Transaksi perdagangan saham turun
Rabu, 10 Oktober 2012 - 10:25 WIB
Transaksi perdagangan saham turun
A
A
A
Sindonews.com – Transaksi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan hingga kuartal III tahun ini. Belum normalnya kondisi ekonomi dunia dinilai menjadi penyebabnya.
Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan, terus melemahnya rata-rata volume, nilai dan frekuensi perdagangan saham membuat BEI berencana menurunkan target rata-rata transaksi harian pada tahun depan. Menurutnya, penurunan likuiditas memang terjadi di seluruh dunia. Namun, penurunan likuiditas yang terjadi di bursa Indonesia masih lebih baik.
”Jika tahun lalu likuiditas global hanya sebesar 25 persen, Indonesia hanya sekitar 11–2 persen,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta kemarin.
Ito menjelaskan, penurunan likuiditas perdagangan di bursa tidak berhubungan dengan posisi indeks harga saham gabungan (IHSG). Kenaikan IHSG karena bursa Indonesia masih menjadi tempat menarik bagi investor asing untuk menyimpannya dalam jangka panjang, minimal satu hingga dua tahun ke depan.
Sejak awal tahun ini, IHSG memang terus mengalami peningkatan. Jika di kuartal III/2011 posisi IHSG tercatat 3.549,03 poin, di akhir kuartal II/2012 meningkat menjadi 3.955,58 poin. Sedangkan di akhir kuartal ketiga, posisinya meningkat menjadi 4.262,56 poin.
Terkait dengan penurunan likuiditas transaksi perdagangan saham di bursa domestik, ada kemungkinan dalam waktu dekat otoritas Bursa akan menurunkan rata-rata target transaksi di semester II/2012. ”Detailnya belum dapat kami katakan sekarang, nanti akan kami informasikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di akhir Oktober 2012,” tambahnya.
Berdasarkan data BEI, rata-rata nilai, volume dan frekuensi transaksi harian di sepanjang kuartal ketiga 2012 mengalami penurunan dibandingkan kuartal II/2012 atau secara tahunan dibandingkan periode yang sama di 2011.
Pada kuartal III/2012 rata-rata volume transaksi di BEI hanya 3,53 miliar lembar saham senilai Rp4,15 triliun dengan frekuensi sebanyak 111.476 kali transaksi. Sedangkan, kuartal II/2012, rata-rata volume transaksi sebesar 4,21 miliar lembar saham senilai Rp4,52 triliun dengan frekuensi sebanyak 120,134 kali.
Secara YoY, pada kuartal III/2011, rata-rata volume transaksi dapat mencapai 5,80 triliun senilai Rp5,84 triliun dengan frekuensi sebanyak 138.846 kali.
Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, penurunan likuiditas yang terjadi lebih karena kondisi krisis utang di Eropa yang terjadi pada tahun ini lebih memanas dibandingkan tahun lalu.
Hal tersebut membuat keberanian investor dalam mengambil posisi transaksi menjadi berkurang. Selain itu,tambah Satrio,likuiditas transaksi di BEI juga lebih terbatas dan hanya pada saham- saham tertentu. Terkait dengan kondisi likuiditas yang berbanding terbalik dengan level IHSG, dia melihat kenaikan level IHSG memang dimungkinkan terjadi meski dalam volume yang lebih sedikit.
Direktur Utama Danareksa Edgar Ekaputra memperkirakan, IHSG hingga akhir tahun ini menyentuh level 4.400–4.500. Hal ini sejalan dengan perekonomian Indonesia yang bagus. Secara teknikal, IHSG dapat menyentuh level 4.400.
”Memang transaksi harian kita turun, namun ini hanya seasonal saja dan tidak fundamental. Bursa kita tidak ada masalah, kan naik terus,” ungkapnya.
Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan, terus melemahnya rata-rata volume, nilai dan frekuensi perdagangan saham membuat BEI berencana menurunkan target rata-rata transaksi harian pada tahun depan. Menurutnya, penurunan likuiditas memang terjadi di seluruh dunia. Namun, penurunan likuiditas yang terjadi di bursa Indonesia masih lebih baik.
”Jika tahun lalu likuiditas global hanya sebesar 25 persen, Indonesia hanya sekitar 11–2 persen,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta kemarin.
Ito menjelaskan, penurunan likuiditas perdagangan di bursa tidak berhubungan dengan posisi indeks harga saham gabungan (IHSG). Kenaikan IHSG karena bursa Indonesia masih menjadi tempat menarik bagi investor asing untuk menyimpannya dalam jangka panjang, minimal satu hingga dua tahun ke depan.
Sejak awal tahun ini, IHSG memang terus mengalami peningkatan. Jika di kuartal III/2011 posisi IHSG tercatat 3.549,03 poin, di akhir kuartal II/2012 meningkat menjadi 3.955,58 poin. Sedangkan di akhir kuartal ketiga, posisinya meningkat menjadi 4.262,56 poin.
Terkait dengan penurunan likuiditas transaksi perdagangan saham di bursa domestik, ada kemungkinan dalam waktu dekat otoritas Bursa akan menurunkan rata-rata target transaksi di semester II/2012. ”Detailnya belum dapat kami katakan sekarang, nanti akan kami informasikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di akhir Oktober 2012,” tambahnya.
Berdasarkan data BEI, rata-rata nilai, volume dan frekuensi transaksi harian di sepanjang kuartal ketiga 2012 mengalami penurunan dibandingkan kuartal II/2012 atau secara tahunan dibandingkan periode yang sama di 2011.
Pada kuartal III/2012 rata-rata volume transaksi di BEI hanya 3,53 miliar lembar saham senilai Rp4,15 triliun dengan frekuensi sebanyak 111.476 kali transaksi. Sedangkan, kuartal II/2012, rata-rata volume transaksi sebesar 4,21 miliar lembar saham senilai Rp4,52 triliun dengan frekuensi sebanyak 120,134 kali.
Secara YoY, pada kuartal III/2011, rata-rata volume transaksi dapat mencapai 5,80 triliun senilai Rp5,84 triliun dengan frekuensi sebanyak 138.846 kali.
Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, penurunan likuiditas yang terjadi lebih karena kondisi krisis utang di Eropa yang terjadi pada tahun ini lebih memanas dibandingkan tahun lalu.
Hal tersebut membuat keberanian investor dalam mengambil posisi transaksi menjadi berkurang. Selain itu,tambah Satrio,likuiditas transaksi di BEI juga lebih terbatas dan hanya pada saham- saham tertentu. Terkait dengan kondisi likuiditas yang berbanding terbalik dengan level IHSG, dia melihat kenaikan level IHSG memang dimungkinkan terjadi meski dalam volume yang lebih sedikit.
Direktur Utama Danareksa Edgar Ekaputra memperkirakan, IHSG hingga akhir tahun ini menyentuh level 4.400–4.500. Hal ini sejalan dengan perekonomian Indonesia yang bagus. Secara teknikal, IHSG dapat menyentuh level 4.400.
”Memang transaksi harian kita turun, namun ini hanya seasonal saja dan tidak fundamental. Bursa kita tidak ada masalah, kan naik terus,” ungkapnya.
(rna)
Lihat Juga :