Setoran 6 BUMD Bojonegoro minim
Minggu, 07 Oktober 2012 - 15:37 WIB
Setoran 6 BUMD Bojonegoro minim
A
A
A
Sindonews.com - Enam Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemkab Bojonegoro belum memberikan pemasukan maksimal bagi kas daerah. Pada Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (P APBD) Bojonegoro 2012 disebutkan pemasukan dari enam BUMD tersebut hanya Rp11 miliar.
Sebelum P APBD, pemasukan dari enam BUMD milik Pemkab Bojonegoro ditargetkan sebesar Rp14 miliar. Enam BUMD milik Pemkab Bojonegoro yakni PT Bangun Bangkit Sarana (BBS) yang bergerak di bidang usaha minyak dan gas bumi, PT Asri Dharma Sejahtera (ADS) bergerak di bidang usaha migas, Apotik Sidowaras, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bojonegoro, dan Bank Pasar Bojonegoro.
“Enam BUMD milik Pemkab Bojonegoro belum memberikan pemasukan berarti bagi kas daerah,” ujar Staf Ahli Fraksi PKS DPRD Bojonegoro, Yudi Sulistiyo, Minggu (7/10/2012).
Ia menyebutkan, Apotik Sidowaras misalnya mempunyai aset senilai Rp3 miliar. Apotik ini mengelola omzet dari dana Askes per tahun mencapai Rp2 miliar. Namun, kata Yudi, Apotik Sidowaras ini hanya memberikan pemasukan pada kas daerah sekitar Rp50 juta per tahun. “Pemasukan itu kecil sekali mengingat jumlah omzetnya yang besar,” ujar Yudi.
Ia mengatakan, pengelolaan enam BUMD milik Pemkab Bojonegoro itu harus lebih profesional dan dapat memberikan kontribusi maksimal pada daerah. Badan usaha daerah yang tidak dapat memberikan pemasukan maksimal perlu dibenahi total.
Ia menjelaskan, pendapatan asli daerah (PAD) Bojonegoro sebelum P APBD Bojonegoro 2012 sebanyak Rp134 miliar. Sedangkan, PAD dalam P APBD ditetapkan sebesar Rp150 miliar. Pendapatan yang paling besar berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro sebesar Rp49 miliar. Selain itu, pendapatan dari penerangan jalan umum (PJU) sebesar Rp16 miliar.
Kemampuan APBD Bojonegoro sebelum P APBD sebesar Rp1,57 triliun. Sedangkan, kemampuan setelah P APBD 2012 sebesar Rp1,899 triliun. Sementara itu, belanja modal yakni belanja untuk proyek pembangunan jalan, jembatan, dan infrastruktur yang langsung bersentuhan dengan masyarakat ditetapkan sebesar Rp216 miliar.
“Penyerapan anggaran untuk proyek yang bersentuhan langsung dengan publik sangat rendah. Per 31 Agustus 2012 terindikasi penyerapan anggaran di bawah 30 persen. Ini sangat merugikan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Bupati Bojonegoro, Suyoto, hingga akhir tahun ini anggaran akan diprioritaskan untuk pembangunan bidang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. “Pembangunan jalan dan jembatan penghubung antardesa dan kecamatan akan diprioritaskan,” ujarnya saat penyampaian Nota Keuangan di DPRD Bojonegoro beberapa waktu lalu.
Sebelum P APBD, pemasukan dari enam BUMD milik Pemkab Bojonegoro ditargetkan sebesar Rp14 miliar. Enam BUMD milik Pemkab Bojonegoro yakni PT Bangun Bangkit Sarana (BBS) yang bergerak di bidang usaha minyak dan gas bumi, PT Asri Dharma Sejahtera (ADS) bergerak di bidang usaha migas, Apotik Sidowaras, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bojonegoro, dan Bank Pasar Bojonegoro.
“Enam BUMD milik Pemkab Bojonegoro belum memberikan pemasukan berarti bagi kas daerah,” ujar Staf Ahli Fraksi PKS DPRD Bojonegoro, Yudi Sulistiyo, Minggu (7/10/2012).
Ia menyebutkan, Apotik Sidowaras misalnya mempunyai aset senilai Rp3 miliar. Apotik ini mengelola omzet dari dana Askes per tahun mencapai Rp2 miliar. Namun, kata Yudi, Apotik Sidowaras ini hanya memberikan pemasukan pada kas daerah sekitar Rp50 juta per tahun. “Pemasukan itu kecil sekali mengingat jumlah omzetnya yang besar,” ujar Yudi.
Ia mengatakan, pengelolaan enam BUMD milik Pemkab Bojonegoro itu harus lebih profesional dan dapat memberikan kontribusi maksimal pada daerah. Badan usaha daerah yang tidak dapat memberikan pemasukan maksimal perlu dibenahi total.
Ia menjelaskan, pendapatan asli daerah (PAD) Bojonegoro sebelum P APBD Bojonegoro 2012 sebanyak Rp134 miliar. Sedangkan, PAD dalam P APBD ditetapkan sebesar Rp150 miliar. Pendapatan yang paling besar berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro sebesar Rp49 miliar. Selain itu, pendapatan dari penerangan jalan umum (PJU) sebesar Rp16 miliar.
Kemampuan APBD Bojonegoro sebelum P APBD sebesar Rp1,57 triliun. Sedangkan, kemampuan setelah P APBD 2012 sebesar Rp1,899 triliun. Sementara itu, belanja modal yakni belanja untuk proyek pembangunan jalan, jembatan, dan infrastruktur yang langsung bersentuhan dengan masyarakat ditetapkan sebesar Rp216 miliar.
“Penyerapan anggaran untuk proyek yang bersentuhan langsung dengan publik sangat rendah. Per 31 Agustus 2012 terindikasi penyerapan anggaran di bawah 30 persen. Ini sangat merugikan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Bupati Bojonegoro, Suyoto, hingga akhir tahun ini anggaran akan diprioritaskan untuk pembangunan bidang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. “Pembangunan jalan dan jembatan penghubung antardesa dan kecamatan akan diprioritaskan,” ujarnya saat penyampaian Nota Keuangan di DPRD Bojonegoro beberapa waktu lalu.
(gpr)
Lihat Juga :