Banggar setujui Rp23 T untuk keadaan mendesak
Senin, 15 Oktober 2012 - 17:53 WIB
Banggar setujui Rp23 T untuk keadaan mendesak
A
A
A
Sindonews.com - Badan Anggaran (Banggar) DPR RI hanya menyetujui penggunaan cadangan resiko fiskal untuk kelebihan yang terjadi pada realisasi subsidi energi di tahun 2012. Kesepakatan terjadi setelah Banggar bersama pemerintah melaksanakan Rapat Kerja di Gedung DPR RI.
Sesuai dengan APBN Perubahan 2012, disepakati adanya cadangan resiko fiskal sebesar Rp23 triliun. Anggaran ini dapat digunakan dalam keadaan terdesak, seperti yang terjadi saat ini.
"Jadi kami menyetujui penggunaan cadangan resiko fiskal untuk dipakai pada realisasi yang berlebih dari subsidi energi tahun 2012 dan kemudian akan di-exercise di komisi terkait," kata Ketua Banggar Ahmadi Noor Supit saat rapat di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (15/10/2012).
Akan tetapi dari total kelebihan subsidi energi, pemerintah mesti mencari jalan keluar untuk menutupi anggaran tersebut. Sebelumnya, pemerintah menyebutkan total subsidi energi hingga akhir tahun 2012 dapat mencapai Rp305,9 triliun. Sementara pada APBN Perubahan 2012 subsidi energi hanya sebesar Rp225 triliun.
"Total anggaran pada akan mencapai Rp305,9 triliun," kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Bambang Brodjonegoro.
Kelebihan anggaran, terjadi karena penambahan kuota bahan bakar minyak (BBM) sebesar 4,04 juta kiloliter (kl). Hingga akhir tahun, premium membutuhkan anggaran Rp13,8 triliun dan solar sebesar Rp8,4 triliun. Sementara minyak tanah masih menyisakan anggaran Rp4 triliun.
"Jadi pemerintah menyarankan pagu pembayaran sebesar Rp216,774 triliun secara keseluruhan," jelasnya.
Sementara itu, untuk listrik dari anggaran Rp64,9 triliun, realisasi hinggan akhir tahun mencapai Rp89,1 triliun. Bambang menuturkan, penambahan akan diambil dari cadangan resiko yang berjumlah Rp23 triliun.
"Listrik tidak akan ada lagi anggaran sampai dengan Agustus, apalagi untuk bayar bulan lain sampai Desember," pungkasnya.
Sesuai dengan APBN Perubahan 2012, disepakati adanya cadangan resiko fiskal sebesar Rp23 triliun. Anggaran ini dapat digunakan dalam keadaan terdesak, seperti yang terjadi saat ini.
"Jadi kami menyetujui penggunaan cadangan resiko fiskal untuk dipakai pada realisasi yang berlebih dari subsidi energi tahun 2012 dan kemudian akan di-exercise di komisi terkait," kata Ketua Banggar Ahmadi Noor Supit saat rapat di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (15/10/2012).
Akan tetapi dari total kelebihan subsidi energi, pemerintah mesti mencari jalan keluar untuk menutupi anggaran tersebut. Sebelumnya, pemerintah menyebutkan total subsidi energi hingga akhir tahun 2012 dapat mencapai Rp305,9 triliun. Sementara pada APBN Perubahan 2012 subsidi energi hanya sebesar Rp225 triliun.
"Total anggaran pada akan mencapai Rp305,9 triliun," kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Bambang Brodjonegoro.
Kelebihan anggaran, terjadi karena penambahan kuota bahan bakar minyak (BBM) sebesar 4,04 juta kiloliter (kl). Hingga akhir tahun, premium membutuhkan anggaran Rp13,8 triliun dan solar sebesar Rp8,4 triliun. Sementara minyak tanah masih menyisakan anggaran Rp4 triliun.
"Jadi pemerintah menyarankan pagu pembayaran sebesar Rp216,774 triliun secara keseluruhan," jelasnya.
Sementara itu, untuk listrik dari anggaran Rp64,9 triliun, realisasi hinggan akhir tahun mencapai Rp89,1 triliun. Bambang menuturkan, penambahan akan diambil dari cadangan resiko yang berjumlah Rp23 triliun.
"Listrik tidak akan ada lagi anggaran sampai dengan Agustus, apalagi untuk bayar bulan lain sampai Desember," pungkasnya.
(rna)
Lihat Juga :