Rupiah ditargetkan Rp9.500-9.600

Sabtu, 13 Oktober 2012 - 10:43 WIB
Rupiah ditargetkan Rp9.500-9.600
Rupiah ditargetkan Rp9.500-9.600
A A A
Sindonews.com – Bank Indonesia (BI) akan terus mempertahankan dan mendorong nilai tukar rupiah di kisaran fundamental yang tepat, disesuaikan situasi perekonomian.

“Jadi, kita memang ada sedikit melemah tapi tidak akan terlalu lemah. Dia akan ada di kisaran-kisaran seperti sekarang ini,” ujar Gubernur BI Darmin Nasution di Gedung BI, Jakarta, kemarin.

Saat ini, nilai tukar rupiah diketahui berada di kisaran Rp9.500–9.600 per dolar Amerika Serikat (AS). Menurut Darmin, nilai fundamental rupiah yang tepat tidak hanya untuk mendukung ekspor dan impor, tapi juga untuk mendukung perekonomian secara keseluruhan.

“Saya tidak mau bicara angka, tapi ya sekitar itulah,” ujar Darmin.

Sementara, dari hasil laporan rapat Dewan Gubernur BI, perkembangan nilai tukar rupiah pada September 2012 masih bergerak sesuai kondisi pasar dengan intensitas depresiasi yang menurun. Hal ini sejalan dengan kebijakan yang ditempuh BI untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan tingkat fundamentalnya.

Rupiah secara point to point melemah 0,37% (month to month/mtm) ke level Rp9.570 per dolar AS atau secara rata-rata melemah 0,64% (mtm) menjadi Rp9.554 per dolar AS.

Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terutama berasal dari masih tingginya permintaan valuta asing untuk keperluan impor. Intensitas tekanan terhadap rupiah menurun dengan lebih besarnya aliran masuk modal asing sejalan dengan sentimen positif perekonomian global dan prospek ekonomi domestik yang tetap kuat.

Terkait pergerakan rupiah, Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah mengatakan, BI tidak pernah menargetkan level tertentu dari rupiah. Yang jelas, BI terus memantau pergerakan rupiah di pasar.

“BI berupaya menjaga agar kurs tidak berlebihan geraknya sehingga memicu ekspektasi inflasi dan menjaga keseimbangan ekonomi Indonesia. Kurs masih sesuai kondisi fundamental. BI menjaga agar tidak bergejolak. Sejauh ini kami tidak terlalu khawatir soal rupiah,” tandasnya.

Direktur Eksekutif Riset Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Perry Warjiyo menambahkan, BI akan terus menerapkan kebijakan moneter yang netral. “Bukan pengetatan dan bukan pelonggaran ekonomi,” tegasnya.

Menurut dia, kebijakan moneter netral itulah yang melandasi BI untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan BI Rate pada level 5,75 persen pada rapat Dewan Gubernur BI lalu. Bunga acuan saat ini dinilai masih sesuai dengan laju inflasi yang rendah dan terkendali.

BI Rate di level 5,75 persen, itu juga dinilai sesuai dengan tujuan menjaga pertumbuhan ekonomi tetap tinggi,di atas 6%. Terkait inflasi, Perry mengatakan BI memperkirakan pada 2012, tingkat inflasisebesar 4,6 persen atau tidak melebihi target yang ditetapkan otoritas moneter itu, yakni 4,5 persen plus-minus 1 persen.

Sementara tahun depan, kata dia, tingkat inflasi nasional diperkirakan sebesar 4,8 persen didasarkan pada penaksiran risiko tingkat inflasi 2012.

Terpisah, Staf Ahli Menteri bidang Ekonomi dan Pendanaan Pembangunan Kementerian Perencanaan Pembangunan (PPN) Bambang Priambodo mengatakan, bertahannya nilai tukar rupiah di kisaran Rp9.500–9.600 serta menurunnya harga komoditas di pasar internasional membuat inflasi sepanjang tahun ini diprediksi tetap pada kisaran 4,5 persen plus minus 0,5 persen.

Perkiraan ini dengan catatan tidak adanya gangguan ekonomi musiman yang bisa mempengaruhi. “Gejolak musiman seperti pengaruh iklim ekstrem diprediksi aman. Sementara BI juga akan tetap mempertahankan kurs sehingga harga-harga kebutuhan tidak ada yang naik. Kisaran 4,5 persen plus minus 0,5 persen masih bisa dicapai,” kata Bambang, kemarin.

Menurut Bambang, melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia membuat harga berbagai barang komoditas internasional ikut turun sehingga berimplikasi turunnya harga kebutuhan masyarakat di dalam negeri. Kondisi tersebut membuat ekonomi domestik menjadi stabil.

Dari segi suplai, kata dia, pasokan bahan pangan dan kebutuhan lainnya terpenuhi, dengan harga yang masih dalam tingkat normal. Proyeksi rendahnya inflasi hingga akhir tahun juga bisa dilihat berdasarkan capaian angka inflasi pada Januari hingga September 2012, yakni di level 3,49 persen dan laju inflasi year on year (yoy) September 2012 dibanding September 2011 sebesar 4,31 persen.

Terkait nilai tukar, Bambang pun meyakini BI akan tetap menahan rupiah di kisaran Rp9.500 per dolar, sehingga tidak akan memengaruhi inflasi yang berasal dari barang-barang impor.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.409 per Dolar AS
Rupiah Terlemah Sepanjang...
Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp15.526
Wacana Lama Hidup Lagi,...
Wacana Lama Hidup Lagi, Ini Dua Sisi Pentingnya Redenominasi Rupiah
Bikin Gaduh Karena Keliru...
Bikin Gaduh Karena Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Google Harus Tanggung Jawab!
Google Keliru Tampilkan...
Google Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Timbulkan Kegaduhan!
Berita Terkini
S&P Tahan RI Masih Investment...
S&P Tahan RI Masih Investment Grade, Fuad Bawazier Prediksi Ekonomi Bangkit 6 Bulan Lagi!
1 jam yang lalu
Transaksi Serba Digital,...
Transaksi Serba Digital, Pembelian Token Listrik Semakin Praktis
2 jam yang lalu
BI Injeksi Likuiditas...
BI Injeksi Likuiditas Rp837,11 Triliun, Tekanan di Pasar Uang Mulai Reda
2 jam yang lalu
Mantan Menkeu Ungkap...
Mantan Menkeu Ungkap 3 Gol Besar Sistem Ekspor Satu Pintu yang Dipuji S&P
3 jam yang lalu
MAMI Kelola Aset Rp125...
MAMI Kelola Aset Rp125 Triliun hingga Juni 2026, Catat Lebih 2,6 Juta Investor
3 jam yang lalu
Elnusa Petrofin Pastikan...
Elnusa Petrofin Pastikan Distribusi BBM di Sumatra Utara Kembali Normal
4 jam yang lalu
Infografis
Para Miliarder Teknologi...
Para Miliarder Teknologi Hamburkan Triliunan Rupiah untuk Riset Kehidupan Abadi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved