Irigasi tercemar, petani boikot bayar pajak

Selasa, 23 Oktober 2012 - 17:30 WIB
Irigasi tercemar, petani...
Irigasi tercemar, petani boikot bayar pajak
A A A
Sindonews.com - Sejak saluran irigasi tercemar limbah pabrik kulit, petani di Kelurahan Sukamentri, Kecamatan Garut Kota melakukan boikot bayar pajak bumi dan bangunan. Akibat aksi ini, kelurahan harus nombok Rp47 juta pertahun.

Aksi boikot petani ini karena mereka merasa pemerintah tidak memperhatikan keluhan mereka. “Pemerintah tidak peduli dengan pencemaran di lingkungan kami. Jadi, buat apa bayar pajak. Bukan hanya saya, petani lain di sini juga enggan bayar PBB,” kata warga Kampung Bentar Hilir, Kelurahan Sukamentri, Kecamatan Garut Kota, Ismail (62) di Garut, Selasa (23/10/2012).

Menurut Ismail, penghasilan warga yang sebagian besar bekerja sebagai petani berkurang akibat pencemaran limbah kulit melalui saluran irigasi. Kini, ungkapnya, dalam satu kali panen, satu kwintal (kw) gabah hanya mampu menghasilkan beras sebanyak 50 kilogram.

“Kalau dulu, sebelum areal pertanian tercemar sekira tahun 80-an, satu kw gabah bisa menghasilkan beras sebanyak 70 hingga 80 kilogram," terangnya.

Bukan hanya di Kampung Bentar Hilir, warga yang enggan bayar pajak tersebar dibeberapa kampung di Kelurahan Sukamentri, yaitu Kampung Tegal Kurdi, Copong, Bojonglara, Panyingkiran, dan lainnya.

Seorang warga Kampung Panyingkiran, Ojoh (60) mengaku air Sungai Ciwalen yang melintasi permukiman mereka juga tercemar limbah B3. Ia menilai, pembayaran pajak sangat sia-sia karena pemerintah hingga kini belum juga menuntaskan persoalan pencemaran ini.

Terpisah, Kepala Kelurahan Sukamentri Suherman membenarkan keengganan warga dan petani untuk membayar PBB. Bahkan, kata Suherman, untuk menutupi tunggakan PBB dari warga, setiap tahun kelurahannya harus menombok pembayaran pajak hingga Rp47 juta.

“Saya sendiri bingung bagaimana caranya memecahkan persoalan ini. Setiap tahun kami harus mengeluarkan uang sebanyak Rp47 juta untuk menombok pembayaran pajak. Uang itu, tadinya kami peruntukan untuk biaya operasional kelurahan. Pada akhirnya, habis untuk membayar PBB warga,” katanya.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Dinas LHK Jaktim Kenalkan...
Dinas LHK Jaktim Kenalkan Anak dengan Urban Farming Sejak Dini
Kreativitas Warga Papanggo,...
Kreativitas Warga Papanggo, Ubah Lahan Terlantar Jadi Pertanian Produktif
Sekolah Pertanian Berbasis...
Sekolah Pertanian Berbasis Digital Dibangun Pemerintah Tahun Depan
Sarasehan Pertanian...
Sarasehan 'Pertanian Berkelanjutan dan Adopsi Teknologi Modern'
Kelurahan Sunter Agung...
Kelurahan Sunter Agung Kembangkan Sistem Pertanian Perkotaan Rumah Kaca
Dinas Pertanian Sleman...
Dinas Pertanian Sleman Diminta Edukasi Petani Milenial untuk Tingkatkan Produksi
Berita Terkini
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Terkoreksi 0,04 Persen di Level 5.984
39 menit yang lalu
Perusahaan yang Sahamnya...
Perusahaan yang Sahamnya Dimiliki Kaesang Kesandung Kredit Macet, Utang Bank Tembus Rp2,8 Triliun
50 menit yang lalu
Keruntuhan Dolar AS...
Keruntuhan Dolar AS Bukan Lagi Dongeng, BRICS Ubah dari Khayalan Menjadi Ancaman Nyata
1 jam yang lalu
RI-India Bidik Nilai...
RI-India Bidik Nilai Kerja Sama Ekonomi Tembus Rp445,8 Triliun, dari Infrastruktur hingga SDA
2 jam yang lalu
Genera-Z Berbakti BCA...
Genera-Z Berbakti BCA Siapkan Mahasiswa Implementasikan Solusi bagi Desa Wisata
11 jam yang lalu
Kapal Tanker Kembali...
Kapal Tanker Kembali Diserang di Selat Hormuz, Harga Minyak Langsung Terbang
12 jam yang lalu
Infografis
Pemprov DKI Jakarta...
Pemprov DKI Jakarta Diskon Bayar PBB-P2 Tahun 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved