Krisis global, pasar barang mewah melemah
Rabu, 17 Oktober 2012 - 09:40 WIB
Krisis global, pasar barang mewah melemah
A
A
A
Sindonews.com - Lemahnya pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara rupanya berdampak juga pada permintaan barang-barang mewah. Data terbaru yang dirilis perusahaan konsultasi bisnis global Bain & Co kemarin menyebutkan, pertumbuhan penjualan barang mewah tahun ini diprediksi melemah menjadi hanya 5 persen dari sebelumnya tumbuh 13 persen pada 2011.
Menurut Firma yang berbasis di Boston, Amerika Serikat (AS), pelemahan tersebut disebabkan kecenderungan konsumen di China untuk menghemat pengeluaran sebagai imbas kekhawatiran akan kondisi ekonomi global.
Dalam laporan hasil studi Bain & Co yang dirilis bersama asosiasi pedagang barang mewah Italia, Altagamma, disebutkan bahwa tanda-tanda pelemahan tersebut awalnya memang terdeteksi di Negeri Panda. Negara itu dalam beberapa tahun terakhir memang dikenal sebagai motor penggerak utama pertumbuhan industri barang mewah.
“Perubahan dalam pemerintahan di China dan sikap tegas terhadap korupsi rupanya mampu menekan pembelanjaan barang mewah oleh konsumen di Negeri Tirai Bambu,” ujar laporan tersebut seperti dikutip Reuters Senin (15/10/2012).
Laporan itu menambahkan, tahun ini pasar barang mewah China akan meningkat sebesar 8 persen dengan nilai mencapai 15 miliar euro (USD19 miliar). Sebagai perbandingan,tahun lalu dengan kedua posisi kurs yang sama kenaikannya bisa mencapai 30 persen.
Dalam laporannya,Bain & Co menyatakan, wisatawan asal China saat ini berkontribusi sebesar 40 persen dari total penjualan barang mewah di dunia. Bahkan, di beberapa negara seperti Prancis, angkanya bisa mencapai 60 persen.
Pasalnya, sejak diterbitkannya kebijakan penyederhanaan visa di Prancis, China menjadikan negara Paris sebagai tujuan utama wisata barang mewah. Adapun, Eropa yang sedang terpukul oleh krisis utang zona euro tahun ini kemungkinan hanya akan mengalami pertumbuhan belanja barang mewah sebesar 5 persen atau hanya separuh dari pertumbuhan tahun lalu.
Dampak terberat terutama dirasakan Italia dan Spanyol. Sedikit bertolak belakang, pasar barang mewah AS justru diproyeksikan meraup keuntungan lebih besar dengan kenaikan pendapatan sebesar 13 persen pada akhir tahun ini. Dengan menggunakan nilai tukar saat ini, laporan tersebut juga memprediksikan bahwa pertumbuhan penjualan di pasar dunia barang mewah akan melambat tahun ini menjadi 10 persen dari tahun sebelumnya sebesar 11 persen.
Pelambatan ini terutama akan terlihat pada kuartal IV/2012. “Kekhawatiran tentang kelemahan pasar agak berlebihan, ”kata mitra Baik & Co di Milan, Claudia D’Arpizio, yang menjadi penulis utama studi tersebut. Bain & Co memperkirakan, pasar barang mewah akan tumbuh dengan kurs konstan sebesar 4–6 persen per tahun antara tahun 2013 dan 2015, dengan nilai lebih dari 250 miliar euro.
Penurunan permintaan barang mewah secara riil sejalan dengan laporan grup LVMH yang pada awal pekan ini merilis data kinerja kuartal III/2012. Menurut pemegang merek Louis Vuitton, Fendi, Celine dan Kenzo itu, profil penjualan mereka pada periode Juli-September 2012 hanya tumbuh 8 persen.
Sebagai perbandingan, pada kuartal I dan II, penjualan LVMH masingmasing naik 12 persen dan 8 persen. Menurut LVMH, pendapatan pada kuartal III/2012 total hanya mencapai 6,9 miliar euro (USD8,93 miliar).
Jumlah tersebut di atas perkiraan analis yang memprediksi pendapatan 6,8 miliar euro. Namun, pendapatan LVMH di luar Louis Vuitton yang berkontribusi pada 75 persen pemasukan dari grup.
