Mie ala preman beromset ratusan juta
Minggu, 30 September 2012 - 13:30 WIB
Mie ala preman beromset ratusan juta
A
A
A
Sindonews.com - Konsentrasi pada sebuah nama merupakan strategi andalan dalam memulai langkah bisnis. Walaupun terkadang sedikit tidak masuk akal, namun banyak hasil yang membuktikan bahwa nama usaha bisa menghasilkan tumpukan rupiah.
Yoga Prasetya, mahasiswa semester akhir Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung telah membuktikannya. Dia bersama saudara dan seorang temannya membuka bisnis kuliner mie, dengan nama yang berbeda dari nama pada umumnya. Usaha mienya diberi label Mie Reman, yang mulai berdiri pada tahun 2011.
Kepada Sindonews.com, Yoga bercerita, nama tersebut tidak jauh dari unsur premanisme. Bukan hanya nama, konsep yang diusung juga dipenuhi tindak kekerasan.
"Kalau orang terkenal dengan mie ramen. Ini Mie Reman, yaitu mie-nya preman. Jadi, filosofinya itu makan mie seperti ditonjok preman," ucapnya.
Yoga mengaku, konsep ini muncul dari hasil pemikiran bersama dua orang pendiri lainnya. Menurut dia, konsep tersebut sangat menarik dan belum ada di kota kembang.
Pelayanan dan suasana kedai (outlet) tidak biasa akan ditemui pengunjung ketika bertandang ke tempat ini. Yoga menuturkan, ketika pengunjung datang akan langsung disuguhi kerasnya warna merah pada suasana kedainya. Tidak berhenti di sana, menu kuliner yang tersedia menantang pengunjung untuk bersiap dihadang pedasnya mie layaknya bertemu preman.
"Kita sediakan menu Mie Reman level satu dilihatin, level dua disamperin, level tiga ditepok, level empat dipalak dan level lima dikeroyok. Lebih dari itu, namanya ngeroyok reman," tuturnya sambil tertawa.
Pengunjung bisa memilih level menu di tempat ini, sesuai dengan selera dan kemampuan lidah pengunjung menahan pedas. Untuk mencoba mie dengan sajian tidak biasa tersebut, pengunjung bisa mendatangi kedainya di Jalan Teuku Umar dan Jalan Braga, Kota Bandung. Hanya dengan merogoh kocek Rp10.000 per porsi, pengunjung sudah bisa menikmatinya.
Yoga menuturkan, modal awal memulai bisnis Mie Reman hanya Rp500 ribu per orang. Menurutnya, usaha Mie Reman bukan usaha yang dilakukan kali pertama, melainkan setelah sempat menderita kebangkrutan pada bisnis kuliner sebelumnya. Kendati sempat merugi, dia mengaku, tidak gentar untuk memulai bisnis baru, meski status mahasiswa fakultas hukum masih tersandang di bahunya.
Hasilnya saat ini, tiga sekawan ini telah berhasil mempekerjakan 55 orang untuk melayani pembeli dari pukul 10.00- 22.00 WIB setiap harinya. "Dulunya kita mulai dari usaha kaki lima loh," ungkap Yoga.
Sementara kendala terberat dalam menjalankan usaha Mie Reman selama lebih dari setahun ini, terletak pada sumber daya manusia (SDM) dan lingkungan yang cenderung tidak bersahabat. Namun, dengan kegigihan
dan jiwa pantang menyerahnya, usaha Mie Reman bisa meraup omset sekitar Rp150 juta tiap bulannya.
Omset yang diperolehnya tidak terlepas dari strategi pemasaran yang dilakukan, yakni dengan mengandalkan sosial media twitter. Cara tersebut, dinilai lebih efektif dan efisien dibanding cara lainnya. Sedangkan untuk sasaran konsumen, dia mengaku lebih menyasar konsumen secara umum. Meski sebelumnya lebih tertuju pada konsumen anak muda.
Diujung obrolan, Yoga memberikan saran kepada para mahasiswa maupun anak muda, yang ingin mengembangkan atau memulai usaha. "Kalau yang ingin (membuka usaha) memang banyak, tapi hanya ingin. (Mereka) harus action, jangan terlalu banyak memikirkan resiko karena kendala sudah pasti ada. Apapun pilihannya, kendala itu akan ada dan harus berani untuk melewatinya," tutup Yoga.
