Tarif Trump Pukul Ekonomi Asia, Siapa Paling Parah?

Selasa, 05 Agustus 2025 - 07:18 WIB
loading...
Tarif Trump Pukul Ekonomi...
Ekonomi Asia menjadi salah satu yang paling terpukul oleh tarif Presiden Amerika Serikat atau AS Donald Trump. Dari mulai sekutu tradisional AS seperti Jepang hingga blok ASEAN yang mencakup Asia Tenggara. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Ekonomi Asia menjadi salah satu yang paling terpukul oleh tarif Presiden Amerika Serikat atau AS , Donald Trump yang diumumkan pada April lalu. Dari mulai sekutu tradisional AS seperti Jepang hingga blok ASEAN yang mencakup Asia Tenggara, terutama bagi ekonomi yang ekspornya bergantung pada pasar AS.

Negara-negara ini berjuang untuk mencapai kesepakatan sebelum batas waktu 1 Agustus, kemarin. Lalu bagaimana mereka menghadapi pengumuman tarif impor terbaru dan ekonomi AS mana yang paling terpukul?

Nasib Baik Sekutu AS

Sekutu utama Amerika bernasib sedikit lebih baik, bila dibandingkan negara-negara di kawasan ini. Jepang dan Korea Selatan, yang mobil dan semikonduktornya sangat penting bagi pelanggan AS, dibayangi rencana tarif 25% pada bulan April. Namun kedua negara diketahui memiliki hubungan militer yang penting dengan AS.

Hingga akhirnya keduanya berhasil mengurangi tarif Trump menjadi 15% pada akhir Juli, setelah mengirim delegasi perdagangan ke Washington untuk menyelesaikan kesepakatan. Pada 22 Juli (waktu AS), Trump mengumumkan kesepakatan Jepang sebagai "perjanjian perdagangan terbesar dalam sejarah".

Baca Juga: Jatuhkan Tarif 25%, Trump Tak Peduli Jika Ekonomi Rusia dan India Mati Sama-sama

Sedangkan kesepakatan dengan Korea Selatan secara resmi diumumkan pada 30 Juli. Ada juga Taiwan - salah satu produsen semikonduktor terbesar di dunia dan sekutu utama AS - juga melihat tarifnya berkurang, dari 32% pada bulan April menjadi 20%.

Namun belum jelas apakah industri chip Taiwan akan menghadapi tarif sektoral terpisah. Presiden Taiwan, Lai Ching-te mengatakan, pada hari Jumat bahwa tarif saat ini bersifat "sementara" karena negosiasi dengan Washington masih berlangsung.

Lain lagi dengan Australia ketika terancam terkena tarif 10% di bulan April, namun tampaknya untuk saat ini telah menghindari peningkatan. Sebaliknya Selandia Baru melihat tarifnya naik dari 10% menjadi 15%.

Menteri Perdagangan Wellington Todd McClay mengatakan, negara itu "dihukum secara tidak adil" dan telah meminta pembicaraan dengan duta besar AS dan negosiator perdagangan Jamieson Greer, untuk "mulai membangun argumen" agar mendapatkan tarif yang lebih rendah.

Bagaimana dengan China dan India?

Meskipun tarif resmi untuk China tidak diumumkan, akan tetapi menjadi isu yang tidak bisa diabaikan. Pembicaraan diplomatik antara Beijing dan Washington telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir - pertama di Jenewa pada bulan Mei, London pada bulan Juni, dan awal minggu ini di Stockholm.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Runtuhkan Dolar AS,...
Runtuhkan Dolar AS, Putin Kumpulkan 11 Pemimpin ASEAN Termasuk Indonesia
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
China Komitmen Borong...
China Komitmen Borong Produk Pertanian AS Senilai Rp301 Triliun hingga 2028
Demi Gencatan Dagang...
Demi Gencatan Dagang Berlanjut, China Beri Sinyal Terima Kenaikan Tarif AS
MNC University Siapkan...
MNC University Siapkan Program Double Degree dan Pertukaran Mahasiswa dengan Kampus ASEAN
Perkuat Kolaborasi Kampus,...
Perkuat Kolaborasi Kampus, MNC University Inisiasi Konsorsium Perguruan Tinggi ASEAN
Prabowo Batal Hadiri...
Prabowo Batal Hadiri KTT ASEAN-Rusia, Istana Ungkap Alasannya
Rekomendasi
Awas, Virus Ebola Sudah...
Awas, Virus Ebola Sudah Masuk Prancis, Dibawa Seorang Dokter
Malaysia Tuntut Kompensasi...
Malaysia Tuntut Kompensasi Rp4,6 Triliun setelah Batal Dapatkan Rudal Canggih NSM Norwegia
Tinjau Teknologi Tanam...
Tinjau Teknologi Tanam PM-AAS, Presiden Prabowo Sebut Inovasi Pertanian Revolusioner
Berita Terkini
Kenaikan Harga Gas Industri...
Kenaikan Harga Gas Industri Picu Gelombang PHK, Mensesneg: Satu-Dua Hari Akan Ambil Keputusan
Keluarga Pejabat di...
Keluarga Pejabat di China Dilarang Total Berbisnis, Mundur atau Tutup Usaha! Berani Tiru?
B50 Mulai Berjalan 1...
B50 Mulai Berjalan 1 Juli 2026, Harga Solar Dipastikan Tidak Berubah
IHSG Babak Belur Jelang...
IHSG Babak Belur Jelang Akhir Pekan, Sesi Siang Ditutup Ambruk 2,73% ke 5.835
Kepuasan Peserta TASPEN...
Kepuasan Peserta TASPEN Terus Membaik, Catat Rekor Positif Sejak Empat Tahun Lalu
Manjakan Nasabah Premium,...
Manjakan Nasabah Premium, BRI dan Visa Luncurkan Kartu Kredit Infinite dengan Fasilitas Kelas Dunia
Infografis
10 Miliarder Paling...
10 Miliarder Paling Boncos di 100 Hari Trump, Elon Musk Kehilangan Rp727 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved