Ekonomi Asia Timur melemah

Selasa, 09 Oktober 2012 - 10:13 WIB
Ekonomi Asia Timur melemah
Ekonomi Asia Timur melemah
A A A
Sindonews.com - Bank Dunia memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi 2012 negara-negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik menjadi 7,2 persen, dari sebelumnya 8,3 persen pada tahun lalu.

Penurunan tersebut disebabkan masih rapuhnya ekonomi global. Kepala Ekonom Bank Dunia Bert Hofman mengatakan, penurunan proyeksi tersebut akan menjadi tingkat pertumbuhan paling lambat di wilayah Asia Timur dan Pasifik sejak 2001, bahkan lebih lambat dari puncak krisis keuangan pada 2008.

“Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) harus pulih menjadi 7,6 persen pada 2013 yang didorong permintaan domestik. Namun memburuknya krisis utang zona euro, melemahnya ekonomi Amerika Serikat (AS) serta perlambatan lebih lanjut di China merupakan risiko besar,” imbuhnya dilansir AFP, kemarin.

Menurut Data Monitor Asia Timur dan Pasifik, dalam lingkungan eksternal yang rapuh, perekonomian di wilayah tersebut terus melambat.

Bank Dunia menyebutkan, jika kondisi di Eropa memburuk, semua wilayah di Asia Timur dan Pasifik akan terkena dampaknya. Dengan krisis yang memburuk, pertumbuhan ekonomi diperkirakan bisa turun lebih dari 2 persen pada 2013.

Wilayah yang termasuk dalam penurunan prediksi pertumbuhan adalah China, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, Kamboja, Fiji, Laos, Mongolia, Myanmar, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste.

Bank Dunia menyebutkan, negara di kawasan Asia Timur yang mengalami koreksi pertumbuhan ekonomi cukup besar di antaranya China, Vietnam, dan Kamboja.

Pertumbuhan China diturunkan dari 8,2 persen menjadi 7,7 persen pada tahun ini. Koreksi terhadap China disebabkan mulai melemahnya investasi serta ekspor mereka akibat situasi global yang tidak kunjung membaik.

“Pertumbuhan investasi turut melemah akibat upaya mengendalikan investasi di sektor perumahan tahun lalu. Namun,pengenduran kebijakan moneter yang dilakukan awal tahun ini serta paket stimulus pemerintah berpotensi mengubah tren pertumbuhan dalam beberapa bulan ke depan,” tulis Bank Dunia.

Di luar China, Bank Dunia juga mengoreksi pertumbuhan Vietnam dari 5,7 persen% menjadi 5,2 persen. Sementara untuk Indonesia, Bank Dunia tetap tidak melakukan perubahan proyeksi pertumbuhan. Seperti pada Mei lalu, pertumbuhan Indonesia diproyeksi tetap berada di level 6,1 persen.

Sebaliknya Bank Dunia justru menaikkan proyeksi pertumbuhan sejumlah negara Asia Tenggara seperti Malaysia (dari 4,6 persen menjadi 4,8 persen), Filipina (dari 4,2 persen menjadi 5 persen), serta Thailand (dari 4,5 persen menjadi 5 persen) Sementara, permintaan domestik diperkirakan mendorong pertumbuhan di Asia Timur dan Pasifik pada tahun depan.

Hal itu membuat pertumbuhan perdagangan turun karena kurangnya permintaan dari pasar utama Eropa dan AS. Menanggapi hal itu, Bank Dunia memperingatkan, rebound diproyeksikan penuh dengan risiko di antaranya krisis utang Eropa yang belum selesai.

Koreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi juga dilakukan oleh Bank Pembangunan Asia (ADB) belum lama ini. Lembaga keuangan internasional tersebut memangkas proyeksi pertumbuhan negara-negara berkembang di Asia pada tahun ini menjadi 6,1 persen turun dibandingkan prediksi April lalu sebesar 6,9 persen karena perlambatan ekonomi global,terutama di China dan India.

Sedangkan untuk Indonesia, ADB mengoreksi dari 6,4 persen menjadi 6,3 persen. Menyusul koreksi pertumbuhan Indonesia yang dilakukan Bank Dunia,Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati menegaskan,pemerintah akan tetap menargetkan 6,8 persen pada 2013.

Target tersebut diyakini bakal tercapai seiring meningkatnya belanja infrastruktur, membaiknya daya beli masyarakat, serta besarnya aliran investasi asing.

“Serangkaian kebijakan sudah dilakukan pemerintah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi,utamanya dari sisi belanja modal. Kita berharap itu bisa melampaui Rp200 triliun karena akan ada tambahan, baik dari optimalisasi maupun yang tadinya rencana untuk subsidi listrik,” papar Anny di Gedung DPR, Jakarta, kemarin.

Anny mengingatkan, investasi pada 2013 juga akan semakin tinggi baik dari penanam modal asing maupun dalam negeri. Terlebih, data pemerintah menunjukkan bahwa pada 2011 dan 2012, investasi sudah sangat tinggi.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
5 Strategi Pemulihan...
5 Strategi Pemulihan Ekonomi ASEAN dari Dampak Covid-19
Ekonomi Asia Mulai Bangkit,...
Ekonomi Asia Mulai Bangkit, Bagaimana dengan Indonesia?
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
China Conference: Southeast...
China Conference: Southeast Asia 2026 Perkuat Peran Indonesia Jadi Pusat Ekonomi Regional
IMF: Jika Ekonomi Global...
IMF: Jika Ekonomi Global Terbelah, Asia Jadi Pecundang Terbesar
Tarif Trump Pukul Ekonomi...
Tarif Trump Pukul Ekonomi Asia, Siapa Paling Parah?
Berita Terkini
Elnusa Petrofin Pastikan...
Elnusa Petrofin Pastikan Distribusi BBM di Sumatra Utara Kembali Normal
16 menit yang lalu
Misteri Brankas Rahasia:...
Misteri Brankas Rahasia: Mengapa Banyak Negara Pilih Simpan Cadangan Emasnya di Luar Negeri?
1 jam yang lalu
BRI Hadirkan KKB Expo...
BRI Hadirkan KKB Expo Serentak di 131 Titik, Tawarkan Berbagai Promo Spesial untuk Masyarakat
2 jam yang lalu
Rupiah Semringah Sambut...
Rupiah Semringah Sambut Akhir Pekan, Menjauh dari Level Rp18 Ribu per Dolar AS
2 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Sumbagut dan Polda Sumut Sinergi Percepat Normalisasi Distribusi BBM
3 jam yang lalu
Yamaha Grand Filano...
Yamaha Grand Filano Hybrid Tawarkan Gaya Kalcer, Konsumsi BBM Diklaim Capai 60 Km per Liter
3 jam yang lalu
Infografis
True Promise 4 Mengamuk!...
True Promise 4 Mengamuk! Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Jadi Rongsokan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved