Kredit infrastruktur BNI Rp6 T
Selasa, 09 Oktober 2012 - 09:43 WIB
Kredit infrastruktur BNI Rp6 T
A
A
A
Sindonews.com - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mengaku, dari total komitmen penyaluran kredit infrastruktur yang mencapai Rp6 triliun, hingga Agustus 2012 yang baru ditarik sebesar Rp1 triliun. Masalah pembebasan lahan menjadi faktor utama masih besarnya kredit infrastruktur yang belum dicairkan.
”Artinya, masih ada sekitar Rp5 triliun yang belum ditarik. Beberapa permasalahan klasik penyebab belum ditariknya kredit ini antara lain masalah pembebasan lahan,” ujar Direktur Bussiness Banking BNI Krishna Suparto saat penandatanganan perjanjian kredit dan kerja sama antara BNI dengan PT Hutama Karya di Jakarta kemarin.
Krishna mengatakan,masalah pembebasan lahan terutama terjadi di daerah Jawa, sedangkan permalasahan tata ruang banyak terjadi di daerah-daerah lain.
Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo mengungkapkan, jika infrastruktur dapat dibangun lebih baik, maka biaya akan lebih rendah. Untuk itulah, perseroan berperan aktif di kredit infrastruktur meskipun kredit yang belum ditarik masih besar jumlahnya.
Gatot menyatakan, hingga Agustus 2012 total kredit perseroan telah mencapai sekitar Rp190 triliun. ”Maunya infrastruktur yang utama, dengan harapan infrastruktur terbangun, kita bisa dorong di sektor riil yang lain,” tuturnya.
Mengenai kerja sama kredit dengan Hutama Karya, Gatot berharap dapat menyukseskan program pemerintah dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).
Dalam perjanjian tersebut, BNI memberikan kredit modal kerja (KMK) senilai Rp3,95 triliun kepada Hutama Karya guna mendukung pelaksanaan proyek-proyek tahun 2012, terlebih nilai proyek HK yang perlu didanai tahun ini mencapai Rp13,021 triliun.
Menurut Gatot, pemberian KMK ini bukan merupakan kucuran kredit pertama BNI kepada Hutama Karya. Pada 2009 BNI juga pernah mengucurkan kredit sejenis kepada penyedia jasa konstruksi ini.
Melalui kerja sama ini BNI mengucurkan satu paket skema kredit kepada badan usaha milik negara (BUMN) yang 100% sahamnya dimiliki pemerintah ini.Fasilitas pertama adalah cash loan (kredit modal kerja/KMK) sebesar Rp500 miliar dan kedua fasilitas non-cash loan sebesar Rp3,45 triliun.
Sehingga, melalui kerja sama ini maka total paket kredit ke Hutama Karya telah mencapai Rp3,95 triliun. ”Fasilitas kredit tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan modal kerjanya, mendapatkan garansi bank, hingga penerbitan letter of credit (LC) untuk mendukung pelaksanaan proyek-proyek tahun 2012.
Dengan tambahan paket kredit tersebut, Hutama Karya sudah dapat mengatasi kemungkinan terjadinya lonjakan kebutuhan modal pada tahun 2012 yang diakibatkan oleh tambahan proyek baru atau proyek pengalihan dari tahun sebelumnya,” kata Gatot.
Sementara, Direktur utama Hutama Karya Tri Widjajanto menyatakan,fasilitas kredit ini nantinya akan digunakan untuk tambahan modal kerja dalam pencapaian target kinerja perusahaan di tahun 2012/ 2013.
Sampai saat ini Hutama Karya telah memperoleh proyek senilai Rp10,4 triliun. Pendapatan Utama Karya saat ini 30-35% pendapatan perseroan berasal dari jalan dan jembatan, gedung 30% dan sisanya berasal dari engineering, procurement and construction(EPC).
Adapun beberapa proyek baru yang sedang dikerjakan Hutama Karya, antara lain proyek pembangunan/duplikasi jembatan air Musi II Palembang, jalan tol Nusa Dua-Ngurah Rai Benoa Bali, jalan tol Mojokerto-Kertosono Tahap I dan II, Mall Saint Moritz dan Alila Villas Bintan, serta EPC Dermaga Petrokimia.
