Pemerintah genjot investasi gas
Rabu, 10 Oktober 2012 - 10:48 WIB
Pemerintah genjot investasi gas
A
A
A
Sindonews.com – Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengajak para investor dari luar negeri dan dalam negeri untuk menanamkan investasinya ke sektor gas migas di Indonesia.
Pasalnya, pemerintah akan mengurangi porsi ekspor gas untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. “Kalau negara-negara luar butuh gas harus menanamkan investasinya di Indonesia. Mereka harus ikut ngebor gas di sini, sehingga sebagian gas ini bisa dibawa ke negaranya,” tutur Wacik dalam Konferensi Pers Gas Information Exchange in Western Pacific Area (GASEX) 2012 di Bali Convention Center (BCC) Nusa Dua, Bali, kemarin.
Dia menyatakan, energi gas merupakan salah satu kebutuhan bagi masyarakat dan industri yang meningkat. Dulu karena BBM masih banyak, 60 persen produksi gas dalam negeri di ekspor seperti ke Jepang, Korea, India. Sedangkan, sisanya untuk kebutuhan dalam negeri.
”Tetapi sekarang ini tidak boleh lagi banyak-banyak ekspor gas harus ditahan untuk kepentingan dalam negeri. Kalau produksinya tidak ditambah, artinya yang diekspor harus dikurangi karena Indonesia juga saat ini butuh gas,” ungkap Jero.
Jero melanjutkan, Indonesia juga sedang dalam upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) lantaran jumlahnya yang makin langka dan harganya yang mahal. “Bahan bakar mobil rencanannya dipindahkan dari minyak ke gas karena stok di bawah tanah masih banyak,“ ujarnya.
Atas dasar hal tersebut, Jero mengungkapkan, Indonesia akan fokus memenuhi kebutuhan gas lokal. ”Kepentingan gas untuk Indonesia harus nomor satu. Ini yang harus saya jaga sebagai Menteri ESDM, kepentingan Indonesia harus nomor satu,“ tegasnya.
Menurut mantan Menteri Pariwisata ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat bagus yaitu 6,5 persen. Saat ini pertumbuhan sebesar itu sekarang jarang di dunia, di bawah jumlah itu atau 4 persen. Bahkan ada juga yang 1 hingga 0,5 persen. Otomatis, pertumbuhan sebesar itu diiringi konsekuensi peningkatan kebutuhan energi.
”Pertumbuhan ekonomi tersebut karena rakyat tumbuh, kebutuhan listrik makin tinggi dan industri butuh gas,” ucapnya.
Ketua Indonesia Gas Association (IGA) Hendi Prio Santoso menyatakan, forum internasional ini (Gasex) diikuti 15 negara dengan peserta 500 orang dari berbagai negara yang terkait dengan industri gas. “Kita sangat berbangga karena Indonesia menjadi tuan rumah dalam pertemuan Gasex Asia Pasifik,“ kata Direktur PGN ini.
Hendi menyatakan, Gasex adalah sebuah organisasi yang menaungi forum komunikasi antara stakeholder, antara industri gas di seluruh Indonesia, meliputi produsen, para transporter, pemilik infrastruktur, sampai pada konsumennya di hilir.
“Target dalam pertemuan ini agar stakeholderdi Asia Pasifik memahami peran masing-masing negara yang sangat berbeda- beda. Indonesia adalah produsen migas yang cukup besar di Asia Pasifik dan ada juga negara lain yang perannya justru importir daripada gas alam,“ ucapnya.
Hendi menegaskan, pertemuan ini dihadiri oleh wakil-wakil asosiasi gas di 15 negara, perusahaan-perusahaan minyak dan gas dan Menteri Energi Brunei Darussalam. ”Ajang ini diharapkan dapat menyamakan perspektif soal dinamika energi, baik itu suplai demand dan teknologi maupun inovasiinovasi yang dapat memajukan industri gas alam di regional Asia Pasifik,“ tandasnya.
Dia menambahkan, Brunei Darusalam tertarik berinvestasi di Indonesia.Brunei mengincar wilayah gas di Kalimantan. Namun, dia tidak menyebutkan secara spesifik wilayah mana yang di incar. ”Niat tersebut disampaikan Menteri Brunei kepada Menteri ESDM Jero Wacik,” katanya.