Analis berpendapat,Louis Vuitton sudah kehilangan pasarnya di China karena banyaknya produk lain yang serupa. “Kami meyakini,Louis Vuitton dari LVMH hanya tumbuh di angka 4 persen dan itu di bawah rata-rata semua divisinya,” tulis HSBC dalam catatannya.
Menurut Firma yang berbasis di Boston, Amerika Serikat (AS), pelemahan tersebut disebabkan kecenderungan konsumen di China untuk menghemat pengeluaran sebagai imbas kekhawatiran akan kondisi ekonomi global.
Dalam laporan hasil studi Bain & Co yang dirilis bersama asosiasi pedagang barang mewah Italia, Altagamma, disebutkan bahwa tanda-tanda pelemahan tersebut awalnya memang terdeteksi di Negeri Panda. Negara itu dalam beberapa tahun terakhir memang dikenal sebagai motor penggerak utama pertumbuhan industri barang mewah.
“Perubahan dalam pemerintahan di China dan sikap tegas terhadap korupsi rupanya mampu menekan pembelanjaan barang mewah oleh konsumen di Negeri Tirai Bambu,” ujar laporan tersebut seperti dikutip Reuters Senin (15/10/2012).
Laporan itu menambahkan, tahun ini pasar barang mewah China akan meningkat sebesar 8 persen dengan nilai mencapai 15 miliar euro (USD19 miliar). Sebagai perbandingan,tahun lalu dengan kedua posisi kurs yang sama kenaikannya bisa mencapai 30 persen.
Dalam laporannya,Bain & Co menyatakan, wisatawan asal China saat ini berkontribusi sebesar 40 persen dari total penjualan barang mewah di dunia. Bahkan, di beberapa negara seperti Prancis, angkanya bisa mencapai 60 persen.
Pasalnya, sejak diterbitkannya kebijakan penyederhanaan visa di Prancis, China menjadikan negara Paris sebagai tujuan utama wisata barang mewah. Adapun, Eropa yang sedang terpukul oleh krisis utang zona euro tahun ini kemungkinan hanya akan mengalami pertumbuhan belanja barang mewah sebesar 5 persen atau hanya separuh dari pertumbuhan tahun lalu.
Dampak terberat terutama dirasakan Italia dan Spanyol. Sedikit bertolak belakang, pasar barang mewah AS justru diproyeksikan meraup keuntungan lebih besar dengan kenaikan pendapatan sebesar 13 persen pada akhir tahun ini. Dengan menggunakan nilai tukar saat ini, laporan tersebut juga memprediksikan bahwa pertumbuhan penjualan di pasar dunia barang mewah akan melambat tahun ini menjadi 10 persen dari tahun sebelumnya sebesar 11 persen.
Pelambatan ini terutama akan terlihat pada kuartal IV/2012. “Kekhawatiran tentang kelemahan pasar agak berlebihan, ”kata mitra Baik & Co di Milan, Claudia D’Arpizio, yang menjadi penulis utama studi tersebut. Bain & Co memperkirakan, pasar barang mewah akan tumbuh dengan kurs konstan sebesar 4–6 persen per tahun antara tahun 2013 dan 2015, dengan nilai lebih dari 250 miliar euro.
Penurunan permintaan barang mewah secara riil sejalan dengan laporan grup LVMH yang pada awal pekan ini merilis data kinerja kuartal III/2012. Menurut pemegang merek Louis Vuitton, Fendi, Celine dan Kenzo itu, profil penjualan mereka pada periode Juli-September 2012 hanya tumbuh 8 persen.
Sebagai perbandingan, pada kuartal I dan II, penjualan LVMH masingmasing naik 12 persen dan 8 persen. Menurut LVMH, pendapatan pada kuartal III/2012 total hanya mencapai 6,9 miliar euro (USD8,93 miliar).
Jumlah tersebut di atas perkiraan analis yang memprediksi pendapatan 6,8 miliar euro. Namun, pendapatan LVMH di luar Louis Vuitton yang berkontribusi pada 75 persen pemasukan dari grup.
Analis berpendapat,Louis Vuitton sudah kehilangan pasarnya di China karena banyaknya produk lain yang serupa. “Kami meyakini,Louis Vuitton dari LVMH hanya tumbuh di angka 4 persen dan itu di bawah rata-rata semua divisinya,” tulis HSBC dalam catatannya.
(rna)
Lihat Juga :