BJBR jajaki investasi ke Afrika Selatan
Senin, 22 Oktober 2012 - 17:07 WIB
BJBR jajaki investasi ke Afrika Selatan
A
A
A
Sindonews.com - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) serius menjajaki investasi perbankan ke negara di kawasan Afrika Selatan (Afsel). Upaya tersebut sejalan dibukanya komunikasi intensif antara Jabar dan Afrika Selatan baru baru ini.
Direktur Utama Bank BJBR Bien Subiantoro menjelaskan, potensi Bank BJBR mengembangkan bisnis ke kawasan tersebut cukup besar. Terlebih, pada pertemuan bisnis antara delegasi Afrika Selatan dan pengusaha Jabar, mencuat adanya potensi investasi perbankan di kawasan tersebut.
"Dalam beberapa kali pertemuan, mereka menawarkan kerja sama antara bank di Afsel dengan Bank BJB dalam bentuk investasi. Bentuknya mengakuisisi bank lokal atau dalam bentuk skema kerja sama antarbank," kata Bien di sela-sela kunjungan delegasi Afrika Selatan di Kantor Pusat Bank BJBR, Kota Bandung, Senin (22/10/2012).
Menurut Bien, tawaran tersebut merupakan peluang bagi Bank BJBR karena biasanya, perbankan asing sulit masuk ke suatu negara, seperti ke Singapura, Hongkong dan Malaysia. Pasalnya, mereka memproteksi masuknya bank asing ke negaranya.
Kendati demikian, lanjut Bien, Bank BJB tidak serta merta melakukan akuisisi bank di Afsel. Ekspansi bisnis mesti membutuhkan sejumlah tahap, seperti mendirikan kantor cabang dan mencatat peningkatan transaksinya. Apabila terus tumbuh, maka pihaknya tidak segan mengakuisisi atau berinvestasi dengan bank lokal.
Untuk bisnis jangka pendek, pihaknya akan fokus menggarap pembiayaan ekspor impor ke Afrika Selatan. Hal itu sejalan akan digiatkannya ekspor impor antara Indonesia dan Afsel.
Selain itu, Bank BJB juga berpeluang terlibat pada proyek pembangunan gedung parlemen di Afsel yang dilakukan oleh salah satu perusahaan BUMN Indonesia. "Sementara ini, kita sudah punya bank koresponden di Afsel, yaitu Afsa Bank. Kedepannya, apabila pertumbuhannya menjanjikan, tidak menutup kemungkinan membuka cabang sendiri," pungkas Bien.
Ketua Kamar Dagang Afrika Selatan (Nafcoc) Lawrence Mavundla mengatakan, negara terbuka terhadap masuknya bank asing. Bahkan, kalangan pemerintah cenderung mengikuti kalangan pebisnis. Beberapa negara lain juga telah bekerjasama dengan bank Afsel.
"Skema yang paling mudah yaitu dengan mengakuisisi bank lokal yang telah ada. Sehingga izinnya lebih mudah," jelas Lawrence. Mengakuisisi bank lokal, juga telah dilakukan perbankan China dan Inggris. Menurut dia, bank di Afsel membutuhkan suntikan dana untuk pembiayaan sektor pertambangan.
Direktur Utama Bank BJBR Bien Subiantoro menjelaskan, potensi Bank BJBR mengembangkan bisnis ke kawasan tersebut cukup besar. Terlebih, pada pertemuan bisnis antara delegasi Afrika Selatan dan pengusaha Jabar, mencuat adanya potensi investasi perbankan di kawasan tersebut.
"Dalam beberapa kali pertemuan, mereka menawarkan kerja sama antara bank di Afsel dengan Bank BJB dalam bentuk investasi. Bentuknya mengakuisisi bank lokal atau dalam bentuk skema kerja sama antarbank," kata Bien di sela-sela kunjungan delegasi Afrika Selatan di Kantor Pusat Bank BJBR, Kota Bandung, Senin (22/10/2012).
Menurut Bien, tawaran tersebut merupakan peluang bagi Bank BJBR karena biasanya, perbankan asing sulit masuk ke suatu negara, seperti ke Singapura, Hongkong dan Malaysia. Pasalnya, mereka memproteksi masuknya bank asing ke negaranya.
Kendati demikian, lanjut Bien, Bank BJB tidak serta merta melakukan akuisisi bank di Afsel. Ekspansi bisnis mesti membutuhkan sejumlah tahap, seperti mendirikan kantor cabang dan mencatat peningkatan transaksinya. Apabila terus tumbuh, maka pihaknya tidak segan mengakuisisi atau berinvestasi dengan bank lokal.
Untuk bisnis jangka pendek, pihaknya akan fokus menggarap pembiayaan ekspor impor ke Afrika Selatan. Hal itu sejalan akan digiatkannya ekspor impor antara Indonesia dan Afsel.
Selain itu, Bank BJB juga berpeluang terlibat pada proyek pembangunan gedung parlemen di Afsel yang dilakukan oleh salah satu perusahaan BUMN Indonesia. "Sementara ini, kita sudah punya bank koresponden di Afsel, yaitu Afsa Bank. Kedepannya, apabila pertumbuhannya menjanjikan, tidak menutup kemungkinan membuka cabang sendiri," pungkas Bien.
Ketua Kamar Dagang Afrika Selatan (Nafcoc) Lawrence Mavundla mengatakan, negara terbuka terhadap masuknya bank asing. Bahkan, kalangan pemerintah cenderung mengikuti kalangan pebisnis. Beberapa negara lain juga telah bekerjasama dengan bank Afsel.
"Skema yang paling mudah yaitu dengan mengakuisisi bank lokal yang telah ada. Sehingga izinnya lebih mudah," jelas Lawrence. Mengakuisisi bank lokal, juga telah dilakukan perbankan China dan Inggris. Menurut dia, bank di Afsel membutuhkan suntikan dana untuk pembiayaan sektor pertambangan.
(rna)