Budidaya Nilam, Bantaeng akan siapkan 10 Ha
Selasa, 25 September 2012 - 14:09 WIB
Budidaya Nilam, Bantaeng akan siapkan 10 Ha
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Kabupatemn (Pemkab) Bantaeng melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Bantaeng, berencana menyiapkan lahan seluas 10 Hektare (Ha) untuk tanaman Nilam.
Tanam yang merupakan bahan dasar parfum tersebut, menurut Kadishutbun Bantaeng Muhammad Hero, pihaknya memang baru pertama kali akan mengembangkan tanaman Nilam, karena melihat prospeknya yang bagus. “Nanti akan kami usulkan di APBD 2013 mendatang, mudah-mudahan bisa diterima di DPRD Bantaeng,” ungkap Hero, Selasa (25/9/2012).
Selain memiliki prospek yang bagus kata dia, juga akan membantu masyarakat yang membudidayakan Nilam. Mengenai anggarannya, pihaknya masih sementara menghitung. “Nanti kalau sudah rampung, akan saya perlihatkan detil-detil programnya. Yang pasti, tidak akan merugikan masyarakat,” jelas Hero.
Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan salah satu pengusaha Minyak Asitri yang berasal dari Nilam. Sehingga, dianggap memang memiliki potensi bagus. Salah seorang anggota DPRD Bantaeng Nurdin Halim, pihaknya memang sudah mendengar rencana tersebut, dan sangat setuju dengan program, yang dianggap sangat menguntungkan rakyat.
“Secara pribadi saya yakin bisa lolos di pembahasan nanti. Pokoknya saya all out untuk program Nilai tersebut,” jelas legislator asal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tersebut.
Menurut dia, hal yang dianggap menguntungkan petani terletak pada harga jual yang tinggi, dan memiliki prospek yang jelas, serta cocok dengan kondisi alam di Bantaeng. Sementara salah seorang pengusahan minyak asitri tersebut, Hanafi, dirinya mulai mengembangkan bisnis tersebut pada akhir 2011 lalu.
Menurut dia, dengan adanya produksi penyulingan nilam itu, maka petani nilam yang ada di Bantaeng tidak perlu pusing mencari pasaran nilam mereka. Dalam usaha nilam, menurut dia, yang paling utama adalah bibit, karena akan menentukan kadar kualitas dan rendemen minyak.
Dia mengaku telah melakukan survei dengan benih nilam dari beberapa daerah penghasil tanaman Nilam di Sulawesi seperti Palopo, Luwu dan Sulbar. “Namun,kami juga akan membeli daun Nilam kering dari Kabupaten Bantaeng, karena sekarang kualitasnya juga bagus,” ujar Hanafi.
Menurut dia, jika memang Pemkab juga bersedia kerjasama, maka sebaiknya Pemkab bersedia sebagai pengimpor hasil Nilam yang berasal dari Bantaeng, sehingga produksi di Bantaeng bisa lebih maju.
Tanam yang merupakan bahan dasar parfum tersebut, menurut Kadishutbun Bantaeng Muhammad Hero, pihaknya memang baru pertama kali akan mengembangkan tanaman Nilam, karena melihat prospeknya yang bagus. “Nanti akan kami usulkan di APBD 2013 mendatang, mudah-mudahan bisa diterima di DPRD Bantaeng,” ungkap Hero, Selasa (25/9/2012).
Selain memiliki prospek yang bagus kata dia, juga akan membantu masyarakat yang membudidayakan Nilam. Mengenai anggarannya, pihaknya masih sementara menghitung. “Nanti kalau sudah rampung, akan saya perlihatkan detil-detil programnya. Yang pasti, tidak akan merugikan masyarakat,” jelas Hero.
Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan salah satu pengusaha Minyak Asitri yang berasal dari Nilam. Sehingga, dianggap memang memiliki potensi bagus. Salah seorang anggota DPRD Bantaeng Nurdin Halim, pihaknya memang sudah mendengar rencana tersebut, dan sangat setuju dengan program, yang dianggap sangat menguntungkan rakyat.
“Secara pribadi saya yakin bisa lolos di pembahasan nanti. Pokoknya saya all out untuk program Nilai tersebut,” jelas legislator asal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tersebut.
Menurut dia, hal yang dianggap menguntungkan petani terletak pada harga jual yang tinggi, dan memiliki prospek yang jelas, serta cocok dengan kondisi alam di Bantaeng. Sementara salah seorang pengusahan minyak asitri tersebut, Hanafi, dirinya mulai mengembangkan bisnis tersebut pada akhir 2011 lalu.
Menurut dia, dengan adanya produksi penyulingan nilam itu, maka petani nilam yang ada di Bantaeng tidak perlu pusing mencari pasaran nilam mereka. Dalam usaha nilam, menurut dia, yang paling utama adalah bibit, karena akan menentukan kadar kualitas dan rendemen minyak.
Dia mengaku telah melakukan survei dengan benih nilam dari beberapa daerah penghasil tanaman Nilam di Sulawesi seperti Palopo, Luwu dan Sulbar. “Namun,kami juga akan membeli daun Nilam kering dari Kabupaten Bantaeng, karena sekarang kualitasnya juga bagus,” ujar Hanafi.
Menurut dia, jika memang Pemkab juga bersedia kerjasama, maka sebaiknya Pemkab bersedia sebagai pengimpor hasil Nilam yang berasal dari Bantaeng, sehingga produksi di Bantaeng bisa lebih maju.
(gpr)
Lihat Juga :