Manufaktur Asia masih melemah
Selasa, 02 Oktober 2012 - 09:06 WIB
Manufaktur Asia masih melemah
A
A
A
Sindonews.com – Manufaktur Asia terus berjuang menghadapi lemahnya permintaan dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Hal tersebut menggarisbawahi masih rapuhnya perekonomian global.
Reuters kemarin mengutip, saat ini nilai ekuitas dan pasar komoditas yang tergelincir di Asia menyebabkan indeks belanja manajer (purchasing manager index/PMI) manufaktur China terkontraksi untuk kali kedua pada September lalu yakni hanya 49,8. Indeks yang menunjukkan aktivitas belanja perusahaan itu masih terkontraksi kendati mulai melambat setelah pada bulan sebelumnya berada di level 49,2.
Sekadar informasi, angka PMI di atas 50 menunjukkan adanya ekspansi kegiatan ekonomi, sedangkan di bawah 50 menandakan terjadi kontraksi atau penurunan. Meskipun aktivitas manufaktur pada September mulai membaik, manufaktur China masih harus berjuang karena masih berada di bawah angka 50.
Kondisi tersebut tidak lepas dari lemahnya pertumbuhan ekonomi China yang hanya 7,6% pada periode April–Juni, terendah dalam tiga tahun sejak puncak krisis keuangan global. Kendati demikian, Pemerintah China meyakini target pertumbuhan tahun ini sebesar 7,5% akan tercapai. Sebagai perbandingan, tahun lalu produk domestik bruto (PDB) tumbuh 9,3% dan 10,4% pada 2010.
Selain di China,pelemahan sektor manufaktur juga terjadi di Jepang. Penyebabnya, permintaan domestik dan luar negeri yang merosot yang diperparah permasalahan sengketa pembelian pulau dengan China. Dalam survei Tankan yang dirilis Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) kemarin disebutkan bahwa sentimen bisnis di antara produsen Negeri Sakura anjlok menjadi -3 pada September, lebih buruk dibanding survei sebelumnya pada Juni lalu yang hanya -1.
Kepala ekonom Barclays Capital Kyohei Morita mengatakan, survei terbaru menunjukkan masih lemahnya permintaan luar negeri. Data ekspor lebih lemah dari yang diperkirakan, sedangkan pengeluaran konsumen domestik pulih lebih lambat dari yang diprediksi. “Poin dari survei Tankan yang terbaru adalah permintaan luar negeri masih lambat,” ujarnya dikutip AFP kemarin.
Dia menambahkan, menjelang akhir tahun perhatian harus diberikan kepada bagaimana nasib China dan negara lainnya di luar negeri. Sebelumnya, guna membantu pemerintah menggenjot perekonomian, BoJ mengumumkan program pembelian surat utang senilai USD128 miliar. Jumlah tersebut menjadikan program serupa yang digelar sejak krisis keuangan global 2008–2009 lalu mencapai USD1 triliun.
Sementara Reuters juga melaporkan, PMI Taiwan jatuh ke titik terendah dalam 10 bulan dengan penurunan tajam dalam pesanan ekspor baru sejak November 2011. Di New Delhi, HSBC India melaporkan, indeks belanja manajer (PMI) Negeri Bollywood pada September lalu tetap di level 52,8 poin,tidak berubah dari posisi sebelumnya. Survei manufaktur India dilakukan oleh HSBC melibatkan 500 perusahaan yang berberak di berbagai sektor.
Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas perusahaan- perusahaan di India pada bulan lalu relatif stabil kendati cenderung stagnan. Namun, hal itu menunjukkan ekspansi ekonomi terlemah dalam sembilan bulan terakhir. “Manufaktur India cukup stabil. Aktivitas ekonominya didukung pertumbuhan output dan ekspor,” kata Kepala Ekonom HSBC India Leif Eskesen.
