Kurangi biaya, PTPN X garap Co-Generation
Selasa, 09 Oktober 2012 - 19:10 WIB
Kurangi biaya, PTPN X garap Co-Generation
A
A
A
Sindonews.com - PT Perkebunan Nusantara X menggarap program Co-generation di sejumlah pabrik gula (PG), diiantaranya adalah pabrik gula Ngadirejo dan Pesantren Baru. Tujuannya untuk mengurangi biaya oprasional, sekaligus memperbanyak sumber pendapatan.
Menurut Direktur Utama (Dirut) PTPN X Subiyono, program ini dirintis sejak tahun lalu. Co Generation merupakan upaya untuk mengoptimalkan diversifikasi pabrik gula. Paradigama pabrik gula harus diubah dengan tidak menghasilkan gula saja, melainkan bertransformasi menjadi industri yang berbasis tebu (sugarance based Industry).
Dia menjelaskan, Co-generation ini dilakukan dengan mengolah ampas menjadi sumber energi listrik dan bisa di pasarkan sevara komersial. "Program ini diharapkan bisa resmi memproduksi produksi listrik untuk keperluan komersial pada tahun mendatang," ujar Subiyono dalam keterangan persnya di Surabaya, Selasa (9/10/2012).
Dia mencontohkan, penerapan program ini di pabrik gula Ngadirejo, Kediri bisa mengurangi biaya oprasional sekaligus memperbanyak pendapatan pabrik. Kelebihan tenaga listrik yang dihasilkan oleh pabrik gula tersebut kedepan bisa dijual.
"Memang jumlahnya tidak banyak, tapi ini bisa menjadi spirit baru untuk terus menggalakkan diversifikasi bisnis di pabrik gula,” tambahnya.
Selain dengan co-generation untuk memporoduksi listrik, perusahaan pelat merah itu juga tengah merampungkan pabrik bioetanol berkapasitas 30.000 kiloliter (kl) dengan investasi Rp467,79 miliar di pabrik gula Gempolkrep, Mojokerto. Bioetanol tersebut diproduksi dengan bahan baku tetes tebu, yang akan disuplai dari sejumlah pabrik gula milik PTPN X.
PTPN X juga melakukan melakukan pendekatan berbasis teknologi untuk membantu petani dalam mewujudkan kesuksesan pengusahaan tebu. Perusahaan telah dan terus mengembangkan metode bud chips dalam budidaya tebu untuk meningkatkan produktivitas.
Sementara itu, Administratur PG Ngadiredjo Budi Adi Prabowo menambahkan, kinerja pabrik terus meningkat didukung oleh perbaikan dari sisi on-farm dan off-farm. ”Kami membangun sistem pengelolaan pabrik gula yang mampu memadukan perbaikan di sisi budidaya tebu dan pengolahan di pabrik,” ujarnya.
Salah satu inovasi yang dilakukan PG Ngadiredjo adalah dengan meningkatkan kualitas sistem penilaian rendemen dengan sistem core sampling. Alat core sampler dengan nilai investasi Rp5 miliar tersebut akan mengambil sampel tebu yang masih berada di truk. Sampel itu kemudian dikirim ke Laboratorium Analisa Rendemen.
”Sistem core sampling ini menaksir rendemen secara lebih transparan dan kredibel, sehigga petani semakin percaya dengan pabrik. Pasokan tebu ke PG Ngadiredjo selalu terjamin karena petani bersemangat. Kualitas tebu juga bagus dengan kriteria manis, bersih, dan segar, sehingga rendemen terus membaik,” tukasnya.
Menurut Direktur Utama (Dirut) PTPN X Subiyono, program ini dirintis sejak tahun lalu. Co Generation merupakan upaya untuk mengoptimalkan diversifikasi pabrik gula. Paradigama pabrik gula harus diubah dengan tidak menghasilkan gula saja, melainkan bertransformasi menjadi industri yang berbasis tebu (sugarance based Industry).
Dia menjelaskan, Co-generation ini dilakukan dengan mengolah ampas menjadi sumber energi listrik dan bisa di pasarkan sevara komersial. "Program ini diharapkan bisa resmi memproduksi produksi listrik untuk keperluan komersial pada tahun mendatang," ujar Subiyono dalam keterangan persnya di Surabaya, Selasa (9/10/2012).
Dia mencontohkan, penerapan program ini di pabrik gula Ngadirejo, Kediri bisa mengurangi biaya oprasional sekaligus memperbanyak pendapatan pabrik. Kelebihan tenaga listrik yang dihasilkan oleh pabrik gula tersebut kedepan bisa dijual.
"Memang jumlahnya tidak banyak, tapi ini bisa menjadi spirit baru untuk terus menggalakkan diversifikasi bisnis di pabrik gula,” tambahnya.
Selain dengan co-generation untuk memporoduksi listrik, perusahaan pelat merah itu juga tengah merampungkan pabrik bioetanol berkapasitas 30.000 kiloliter (kl) dengan investasi Rp467,79 miliar di pabrik gula Gempolkrep, Mojokerto. Bioetanol tersebut diproduksi dengan bahan baku tetes tebu, yang akan disuplai dari sejumlah pabrik gula milik PTPN X.
PTPN X juga melakukan melakukan pendekatan berbasis teknologi untuk membantu petani dalam mewujudkan kesuksesan pengusahaan tebu. Perusahaan telah dan terus mengembangkan metode bud chips dalam budidaya tebu untuk meningkatkan produktivitas.
Sementara itu, Administratur PG Ngadiredjo Budi Adi Prabowo menambahkan, kinerja pabrik terus meningkat didukung oleh perbaikan dari sisi on-farm dan off-farm. ”Kami membangun sistem pengelolaan pabrik gula yang mampu memadukan perbaikan di sisi budidaya tebu dan pengolahan di pabrik,” ujarnya.
Salah satu inovasi yang dilakukan PG Ngadiredjo adalah dengan meningkatkan kualitas sistem penilaian rendemen dengan sistem core sampling. Alat core sampler dengan nilai investasi Rp5 miliar tersebut akan mengambil sampel tebu yang masih berada di truk. Sampel itu kemudian dikirim ke Laboratorium Analisa Rendemen.
”Sistem core sampling ini menaksir rendemen secara lebih transparan dan kredibel, sehigga petani semakin percaya dengan pabrik. Pasokan tebu ke PG Ngadiredjo selalu terjamin karena petani bersemangat. Kualitas tebu juga bagus dengan kriteria manis, bersih, dan segar, sehingga rendemen terus membaik,” tukasnya.
(rna)