Sampai 2016, Bandung diproyeksikan berkembang pesat
Senin, 08 Oktober 2012 - 17:00 WIB
Sampai 2016, Bandung diproyeksikan berkembang pesat
A
A
A
Sindonews.com - Sampai tahun 2016, pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung diperkirakan akan terus membaik, apabila pembangunan insftarsuktur berjalan sesuai rencana.
Ketua Kadin Kota Bandung Deden Y Hidayat memperkirakan adanya lonjakan pertumbuhan ekonomi, sejalan dengan pembangunan insfrastruktur tol dalam kota, monorel, kereta gantung, dan lainnya sampai tahun 2016.
Termasuk rencana pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka. Pembangunan tersebut, diperkirakan akan memunculkan pusat ekonomi baru.
“Pembangunan tol dalam kota, akan bermunculan pusat-pusat keramaian baru di Kota Bandung. Bandung akan mengalami pertumbuhan ekonomi signifikan. Belum lagi keberadaan Bandara BIJB yang juga akan berimbas terhadap ekonomi kota ini,” kata Deden Y Hidayat di sela-sela seminar yang digelar Forum Diskusi Wartawan Ekonomi (Fordisweb) di Graha Kadin, Kota Bandung, Senin (8/10/2012).
Menurut dia, sejumlah sektor ekonomi akan tumbuh signifikan seperti bisnis pada sektor pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan. Beberapa elemen tersebut, akan menjadi tonggak pertumbuhan ekonomi masyarakat Bandung. Namun demikian, agar pertumbuhan ekonomi Bandung bisa dirasakan dampaknya oleh masyarakat, pemerintah harus mengatur skema bisnis.
Termasuk memaksimalkan serapan pajak daerah. Diakui Deden, serapan Pendapatan Asli Daerah (PAD) ke Kota Bandung masih sangat minim. Padahal, potensinya masih sangat besar. Tahun ini, PAD Kota Bandung diprediksi sekitar Rp550 miliar. Jumlah tersebut tidak sebanding dengan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Rp2,4 triliun.
“Bandung masih perlu investor. Paling tidak, mereka bisa ikut terlibat pada pembangunan insfrastruktur kota untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Tapi, untuk meyakinkan investor, perlu kepastian hukum, kenyamanan, dan kepastian bisnis.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Pasundan (Unpas) Acuviarta Kartabi mengatakan, Kota Bandung berpotensi mencatat pertumbuhan ekonomi jauh di atas nasional. Pembangunan insfrastruktur disertai perencanaan pembangunan yang matang akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
“Tahun 1999, pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung tercatat pernah mencapai 11 persen. Artinya, Bandung punya sejarah cukup baik,” kata Acuviarta.
Namun, Bandung akan mencatat pertumbuhan ekonomi membanggakan apabila didukung perencanaan yang matang terhadap pengembangan insfrastruktur terutama jalan. Diakui dia, kondisi jalan yang kurang memadai saat ini menjadi kendala dalam pengembangan beberapa sektor seperti pariwisata.
Walaupun, Acuviarta mengakui, minimnya perbaikan jalan tak lepas dari rendahnya alokasi APBD untuk insfrastruktur. Tahun ini saja, dana insftarsuktur hanya sekitar Rp60 miliar dan hanya cukup untuk memperbaiki sekitar 45 km jalan.
Paling tidak, lanjut dia, pemerintah harus mengalokasikan 25 persen APBD untuk infarstruktur. “PAD kita sangat rendah. Semestinya, Bandung bisa menggali PAD sampai Rp1,5 triliun. Itu bisa saja dicapai apabila pemerintah serius menggali potensi PAD lainnya. Seperti dari jasa parker dan reklame. Atau memanfaatkan asset Pemkot Bandung yang saat ini nilainya diperkirakan mencapai Rp18 triliun,” beber dia.
Ketua Kadin Kota Bandung Deden Y Hidayat memperkirakan adanya lonjakan pertumbuhan ekonomi, sejalan dengan pembangunan insfrastruktur tol dalam kota, monorel, kereta gantung, dan lainnya sampai tahun 2016.
Termasuk rencana pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka. Pembangunan tersebut, diperkirakan akan memunculkan pusat ekonomi baru.
“Pembangunan tol dalam kota, akan bermunculan pusat-pusat keramaian baru di Kota Bandung. Bandung akan mengalami pertumbuhan ekonomi signifikan. Belum lagi keberadaan Bandara BIJB yang juga akan berimbas terhadap ekonomi kota ini,” kata Deden Y Hidayat di sela-sela seminar yang digelar Forum Diskusi Wartawan Ekonomi (Fordisweb) di Graha Kadin, Kota Bandung, Senin (8/10/2012).
Menurut dia, sejumlah sektor ekonomi akan tumbuh signifikan seperti bisnis pada sektor pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan. Beberapa elemen tersebut, akan menjadi tonggak pertumbuhan ekonomi masyarakat Bandung. Namun demikian, agar pertumbuhan ekonomi Bandung bisa dirasakan dampaknya oleh masyarakat, pemerintah harus mengatur skema bisnis.
Termasuk memaksimalkan serapan pajak daerah. Diakui Deden, serapan Pendapatan Asli Daerah (PAD) ke Kota Bandung masih sangat minim. Padahal, potensinya masih sangat besar. Tahun ini, PAD Kota Bandung diprediksi sekitar Rp550 miliar. Jumlah tersebut tidak sebanding dengan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Rp2,4 triliun.
“Bandung masih perlu investor. Paling tidak, mereka bisa ikut terlibat pada pembangunan insfrastruktur kota untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Tapi, untuk meyakinkan investor, perlu kepastian hukum, kenyamanan, dan kepastian bisnis.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Pasundan (Unpas) Acuviarta Kartabi mengatakan, Kota Bandung berpotensi mencatat pertumbuhan ekonomi jauh di atas nasional. Pembangunan insfrastruktur disertai perencanaan pembangunan yang matang akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
“Tahun 1999, pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung tercatat pernah mencapai 11 persen. Artinya, Bandung punya sejarah cukup baik,” kata Acuviarta.
Namun, Bandung akan mencatat pertumbuhan ekonomi membanggakan apabila didukung perencanaan yang matang terhadap pengembangan insfrastruktur terutama jalan. Diakui dia, kondisi jalan yang kurang memadai saat ini menjadi kendala dalam pengembangan beberapa sektor seperti pariwisata.
Walaupun, Acuviarta mengakui, minimnya perbaikan jalan tak lepas dari rendahnya alokasi APBD untuk insfrastruktur. Tahun ini saja, dana insftarsuktur hanya sekitar Rp60 miliar dan hanya cukup untuk memperbaiki sekitar 45 km jalan.
Paling tidak, lanjut dia, pemerintah harus mengalokasikan 25 persen APBD untuk infarstruktur. “PAD kita sangat rendah. Semestinya, Bandung bisa menggali PAD sampai Rp1,5 triliun. Itu bisa saja dicapai apabila pemerintah serius menggali potensi PAD lainnya. Seperti dari jasa parker dan reklame. Atau memanfaatkan asset Pemkot Bandung yang saat ini nilainya diperkirakan mencapai Rp18 triliun,” beber dia.
(gpr)
Lihat Juga :