Laba PLN merosot tajam
Kamis, 27 September 2012 - 10:39 WIB
Laba PLN merosot tajam
A
A
A
Sindonews.com - PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mencatat penurunan laba bersih yang signifikan pada semester I/2012 sebesar 99,7 persen dari laba bersih periode yang sama tahun lalu sebesar Rp10,3 triliun menjadi Rp31 miliar.
Direktur Utama PLN Nur Pamudji menuturkan, anjloknya laba bersih BUMN kelistrikan itu diakibatkan rugi selisih kurs dan kenaikan beban keuangan. Menurut dia, pada semester I/2012, PLN mengalami kerugian kurs hingga Rp12 triliun akibat volume transaksi seperti pembelian gas dan listrik swasta yang meningkat tajam seiring adanya penambahan jumlah pelanggan dan volume penjualan.
“Kami terkapar oleh valuta asing, seperti beli gas untuk pembangkit dan pembelian listrik swasta. Memang bayarnya dalam rupiah, tetapi di indeks dalam dolar,” jelas dia di Jakarta kemarin.
Nur menjelaskan, sebagai BUMN, pihaknya tidak bisa melakukan lindung nilai (hedging) kurs dolar karena tidak ada aturan yang cukup mendukung untuk melakukan hal itu. Di samping itu, PLN juga tidak bisa leluasa seperti perusahaan-perusahaan swasta dalam melakukan tindakan pencegahan mengantisipasi rugi kurs
“Hedging itu kanbisa terjadi dan tidak terjadi. Nah, kalau tidak terjadi, PLN rugi di premi dan itu bisa dianggap merugikan negara, bisa dipenjara,” jelasnya.
Penyebab lain turunnya laba PLN, lanjut dia, adalah karena adanya aturan baru akuntansi yang berlaku secara internasional. Dalam sistem akuntansi terbaru, utang perusahaan pembangkit listrik swasta (independent power producer/IPP) dimasukkan dalam pembukuan PLN sehingga seolah-olah listrik swasta menjadi anak perusahaan BUMN tersebut.
Akibatnya, sebagai satu-satunya off-taker, beban utang perusahaan listrik swasta pun masuk dalam beban utang PLN. “Tapi, ini cuma masalah pembukuan, mungkin nanti di akhir tahun kami sajikan pembukuan tanpa aturan baru, sehingga orang dapat menganalisis secara apple to apple. Namun, saya tidak menjadikan hal ini sebagai solusi persoalan,” tuturnya.
Manajer Humas dan Komunikasi PLN Bambang Dwiyanto merinci, rugi akibat kurs pada paruh pertama tahun ini mencapai Rp6,74 triliun, berbanding dengan keuntungan Rp257,4 miliar pada semester I/2011. Sementara, beban keuangan meningkat 40,5 persen (year on year) menjadi Rp11,48 triliun, dari sebelumnya Rp8,15 triliun.
Meskipun laba bersih turun, sebenarnya pendapatan usaha perseroan pada semester I/2012 meningkat 11 persen menjadi Rp111,3 triliun, dari pendapatan usaha semester I/2011 sebesar Rp98,5 triliun. Peningkatan pendapatan usaha ini terutama berasal dari kenaikan penjualan tenaga listrik yang ditopang penambahan jumlah pelanggan dan penambahan volume penjualan.
PLN mencatat, peningkatan penjualan listrik sebesar 10,24 persen pada semester I/2012 menjadi 84,74 terawatt hour (TWh), dari 76,87 TWh pada periode yang sama tahun lalu.
Hal itu dipicu peningkatan konsumsi listrik, terutama di sektor industri dan rumah tangga. Pertumbuhan konsumsi listrik pelanggan rumah tangga terbesar yakni pelanggan listrik berdaya 1.300 volt ampere (VA), tumbuh 28,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 24,2 persen. Penambahan konsumsi listrik pelanggan rumah tangga ini dipicu adanya sambung daya gratis dari pelanggan 900 VA ke 1.300 VA.
PLN telah menambah 2,18 juta pelanggan baru hingga semester I/2012, atau sekitar 87,2 persen dari target penambahan tahun ini sebanyak 2,5 juta pelanggan baru. Sementara beban usaha sepanjang semester I/2012 tercatat sebesar Rp94,9 triliun, meningkat 8 persen dibandingkan semester I/2011 yang mencatatkan angka Rp86,7 triliun.
Meningkatnya beban usaha terjadi karena naiknya konsumsi bahan bakar dan pelumas serta pembelian tenaga listrik untuk memenuhi peningkatan permintaan listrik. Meningkatnya beban usaha juga disebabkan naiknya nilai penyusutan seiring bertambahnya jumlah aset perseroan.
Menanggapi kinerja BUMN kelistrikan tersebut, Wakil Direktur ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan bahwa keterlambatan pengoperasian sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dalam proyek 10.000 MW tahap I ikut mendorong peningkatan beban usaha PLN.
Biaya sewa pembangkit dan pembelian listrik swasta oleh PLN akhirnya meningkat untuk memenuhi pertumbuhan konsumsi listrik. “Pengoperasian proyek 10.000 MW tahap I sudah dihitung masuk dalam komponen penurun biaya pokok produksi, tapi ternyata rencananya gagal total sehingga akhirnya biaya produksi listrik meningkat dibandingkan asumsi,” ujarnya.