Yoga Prasetya, mahasiswa semester akhir Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung telah membuktikannya. Dia bersama saudara dan seorang temannya membuka bisnis kuliner mie, dengan nama yang berbeda dari nama pada umumnya. Usaha mienya diberi label Mie Reman, yang mulai berdiri pada tahun 2011.
Kepada Sindonews.com, Yoga bercerita, nama tersebut tidak jauh dari unsur premanisme. Bukan hanya nama, konsep yang diusung juga dipenuhi tindak kekerasan.
"Kalau orang terkenal dengan mie ramen. Ini Mie Reman, yaitu mie-nya preman. Jadi, filosofinya itu makan mie seperti ditonjok preman," ucapnya.
Yoga mengaku, konsep ini muncul dari hasil pemikiran bersama dua orang pendiri lainnya. Menurut dia, konsep tersebut sangat menarik dan belum ada di kota kembang.
Pelayanan dan suasana kedai (outlet) tidak biasa akan ditemui pengunjung ketika bertandang ke tempat ini. Yoga menuturkan, ketika pengunjung datang akan langsung disuguhi kerasnya warna merah pada suasana kedainya. Tidak berhenti di sana, menu kuliner yang tersedia menantang pengunjung untuk bersiap dihadang pedasnya mie layaknya bertemu preman.
"Kita sediakan menu Mie Reman level satu dilihatin, level dua disamperin, level tiga ditepok, level empat dipalak dan level lima dikeroyok. Lebih dari itu, namanya ngeroyok reman," tuturnya sambil tertawa.
Pengunjung bisa memilih level menu di tempat ini, sesuai dengan selera dan kemampuan lidah pengunjung menahan pedas. Untuk mencoba mie dengan sajian tidak biasa tersebut, pengunjung bisa mendatangi kedainya di Jalan Teuku Umar dan Jalan Braga, Kota Bandung. Hanya dengan merogoh kocek Rp10.000 per porsi, pengunjung sudah bisa menikmatinya.
Yoga menuturkan, modal awal memulai bisnis Mie Reman hanya Rp500 ribu per orang. Menurutnya, usaha Mie Reman bukan usaha yang dilakukan kali pertama, melainkan setelah sempat menderita kebangkrutan pada bisnis kuliner sebelumnya. Kendati sempat merugi, dia mengaku, tidak gentar untuk memulai bisnis baru, meski status mahasiswa fakultas hukum masih tersandang di bahunya.
Hasilnya saat ini, tiga sekawan ini telah berhasil mempekerjakan 55 orang untuk melayani pembeli dari pukul 10.00- 22.00 WIB setiap harinya. "Dulunya kita mulai dari usaha kaki lima loh," ungkap Yoga.
Sementara kendala terberat dalam menjalankan usaha Mie Reman selama lebih dari setahun ini, terletak pada sumber daya manusia (SDM) dan lingkungan yang cenderung tidak bersahabat. Namun, dengan kegigihan
dan jiwa pantang menyerahnya, usaha Mie Reman bisa meraup omset sekitar Rp150 juta tiap bulannya.
Omset yang diperolehnya tidak terlepas dari strategi pemasaran yang dilakukan, yakni dengan mengandalkan sosial media twitter. Cara tersebut, dinilai lebih efektif dan efisien dibanding cara lainnya. Sedangkan untuk sasaran konsumen, dia mengaku lebih menyasar konsumen secara umum. Meski sebelumnya lebih tertuju pada konsumen anak muda.
Diujung obrolan, Yoga memberikan saran kepada para mahasiswa maupun anak muda, yang ingin mengembangkan atau memulai usaha. "Kalau yang ingin (membuka usaha) memang banyak, tapi hanya ingin. (Mereka) harus action, jangan terlalu banyak memikirkan resiko karena kendala sudah pasti ada. Apapun pilihannya, kendala itu akan ada dan harus berani untuk melewatinya," tutup Yoga.
(rna)
Lihat Juga :