Investasi manufaktur capai Rp72 T
Selasa, 25 September 2012 - 10:35 WIB
Investasi manufaktur capai Rp72 T
A
A
A
Sindonews.com - Realisasi investasi 12 sektor industri manufaktur selama semester I/2012 mencapai Rp72,57 triliun, atau naik 56, 94 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp46,24 triliun.
Kepala Pusat Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri (BPKIMI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Harris Munandar mengatakan, berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang diolah oleh Kemenperin, pertumbuhan investasi terjadi di penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN).
Menurut dia, data menunjukkan nilai investasi PMA sebesar USD5,45 miliar, atau setara Rp51,77 triliun dengan kurs Rp9.500 per dolar Amerika Serikat (AS), sedangkan nilai investasi PMDN mencapai Rp20,80 triliun.Sementara itu, pada periode sama 2011, realisasi investasi PMA sebesar USD3,25 miliar atau setara dengan Rp27,62 triliun dengan kurs Rp8.500, sedangkan PMDN mencapai Rp18,62 triliun.
Harris menjelaskan, pertumbuhan investasi didorong oleh sejumlah faktor, seperti keunggulan Indonesia dengan pasar yang besar, sehingga menarik minat investasi. Selain itu, iklim investasi di dalam negeri juga semakin membaik. “Pertama, dari sisi global. Saat ini terjadi perseteruan politik antara Jepang dan China yang memicu banyaknya pabrik milik Jepang ditutup di China.
Kalau kondisi penutupan berlangsung terus tanpa waktu yang jelas kapan ada penyelesaian, tentu mereka harus memutuskan hengkang. Selain Thailand, alternatif relokasi adalah Indonesia. Dari sisi pasar, Indonesia seperti China yang jadi incaran karena besarnya pasar,” kata Harris di Jakarta kemarin. Daya beli kelas menengah di Indonesia juga terus meningkat.
Pemerintah, kata dia, melalui Kemenperin terus berupaya mendorong investasi di dalam negeri, baik PMA maupun PMDN.Adapun investasi yang didorong masuk adalah yang bernilai tambah, memiliki dampak besar, dan berteknologi tinggi. “Dengan iklim investasi, serta berbagai insentif investasi, seperti tax holiday, semakin memacu arus investasi,” ujarnya.
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat Usman mengatakan, masalah politik antara China dan Jepang akan membuat Jepang lebih melihat Indonesia sebagai negara yang loyal. Investasi Jepang akan meningkat di Indonesia. Automotif dan elektronika Jepang di Indonesia lebih menguasai pasar ketimbang Korea Selatan.
Untuk TPT (tekstil dan produk tekstil), Jepang bukan negara yang fokus urusi ini karena sebagian besar sudah di-take over pengusaha Indonesia.
“Sedangkan China belum ada investasi yang pasti, baru garmen sekitar kurang dari 10 perusahaan yang sudah eksisting dibandingkan mereka di Vietnam dan Kamboja. Namun, Indonesia selalu menjadi pasar pembuangan barangbarang mereka,” kata Ade.
Sekjen Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Harry Warganegara menga-takan, kebijakan pemerintah terkait hilirisasi industri berbasis sumber daya alam (SDA) mulai berdampak positif terhadap peningkatan investasi di dalam negeri.
Harryoptimistispertumbuhan investasi akan terus berlangsung hingga tahun depan. Asalkan, kata dia, kebijakan pemerintah bisa mendukung inves-tasi. “Hipmi berharap investasi di sektor lain juga tumbuh, supaya Indonesia bisa mandiri. Masa HP dan televisi harus kita impor terus,” kata Harry.
Kepala Pusat Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri (BPKIMI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Harris Munandar mengatakan, berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang diolah oleh Kemenperin, pertumbuhan investasi terjadi di penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN).
Menurut dia, data menunjukkan nilai investasi PMA sebesar USD5,45 miliar, atau setara Rp51,77 triliun dengan kurs Rp9.500 per dolar Amerika Serikat (AS), sedangkan nilai investasi PMDN mencapai Rp20,80 triliun.Sementara itu, pada periode sama 2011, realisasi investasi PMA sebesar USD3,25 miliar atau setara dengan Rp27,62 triliun dengan kurs Rp8.500, sedangkan PMDN mencapai Rp18,62 triliun.
Harris menjelaskan, pertumbuhan investasi didorong oleh sejumlah faktor, seperti keunggulan Indonesia dengan pasar yang besar, sehingga menarik minat investasi. Selain itu, iklim investasi di dalam negeri juga semakin membaik. “Pertama, dari sisi global. Saat ini terjadi perseteruan politik antara Jepang dan China yang memicu banyaknya pabrik milik Jepang ditutup di China.
Kalau kondisi penutupan berlangsung terus tanpa waktu yang jelas kapan ada penyelesaian, tentu mereka harus memutuskan hengkang. Selain Thailand, alternatif relokasi adalah Indonesia. Dari sisi pasar, Indonesia seperti China yang jadi incaran karena besarnya pasar,” kata Harris di Jakarta kemarin. Daya beli kelas menengah di Indonesia juga terus meningkat.
Pemerintah, kata dia, melalui Kemenperin terus berupaya mendorong investasi di dalam negeri, baik PMA maupun PMDN.Adapun investasi yang didorong masuk adalah yang bernilai tambah, memiliki dampak besar, dan berteknologi tinggi. “Dengan iklim investasi, serta berbagai insentif investasi, seperti tax holiday, semakin memacu arus investasi,” ujarnya.
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat Usman mengatakan, masalah politik antara China dan Jepang akan membuat Jepang lebih melihat Indonesia sebagai negara yang loyal. Investasi Jepang akan meningkat di Indonesia. Automotif dan elektronika Jepang di Indonesia lebih menguasai pasar ketimbang Korea Selatan.
Untuk TPT (tekstil dan produk tekstil), Jepang bukan negara yang fokus urusi ini karena sebagian besar sudah di-take over pengusaha Indonesia.
“Sedangkan China belum ada investasi yang pasti, baru garmen sekitar kurang dari 10 perusahaan yang sudah eksisting dibandingkan mereka di Vietnam dan Kamboja. Namun, Indonesia selalu menjadi pasar pembuangan barangbarang mereka,” kata Ade.
Sekjen Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Harry Warganegara menga-takan, kebijakan pemerintah terkait hilirisasi industri berbasis sumber daya alam (SDA) mulai berdampak positif terhadap peningkatan investasi di dalam negeri.
Harryoptimistispertumbuhan investasi akan terus berlangsung hingga tahun depan. Asalkan, kata dia, kebijakan pemerintah bisa mendukung inves-tasi. “Hipmi berharap investasi di sektor lain juga tumbuh, supaya Indonesia bisa mandiri. Masa HP dan televisi harus kita impor terus,” kata Harry.
(gpr)
Lihat Juga :