Saat ini, rencana Menteri Energi Brunei dalam tahap pembicaraan. ”Rencananya business to business dan ke depannya masih diperlukan pembicaraan lebih lanjut tentang spesifikasi investasinya bagaimana dan perihal lainnya,” tutup dia.
Pasalnya, pemerintah akan mengurangi porsi ekspor gas untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. “Kalau negara-negara luar butuh gas harus menanamkan investasinya di Indonesia. Mereka harus ikut ngebor gas di sini, sehingga sebagian gas ini bisa dibawa ke negaranya,” tutur Wacik dalam Konferensi Pers Gas Information Exchange in Western Pacific Area (GASEX) 2012 di Bali Convention Center (BCC) Nusa Dua, Bali, kemarin.
Dia menyatakan, energi gas merupakan salah satu kebutuhan bagi masyarakat dan industri yang meningkat. Dulu karena BBM masih banyak, 60 persen produksi gas dalam negeri di ekspor seperti ke Jepang, Korea, India. Sedangkan, sisanya untuk kebutuhan dalam negeri.
”Tetapi sekarang ini tidak boleh lagi banyak-banyak ekspor gas harus ditahan untuk kepentingan dalam negeri. Kalau produksinya tidak ditambah, artinya yang diekspor harus dikurangi karena Indonesia juga saat ini butuh gas,” ungkap Jero.
Jero melanjutkan, Indonesia juga sedang dalam upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) lantaran jumlahnya yang makin langka dan harganya yang mahal. “Bahan bakar mobil rencanannya dipindahkan dari minyak ke gas karena stok di bawah tanah masih banyak,“ ujarnya.
Atas dasar hal tersebut, Jero mengungkapkan, Indonesia akan fokus memenuhi kebutuhan gas lokal. ”Kepentingan gas untuk Indonesia harus nomor satu. Ini yang harus saya jaga sebagai Menteri ESDM, kepentingan Indonesia harus nomor satu,“ tegasnya.
Menurut mantan Menteri Pariwisata ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat bagus yaitu 6,5 persen. Saat ini pertumbuhan sebesar itu sekarang jarang di dunia, di bawah jumlah itu atau 4 persen. Bahkan ada juga yang 1 hingga 0,5 persen. Otomatis, pertumbuhan sebesar itu diiringi konsekuensi peningkatan kebutuhan energi.
”Pertumbuhan ekonomi tersebut karena rakyat tumbuh, kebutuhan listrik makin tinggi dan industri butuh gas,” ucapnya.
Ketua Indonesia Gas Association (IGA) Hendi Prio Santoso menyatakan, forum internasional ini (Gasex) diikuti 15 negara dengan peserta 500 orang dari berbagai negara yang terkait dengan industri gas. “Kita sangat berbangga karena Indonesia menjadi tuan rumah dalam pertemuan Gasex Asia Pasifik,“ kata Direktur PGN ini.
Hendi menyatakan, Gasex adalah sebuah organisasi yang menaungi forum komunikasi antara stakeholder, antara industri gas di seluruh Indonesia, meliputi produsen, para transporter, pemilik infrastruktur, sampai pada konsumennya di hilir.
“Target dalam pertemuan ini agar stakeholderdi Asia Pasifik memahami peran masing-masing negara yang sangat berbeda- beda. Indonesia adalah produsen migas yang cukup besar di Asia Pasifik dan ada juga negara lain yang perannya justru importir daripada gas alam,“ ucapnya.
Hendi menegaskan, pertemuan ini dihadiri oleh wakil-wakil asosiasi gas di 15 negara, perusahaan-perusahaan minyak dan gas dan Menteri Energi Brunei Darussalam. ”Ajang ini diharapkan dapat menyamakan perspektif soal dinamika energi, baik itu suplai demand dan teknologi maupun inovasiinovasi yang dapat memajukan industri gas alam di regional Asia Pasifik,“ tandasnya.
Dia menambahkan, Brunei Darusalam tertarik berinvestasi di Indonesia.Brunei mengincar wilayah gas di Kalimantan. Namun, dia tidak menyebutkan secara spesifik wilayah mana yang di incar. ”Niat tersebut disampaikan Menteri Brunei kepada Menteri ESDM Jero Wacik,” katanya.
Saat ini, rencana Menteri Energi Brunei dalam tahap pembicaraan. ”Rencananya business to business dan ke depannya masih diperlukan pembicaraan lebih lanjut tentang spesifikasi investasinya bagaimana dan perihal lainnya,” tutup dia.
(rna)
Lihat Juga :