerak menuju kantor Pertamina UPms III Balongan serta kilang balongan dengan melakukan konvoi kendaraan.Saat berada dilokasi, massa serikat pekerja buruh Pertamina dihadang petugas satuan dalmas Polres Indramayu.
Meski begitu, massa tetap melakukan aksi dan berorasi di depan kantor Pertamina UPms III Balongan serta kilang Pertamina RU VI balongan.
Massa yang kecewa tuntutannya untuk menolak sistem kerja kontrak atau outsorching di lingkungan Pertamina tidak mendapatkan respon sejak beberapa bulan terakhir, langsung melakukan aksi teatrikal berupa aksi duduk massal.
"Aksi ini merupakan lanjutan dari aksi kita sebelumnya.Kami tidak akan menyerah untuk memperjuangkan hak-hak serta kesejahteraan pekerja migas di Pertamina," ungkap Indra Susanto, pekerja migas di lingkungan Pertamina Balongan, Senin (24/9/2012).
Massa juga melakukan mogok kerja massal sejak pagi hari. Tuntutan terhadap Pertamina untuk memberikan upah minimum migas di atas upah minimum kerja (UMK) Indramayu dan segera memberikan hak normatif buruh atau pekerja berupa Jamsostek, lembur serta cuti dianggap sebagai hal yang wajar.
Tidak puas dengan aksi mereka di sejumlah unit Pertamina, massa pun bergerak ke Pendopo Indramayu. Massa juga meminta agar Pemkab Indramayu dapat memperjuangkan hak-hak pekerja migas yang saat ini belum direspon oleh Pertamina. Aksi unjuk rasa pekerja migas baik gedung Pertamina UPms III dan kilang balongan tidak mendapatkan tanggapan dari manajemen Pertamina.
Sementara itu, wakil ketua DPRD kabupaten Indramayu, Sanusi Ghofur mengaku prihatin dengan lambannya respon Pertamina terhadap tuntutan pekerja migas. Apalagi aksi unjuk rasa buruh sudah dilakukan sejak enam bulan yang lalu.
"Pertamina harus tegas dalam menentukan sikap. Jika tuntutan pekerja migas dianggap sulit dikabulkan, lebih baik melakukan pembicaraan secara terbuka kepada pekerja migas," katanya.
Jika itu tidak dilakukan berarti nasib pekerja migas akan terus "digantung". "Mereka butuh kepastian, karena sudah lebih dari setengah tahun tidak ada keputusan dari manajemen Pertamina," katanya.
DPRD kabupaten Indramayu mengaku sudah maksimal dalam memperjuangkan aspirasi dari pekerja migas. Namun, karena kewenangannya terbatas, DPRD kabupaten Indramayu tidak dapat memaksimalkan perjuangan yang telah dilakukan.
(gpr)
Lihat Juga :