Direktur Utama PLN Nur Pamudji menuturkan, anjloknya laba bersih BUMN kelistrikan itu diakibatkan rugi selisih kurs dan kenaikan beban keuangan. Menurut dia, pada semester I/2012, PLN mengalami kerugian kurs hingga Rp12 triliun akibat volume transaksi seperti pembelian gas dan listrik swasta yang meningkat tajam seiring adanya penambahan jumlah pelanggan dan volume penjualan.
“Kami terkapar oleh valuta asing, seperti beli gas untuk pembangkit dan pembelian listrik swasta. Memang bayarnya dalam rupiah, tetapi di indeks dalam dolar,” jelas dia di Jakarta kemarin.
Nur menjelaskan, sebagai BUMN, pihaknya tidak bisa melakukan lindung nilai (hedging) kurs dolar karena tidak ada aturan yang cukup mendukung untuk melakukan hal itu. Di samping itu, PLN juga tidak bisa leluasa seperti perusahaan-perusahaan swasta dalam melakukan tindakan pencegahan mengantisipasi rugi kurs
“Hedging itu kanbisa terjadi dan tidak terjadi. Nah, kalau tidak terjadi, PLN rugi di premi dan itu bisa dianggap merugikan negara, bisa dipenjara,” jelasnya.
Penyebab lain turunnya laba PLN, lanjut dia, adalah karena adanya aturan baru akuntansi yang berlaku secara internasional. Dalam sistem akuntansi terbaru, utang perusahaan pembangkit listrik swasta (independent power producer/IPP) dimasukkan dalam pembukuan PLN sehingga seolah-olah listrik swasta menjadi anak perusahaan BUMN tersebut.
Akibatnya, sebagai satu-satunya off-taker, beban utang perusahaan listrik swasta pun masuk dalam beban utang PLN. “Tapi, ini cuma masalah pembukuan, mungkin nanti di akhir tahun kami sajikan pembukuan tanpa aturan baru, sehingga orang dapat menganalisis secara apple to apple. Namun, saya tidak menjadikan hal ini sebagai solusi persoalan,” tuturnya.
Manajer Humas dan Komunikasi PLN Bambang Dwiyanto merinci, rugi akibat kurs pada paruh pertama tahun ini mencapai Rp6,74 triliun, berbanding dengan keuntungan Rp257,4 miliar pada semester I/2011. Sementara, beban keuangan meningkat 40,5 persen (year on year) menjadi Rp11,48 triliun, dari sebelumnya Rp8,15 triliun.
Meskipun laba bersih turun, sebenarnya pendapatan usaha perseroan pada semester I/2012 meningkat 11 persen menjadi Rp111,3 triliun, dari pendapatan usaha semester I/2011 sebesar Rp98,5 triliun. Peningkatan pendapatan usaha ini terutama berasal dari kenaikan penjualan tenaga listrik yang ditopang penambahan jumlah pelanggan dan penambahan volume penjualan.
PLN mencatat, peningkatan penjualan listrik sebesar 10,24 persen pada semester I/2012 menjadi 84,74 terawatt hour (TWh), dari 76,87 TWh pada periode yang sama tahun lalu.
Hal itu dipicu peningkatan konsumsi listrik, terutama di sektor industri dan rumah tangga. Pertumbuhan konsumsi listrik pelanggan rumah tangga terbesar yakni pelanggan listrik berdaya 1.300 volt ampere (VA), tumbuh 28,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 24,2 persen. Penambahan konsumsi listrik pelanggan rumah tangga ini dipicu adanya sambung daya gratis dari pelanggan 900 VA ke 1.300 VA.
PLN telah menambah 2,18 juta pelanggan baru hingga semester I/2012, atau sekitar 87,2 persen dari target penambahan tahun ini sebanyak 2,5 juta pelanggan baru. Sementara beban usaha sepanjang semester I/2012 tercatat sebesar Rp94,9 triliun, meningkat 8 persen dibandingkan semester I/2011 yang mencatatkan angka Rp86,7 triliun.
Meningkatnya beban usaha terjadi karena naiknya konsumsi bahan bakar dan pelumas serta pembelian tenaga listrik untuk memenuhi peningkatan permintaan listrik. Meningkatnya beban usaha juga disebabkan naiknya nilai penyusutan seiring bertambahnya jumlah aset perseroan.
Menanggapi kinerja BUMN kelistrikan tersebut, Wakil Direktur ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan bahwa keterlambatan pengoperasian sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dalam proyek 10.000 MW tahap I ikut mendorong peningkatan beban usaha PLN.
Biaya sewa pembangkit dan pembelian listrik swasta oleh PLN akhirnya meningkat untuk memenuhi pertumbuhan konsumsi listrik. “Pengoperasian proyek 10.000 MW tahap I sudah dihitung masuk dalam komponen penurun biaya pokok produksi, tapi ternyata rencananya gagal total sehingga akhirnya biaya produksi listrik meningkat dibandingkan asumsi,” ujarnya.
(gpr)
Lihat Juga :