Fasilitas dari BNI juga akan digunakan untuk pembiayaan jalan tol lintas Sumatera, kereta listrik intermoda, dan kerja sama dengan Pelindo I (Dermaga Belawan dan Kuala Tanjung).
”Artinya, masih ada sekitar Rp5 triliun yang belum ditarik. Beberapa permasalahan klasik penyebab belum ditariknya kredit ini antara lain masalah pembebasan lahan,” ujar Direktur Bussiness Banking BNI Krishna Suparto saat penandatanganan perjanjian kredit dan kerja sama antara BNI dengan PT Hutama Karya di Jakarta kemarin.
Krishna mengatakan,masalah pembebasan lahan terutama terjadi di daerah Jawa, sedangkan permalasahan tata ruang banyak terjadi di daerah-daerah lain.
Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo mengungkapkan, jika infrastruktur dapat dibangun lebih baik, maka biaya akan lebih rendah. Untuk itulah, perseroan berperan aktif di kredit infrastruktur meskipun kredit yang belum ditarik masih besar jumlahnya.
Gatot menyatakan, hingga Agustus 2012 total kredit perseroan telah mencapai sekitar Rp190 triliun. ”Maunya infrastruktur yang utama, dengan harapan infrastruktur terbangun, kita bisa dorong di sektor riil yang lain,” tuturnya.
Mengenai kerja sama kredit dengan Hutama Karya, Gatot berharap dapat menyukseskan program pemerintah dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).
Dalam perjanjian tersebut, BNI memberikan kredit modal kerja (KMK) senilai Rp3,95 triliun kepada Hutama Karya guna mendukung pelaksanaan proyek-proyek tahun 2012, terlebih nilai proyek HK yang perlu didanai tahun ini mencapai Rp13,021 triliun.
Menurut Gatot, pemberian KMK ini bukan merupakan kucuran kredit pertama BNI kepada Hutama Karya. Pada 2009 BNI juga pernah mengucurkan kredit sejenis kepada penyedia jasa konstruksi ini.
Melalui kerja sama ini BNI mengucurkan satu paket skema kredit kepada badan usaha milik negara (BUMN) yang 100% sahamnya dimiliki pemerintah ini.Fasilitas pertama adalah cash loan (kredit modal kerja/KMK) sebesar Rp500 miliar dan kedua fasilitas non-cash loan sebesar Rp3,45 triliun.
Sehingga, melalui kerja sama ini maka total paket kredit ke Hutama Karya telah mencapai Rp3,95 triliun. ”Fasilitas kredit tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan modal kerjanya, mendapatkan garansi bank, hingga penerbitan letter of credit (LC) untuk mendukung pelaksanaan proyek-proyek tahun 2012.
Dengan tambahan paket kredit tersebut, Hutama Karya sudah dapat mengatasi kemungkinan terjadinya lonjakan kebutuhan modal pada tahun 2012 yang diakibatkan oleh tambahan proyek baru atau proyek pengalihan dari tahun sebelumnya,” kata Gatot.
Sementara, Direktur utama Hutama Karya Tri Widjajanto menyatakan,fasilitas kredit ini nantinya akan digunakan untuk tambahan modal kerja dalam pencapaian target kinerja perusahaan di tahun 2012/ 2013.
Sampai saat ini Hutama Karya telah memperoleh proyek senilai Rp10,4 triliun. Pendapatan Utama Karya saat ini 30-35% pendapatan perseroan berasal dari jalan dan jembatan, gedung 30% dan sisanya berasal dari engineering, procurement and construction(EPC).
Adapun beberapa proyek baru yang sedang dikerjakan Hutama Karya, antara lain proyek pembangunan/duplikasi jembatan air Musi II Palembang, jalan tol Nusa Dua-Ngurah Rai Benoa Bali, jalan tol Mojokerto-Kertosono Tahap I dan II, Mall Saint Moritz dan Alila Villas Bintan, serta EPC Dermaga Petrokimia.
Fasilitas dari BNI juga akan digunakan untuk pembiayaan jalan tol lintas Sumatera, kereta listrik intermoda, dan kerja sama dengan Pelindo I (Dermaga Belawan dan Kuala Tanjung).
(gpr)
Lihat Juga :