Investasi hulu migas diproyeksikan USD15 M
Kamis, 18 Oktober 2012 - 09:36 WIB
Investasi hulu migas diproyeksikan USD15 M
A
A
A
Sindonews.com – Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) memproyeksikan investasi di sektor hulu migas tahun ini mencapai USD15,08 miliar (sekitar Rp135 triliun), lebih tinggi dari realisasi 2011 USD14,02 miliar.
Kepala BP Migas R Priyono mengatakan, sebagian besar investasi itu digunakan untuk menunjang kegiatan operasional produksi dan pengembangan lapangan serta pembiayaan proyek-proyek besar.
“Proyek-proyek tersebut memberikan kontribusi pada profit produksi migas hingga saat ini, yang masih di atas 2 juta BOEPD (setara barel minyak per hari),” kata dia dalam rapat dengan pendapat dengan Komisi VII DPR di Gedung DPR, Jakarta, kemarin.
Priyono menjelaskan, terdapat beberapa proyek besar di hulu migas dalam periode 2006–2011. Proyek-proyek besar tersebut antara lain Blok Cepu yang dikembangkan oleh Mobil Cepu Ltd, North Belut oleh ConocoPhillips, Tangguh oleh BP Indonesia,dan Tunu 13 B serta Peciko 6 A oleh Total E&P Indonesie. Secara makro, investor dunia masih melihat Indonesia sebagai tujuan yang menarik untuk berinvestasi.
“Industri hulu migas diharapkan dapat ikut memanfaatkan kondisi ini, mengingat secara geologis potensi cadangan migas kita masih cukup menarik,” tuturnya.
Untuk menarik lebih banyak investasi,Priyono mengatakan bahwa BP Migas telah berkomunikasi dengan Kementerian Keuangan mengenai insentif fiskal yang bisa ditawarkan pada investor. BP Migas juga meminta masukan dari kontraktor migas terkait insentif yang harus diberikan pemerintah untuk meningkatkan investasi.
“Pemerintah setuju memberikan insentif,” katanya.
Terpisah, Presiden Indonesia Petroleum Association (IPA) Elisabeth Proust memperkirakan investasi hulu migas tahun ini bisa mencapai angka USD19 miliar, atau sekitar Rp171 triliun. Namun, kenaikan investasi itu terkait dengan meningkatnya biaya operasional untuk menahan laju penurunan produksi minyak.
“Angka itu bisa naik jika lingkungan investasi lebih stabil dan konstruktif bagi investor,” imbuhnya.
Menurut dia, investasi cenderung stagnan karena investor baru yang ingin melakukan eksplorasi blok baru masih belum banyak. Hal itu terkait dengan karakteristik industri migas yang merupakan sektor yang membutuhkan modal dan memiliki risiko besar.
“Karena itu, kami percaya pemerintah menyadari adanya kebutuhan mendesak untuk menciptakan iklim investasi yang positif untuk mendorong investasi lebih lanjut untuk kegiatan eksplorasi dan produksi,” ujarnya.
Bagi investor, kata dia, kepastian hukum hingga kini masih jadi perhatian dan kekhawatiran utama. Terlebih lagi ada rencana revisi Undang-Undang No 22/2001 tentang Migas. Dia berharap, pemerintah mau berkonsultasi dengan asosiasi sebelum melakukan banyak perubahan terhadap undang-undang itu.
Sementara, terkait penerimaan negara dari sektor hulu migas, hingga September 2012 jumlahnya telah mencapai USD27,1 miliar (sekitar Rp243,9 triliun),atau 81 persen dari target APBN-P 2012 sebesar USD33,5 miliar. Priyono berharap, realisasi penerimaan negara akan dapat melebihi target yang telah ditetapkan.
“Diharapkan, sampai dengan akhir tahun sektor hulu migas mampu memenuhi target penerimaan dari pemerintah dan berhasil membukukan penerimaan negara sekitar USD34,5 miliar,atau 103 perseb dari target APBN,” katanya.
Kepala BP Migas R Priyono mengatakan, sebagian besar investasi itu digunakan untuk menunjang kegiatan operasional produksi dan pengembangan lapangan serta pembiayaan proyek-proyek besar.
“Proyek-proyek tersebut memberikan kontribusi pada profit produksi migas hingga saat ini, yang masih di atas 2 juta BOEPD (setara barel minyak per hari),” kata dia dalam rapat dengan pendapat dengan Komisi VII DPR di Gedung DPR, Jakarta, kemarin.
Priyono menjelaskan, terdapat beberapa proyek besar di hulu migas dalam periode 2006–2011. Proyek-proyek besar tersebut antara lain Blok Cepu yang dikembangkan oleh Mobil Cepu Ltd, North Belut oleh ConocoPhillips, Tangguh oleh BP Indonesia,dan Tunu 13 B serta Peciko 6 A oleh Total E&P Indonesie. Secara makro, investor dunia masih melihat Indonesia sebagai tujuan yang menarik untuk berinvestasi.
“Industri hulu migas diharapkan dapat ikut memanfaatkan kondisi ini, mengingat secara geologis potensi cadangan migas kita masih cukup menarik,” tuturnya.
Untuk menarik lebih banyak investasi,Priyono mengatakan bahwa BP Migas telah berkomunikasi dengan Kementerian Keuangan mengenai insentif fiskal yang bisa ditawarkan pada investor. BP Migas juga meminta masukan dari kontraktor migas terkait insentif yang harus diberikan pemerintah untuk meningkatkan investasi.
“Pemerintah setuju memberikan insentif,” katanya.
Terpisah, Presiden Indonesia Petroleum Association (IPA) Elisabeth Proust memperkirakan investasi hulu migas tahun ini bisa mencapai angka USD19 miliar, atau sekitar Rp171 triliun. Namun, kenaikan investasi itu terkait dengan meningkatnya biaya operasional untuk menahan laju penurunan produksi minyak.
“Angka itu bisa naik jika lingkungan investasi lebih stabil dan konstruktif bagi investor,” imbuhnya.
Menurut dia, investasi cenderung stagnan karena investor baru yang ingin melakukan eksplorasi blok baru masih belum banyak. Hal itu terkait dengan karakteristik industri migas yang merupakan sektor yang membutuhkan modal dan memiliki risiko besar.
“Karena itu, kami percaya pemerintah menyadari adanya kebutuhan mendesak untuk menciptakan iklim investasi yang positif untuk mendorong investasi lebih lanjut untuk kegiatan eksplorasi dan produksi,” ujarnya.
Bagi investor, kata dia, kepastian hukum hingga kini masih jadi perhatian dan kekhawatiran utama. Terlebih lagi ada rencana revisi Undang-Undang No 22/2001 tentang Migas. Dia berharap, pemerintah mau berkonsultasi dengan asosiasi sebelum melakukan banyak perubahan terhadap undang-undang itu.
Sementara, terkait penerimaan negara dari sektor hulu migas, hingga September 2012 jumlahnya telah mencapai USD27,1 miliar (sekitar Rp243,9 triliun),atau 81 persen dari target APBN-P 2012 sebesar USD33,5 miliar. Priyono berharap, realisasi penerimaan negara akan dapat melebihi target yang telah ditetapkan.
“Diharapkan, sampai dengan akhir tahun sektor hulu migas mampu memenuhi target penerimaan dari pemerintah dan berhasil membukukan penerimaan negara sekitar USD34,5 miliar,atau 103 perseb dari target APBN,” katanya.
(rna)
Lihat Juga :