Ekonom : Ekonomi Indonesia hadapi masalah kepemimpinan
Selasa, 23 Oktober 2012 - 12:49 WIB
Ekonom : Ekonomi Indonesia hadapi masalah kepemimpinan
A
A
A
Sindonews.com - Kalangan ekonom Indonesia memandang, permasalahan kepemimpinan di dalam negeri masih menjadi kontributor utama penghambat pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Salah satunya adalah kepemimpinan dalam permasalahaan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang tak kunjung selesai.
"Kita punya problem leadership (kepemimpinan). Eksekusi infrastruktur yang terlambat, APBN tidak sehat," ujar Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Bisnis Universitas Gajah Mada (UGM), Tony Prasetiantono dalam paparannya di Hotel Borobudur Jakarta, Selasa (23/10/2012).
Masalah yang dimaksud Tony, salah satunya adalah tidak tegasnya pemerintah dalam menanggulangi permasalahan subsidi energi di Tanah Air. Padahal, masalah tersebut telah membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengat taraf yang sangat mengawatirkan.
"Subsidi energi Rp305 triliun lebih dan tidak ada tanda-tanda turun. Presiden kita yang sekarang ini, Pak SBY tidak cukup PD (percaya diri) menaikkan harga BBM karena popularitasnya sedang rendah-rendahnya," tegasnya.
Dengan kondisi yang demikian pelik, Tony memandang, siapapun pemimpin Indonesia akan memperoleh beban luar biasa, yang merupakan akumulasi masalah yang diwariskan pemimpin negara periode ini.
"Akan ada akumulasi masalah yang berat yang akan dihadapi pemerintah terpilih di 2014," simpulnya.
"Kita punya problem leadership (kepemimpinan). Eksekusi infrastruktur yang terlambat, APBN tidak sehat," ujar Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Bisnis Universitas Gajah Mada (UGM), Tony Prasetiantono dalam paparannya di Hotel Borobudur Jakarta, Selasa (23/10/2012).
Masalah yang dimaksud Tony, salah satunya adalah tidak tegasnya pemerintah dalam menanggulangi permasalahan subsidi energi di Tanah Air. Padahal, masalah tersebut telah membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengat taraf yang sangat mengawatirkan.
"Subsidi energi Rp305 triliun lebih dan tidak ada tanda-tanda turun. Presiden kita yang sekarang ini, Pak SBY tidak cukup PD (percaya diri) menaikkan harga BBM karena popularitasnya sedang rendah-rendahnya," tegasnya.
Dengan kondisi yang demikian pelik, Tony memandang, siapapun pemimpin Indonesia akan memperoleh beban luar biasa, yang merupakan akumulasi masalah yang diwariskan pemimpin negara periode ini.
"Akan ada akumulasi masalah yang berat yang akan dihadapi pemerintah terpilih di 2014," simpulnya.
(rna)
Lihat Juga :