Baru-baru ini India meluncurkan program reformasi ekonomi untuk menggenjot pertumbuhan. Salah satunya dengan membuka kran investasi peritel asing. Strategi ini dilakukan guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang saat ini mandek di level 5,5%, terendah dalam tiga tahun terakhir.
Reuters kemarin mengutip, saat ini nilai ekuitas dan pasar komoditas yang tergelincir di Asia menyebabkan indeks belanja manajer (purchasing manager index/PMI) manufaktur China terkontraksi untuk kali kedua pada September lalu yakni hanya 49,8. Indeks yang menunjukkan aktivitas belanja perusahaan itu masih terkontraksi kendati mulai melambat setelah pada bulan sebelumnya berada di level 49,2.
Sekadar informasi, angka PMI di atas 50 menunjukkan adanya ekspansi kegiatan ekonomi, sedangkan di bawah 50 menandakan terjadi kontraksi atau penurunan. Meskipun aktivitas manufaktur pada September mulai membaik, manufaktur China masih harus berjuang karena masih berada di bawah angka 50.
Kondisi tersebut tidak lepas dari lemahnya pertumbuhan ekonomi China yang hanya 7,6% pada periode April–Juni, terendah dalam tiga tahun sejak puncak krisis keuangan global. Kendati demikian, Pemerintah China meyakini target pertumbuhan tahun ini sebesar 7,5% akan tercapai. Sebagai perbandingan, tahun lalu produk domestik bruto (PDB) tumbuh 9,3% dan 10,4% pada 2010.
Selain di China,pelemahan sektor manufaktur juga terjadi di Jepang. Penyebabnya, permintaan domestik dan luar negeri yang merosot yang diperparah permasalahan sengketa pembelian pulau dengan China. Dalam survei Tankan yang dirilis Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) kemarin disebutkan bahwa sentimen bisnis di antara produsen Negeri Sakura anjlok menjadi -3 pada September, lebih buruk dibanding survei sebelumnya pada Juni lalu yang hanya -1.
Kepala ekonom Barclays Capital Kyohei Morita mengatakan, survei terbaru menunjukkan masih lemahnya permintaan luar negeri. Data ekspor lebih lemah dari yang diperkirakan, sedangkan pengeluaran konsumen domestik pulih lebih lambat dari yang diprediksi. “Poin dari survei Tankan yang terbaru adalah permintaan luar negeri masih lambat,” ujarnya dikutip AFP kemarin.
Dia menambahkan, menjelang akhir tahun perhatian harus diberikan kepada bagaimana nasib China dan negara lainnya di luar negeri. Sebelumnya, guna membantu pemerintah menggenjot perekonomian, BoJ mengumumkan program pembelian surat utang senilai USD128 miliar. Jumlah tersebut menjadikan program serupa yang digelar sejak krisis keuangan global 2008–2009 lalu mencapai USD1 triliun.
Sementara Reuters juga melaporkan, PMI Taiwan jatuh ke titik terendah dalam 10 bulan dengan penurunan tajam dalam pesanan ekspor baru sejak November 2011. Di New Delhi, HSBC India melaporkan, indeks belanja manajer (PMI) Negeri Bollywood pada September lalu tetap di level 52,8 poin,tidak berubah dari posisi sebelumnya. Survei manufaktur India dilakukan oleh HSBC melibatkan 500 perusahaan yang berberak di berbagai sektor.
Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas perusahaan- perusahaan di India pada bulan lalu relatif stabil kendati cenderung stagnan. Namun, hal itu menunjukkan ekspansi ekonomi terlemah dalam sembilan bulan terakhir. “Manufaktur India cukup stabil. Aktivitas ekonominya didukung pertumbuhan output dan ekspor,” kata Kepala Ekonom HSBC India Leif Eskesen.
Baru-baru ini India meluncurkan program reformasi ekonomi untuk menggenjot pertumbuhan. Salah satunya dengan membuka kran investasi peritel asing. Strategi ini dilakukan guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang saat ini mandek di level 5,5%, terendah dalam tiga tahun terakhir.
(rna)
Lihat Juga :