Perdagangan global melambat
Selasa, 02 Oktober 2012 - 10:18 WIB
Perdagangan global melambat
A
A
A
Sindonews.com – Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) menyatakan, tahun ini perdagangan global hanya akan tumbuh 2,5%, melambat dibanding tahun 2011 yang tumbuh 5%.
Proyeksi tersebut didasarkan oleh masih melemahnya perekonomian dunia terutama di Amerika Serikat (AS), Eropa dan China serta turunnya ekspor di beberapa negara produsen.
”Kami memproyeksikan volume perdagangan barang global akan melemah, jauh di atas pertumbuhan 2010 lalu yang naik hingga 14%,” ujar WTO dikutip Wall Street Journal, Minggu (30/9) malam waktu setempat.
Proyeksi melemahnya sektor perdagangan juga disampaikan Biro Analis Kebijakan Ekonomi Belanda (CPB) yang memperkirakan perdagangan global akan melemah hingga Juni dan Juli. Hal ini diperkuat hasil analisa dari Capital Economics London yang juga menyatakan bahwa permasalahan utang di negara maju khususnya zona euro terus menyebar ke seluruh dunia.
”Saat ini semua orang terseret masuk ke dalamnya,” kata Andrew Kenningham, ekonom senior Capital Economics.
Analis lainnya, Tom Porcelli dari RBS Capital Markets menyatakan bahwa pergeseran perdagangan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap ekonomi Paman Sam. Pasalnya, ekspor AS saat ini merupakan kontributor utama pertumbuhan negara tersebut.
”Ekspor telah menyumbang hampir setengah dari pertumbuhan ekonomi AS selama pemulihan, dibandingkan dengan rata-rata 12% dari pertumbuhan siklus ekonomi selama empat dekade,” paparnya.
Dia menambahkan, perusahaan- perusahaan AS mungkin menurunkan perkiraan pertumbuhan globalnya dalam beberapa pekan mendatang, bersamaan dengan persiapan laporan pendapatan kuartal III. Menurut Porcelli, pelambatan perdagangan berpotensi menghambat tujuan pemerintahan Presiden Barack Obama yang berambisi menggandakan ekspor dalam lima tahun sejak 2009 lalu.
Saat itu Obama berjanji meningkatkan manufaktur AS serta menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan. Namun, target tersebut meleset karena saat ini pengangguran masih di level 8,1%.
Proyeksi perdagangan dari WTO yang baru akan dirilis pada pertemuan tahunan di Tokyo, Jepang, pekan depan menunjukkan perlambatan global dapat memperburuk seluruh perekonomian global.
Proyeksi tersebut didasarkan oleh masih melemahnya perekonomian dunia terutama di Amerika Serikat (AS), Eropa dan China serta turunnya ekspor di beberapa negara produsen.
”Kami memproyeksikan volume perdagangan barang global akan melemah, jauh di atas pertumbuhan 2010 lalu yang naik hingga 14%,” ujar WTO dikutip Wall Street Journal, Minggu (30/9) malam waktu setempat.
Proyeksi melemahnya sektor perdagangan juga disampaikan Biro Analis Kebijakan Ekonomi Belanda (CPB) yang memperkirakan perdagangan global akan melemah hingga Juni dan Juli. Hal ini diperkuat hasil analisa dari Capital Economics London yang juga menyatakan bahwa permasalahan utang di negara maju khususnya zona euro terus menyebar ke seluruh dunia.
”Saat ini semua orang terseret masuk ke dalamnya,” kata Andrew Kenningham, ekonom senior Capital Economics.
Analis lainnya, Tom Porcelli dari RBS Capital Markets menyatakan bahwa pergeseran perdagangan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap ekonomi Paman Sam. Pasalnya, ekspor AS saat ini merupakan kontributor utama pertumbuhan negara tersebut.
”Ekspor telah menyumbang hampir setengah dari pertumbuhan ekonomi AS selama pemulihan, dibandingkan dengan rata-rata 12% dari pertumbuhan siklus ekonomi selama empat dekade,” paparnya.
Dia menambahkan, perusahaan- perusahaan AS mungkin menurunkan perkiraan pertumbuhan globalnya dalam beberapa pekan mendatang, bersamaan dengan persiapan laporan pendapatan kuartal III. Menurut Porcelli, pelambatan perdagangan berpotensi menghambat tujuan pemerintahan Presiden Barack Obama yang berambisi menggandakan ekspor dalam lima tahun sejak 2009 lalu.
Saat itu Obama berjanji meningkatkan manufaktur AS serta menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan. Namun, target tersebut meleset karena saat ini pengangguran masih di level 8,1%.
Proyeksi perdagangan dari WTO yang baru akan dirilis pada pertemuan tahunan di Tokyo, Jepang, pekan depan menunjukkan perlambatan global dapat memperburuk seluruh perekonomian global.
(rna)
Lihat Juga :