Perekonomian Eropa masih suram
Rabu, 24 Oktober 2012 - 10:39 WIB
Perekonomian Eropa masih suram
A
A
A
Sindonews.com - Perekonomian Eropa diprediksi masih terus memburuk, kendati sejumlah rencana penyelamatan sudah disampaikan otoritas zona euro untuk memenangkan pasar.
Data terkini yang dirilis Prancis dan Jerman menunjukkan bahwa krisis tampaknya belum akan berakhir dengan segera.
Badan Statistik Nasional Prancis (INSEE) kemarin menyatakan, indeks sentimen industri di negeri mode itu jatuh ke level terendah dalam tiga tahun terakhir pada Oktober lalu.
Menurut INSEE, turunnya sentimen bisnis dipicu lemahnya outlook manufaktur dan rendahnya tingkat pemesanan barang.
Indeks komposit manufaktur Prancis pada bulan lalu turun lima poin menjadi 85, anjlok dari indeks rata-rata jangka panjang sebesar 100 poin. Indeks tersebut meliputi sektor jasa, konstruksi, perkulakan dan ritel.
“Karakteristik aktivitas industri bulan lalu sangat lemah sehingga menimbulkan pesimistis,” ujar INSEE dikutip AFP kemarin.
Di Berlin, Bank Sentral Jerman (Bundesbank) memperingatkan, perekonomian negara itu di kuartal IV/2012 diprediksi melambat. Hal itu disebabkan adanya ketidakpastian ekonomi global dan melemahnya permintaan ekspor.
Kendati demikian, perekonomian negara terbesar zona euro itu diramalkan tumbuh di kuartal III tahun ini, meski produk domestik bruto (PDB)-nya relatif stagnan.
“Akhir tahun ini kemungkinan terkontraksi,” ujar Bundesbank dalam laporan bulanan seperti dikutip BBC, Senin (22/10/2012) malam waktu setempat.
Bundesbank menambahkan, Jerman mengalami penurunan pertumbuhan pada kuartal II/2012 sebesar 0,3 persen atau lebih lambat dari kuartal sebelumnya, di mana perekonomian negara beribu kota Berlin itu tumbuh 0,5 persen.
Menurut Bundesbank, laporan saat ini mencerminkan melemahnya prospek ekspor dan berlanjutnya ketidakpastian mengenai outlook perkembangan ekonomi global.
Sebelumnya Kementerian Keuangan Jerman juga telah memperingatkan, adanya kemungkinan perlambatan pertumbuhan pada kuartal terakhir tahun ini akibat merosotnya kinerja ekonomi blok mata uang tunggal, di mana merupakan pasar ekspor terbesar Jerman.
Menteri Ekonomi Jerman Philip Roesler mengatakan, pemerintah serta lembaga terkemuka di Berlin telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan menjadi hanya 1 persen.
“Saat ini Jerman tengah melintasi badai dari krisis utang zona euro dan perlambatan ekonomi di negara-negara berkembang di Asia dan Amerika Latin,” ujarnya.
Kantor berita Xinhua melaporkan, sejauh ini perekonomian Jerman terus mengalami pertumbuhan. Hal ini berbanding terbalik dengan beberapa negara anggota zona euro banyak yang mengalami penurunan.
Seperti diketahui, negara yang terletak di Eropa Barat tersebut merupakan pendukung utama dari dua dana penyelamatan zona euro yang telah digunakan untuk menyelamatkanYunani, Irlandia, dan Portugal.
Terakhir, Jerman juga mendukung penggunaan dana penyelamatan guna membantu perbankan Spanyol. Pada saat yang sama, pemerintah Berlin menolak laporan Financial Times mengenai Kanselir Jerman Angela Merkel yang mengancam membatalkan pertemuan puncak Uni Eropa pada bulan depan.
Surat kabar tersebut sebelumnya menuliskan, Jerman baru akan menyetujui konferensi tersebut jika Inggris mengubah pendiriannya dalam penggunaan hak veto terkait kebijakan dana talangan.
“Berita tersebut tidak benar. Saya dengan tegas membantah laporan itu,” jelas juru bicara Pemerintah Jerman Steffen Seibert dalam konferensi pers dilansir Reuters.
Dia menambahkan, pemerintah memiliki kepentingan dalam keberhasilan konferensi tingkat tinggi (KTT) pada November serta siap mendukung Presiden Uni Eropa Herman van Rompuy guna mendapatkan kesepakatan mengenai anggaran jangka panjang pada 2014–2020 mendatang.
Menurut Seibert, Berlin memiliki keyakinan bahwa kesepakatan akan mengirim sinyal kuat mengenai kemampuan Eropa untuk menyelesaikan krisis utang dan menawarkan tingkat perencana keamanan bagi negara-negara anggota zona euro.
Di Athena, pemerintah Yunani secepat mungkin akan mengamankan dana talangan (bailout) baru dari pemberi pinjaman internasional atau troika yakni Uni Eropa, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) dan Bank Sentral Eropa (European Central bank/ECB) sebesar 31,5 miliar euro guna menghindari gagal bayar (default) dan kebangkrutan pada bulan depan.
Untuk itu, Perdana Menteri (PM) Yunani Antonis Samaras akan mengadakan pertemuan guna membahas masalah tersebut dengan mitra koalisinya. Laporan Badan Statistik Yunani (ELSTAT) menunjukkan, defisit Athena tahun lalu berada di angka 19,7 miliar euro atau 3 persen lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, sementara pada 2010 sebesar 10,7 persen dan 15,6 pada 2009.
Meskipun putaran langkah-langkah penghematan telah diimplementasikan dalam dua tahun terakhir, utang Negeri Dewa-Dewa itu pada 2011 sebesar 355,7 miliar euro atau 170,6 persen dari PDB naik dari 2010 sebesar 148 persen.
Data terkini yang dirilis Prancis dan Jerman menunjukkan bahwa krisis tampaknya belum akan berakhir dengan segera.
Badan Statistik Nasional Prancis (INSEE) kemarin menyatakan, indeks sentimen industri di negeri mode itu jatuh ke level terendah dalam tiga tahun terakhir pada Oktober lalu.
Menurut INSEE, turunnya sentimen bisnis dipicu lemahnya outlook manufaktur dan rendahnya tingkat pemesanan barang.
Indeks komposit manufaktur Prancis pada bulan lalu turun lima poin menjadi 85, anjlok dari indeks rata-rata jangka panjang sebesar 100 poin. Indeks tersebut meliputi sektor jasa, konstruksi, perkulakan dan ritel.
“Karakteristik aktivitas industri bulan lalu sangat lemah sehingga menimbulkan pesimistis,” ujar INSEE dikutip AFP kemarin.
Di Berlin, Bank Sentral Jerman (Bundesbank) memperingatkan, perekonomian negara itu di kuartal IV/2012 diprediksi melambat. Hal itu disebabkan adanya ketidakpastian ekonomi global dan melemahnya permintaan ekspor.
Kendati demikian, perekonomian negara terbesar zona euro itu diramalkan tumbuh di kuartal III tahun ini, meski produk domestik bruto (PDB)-nya relatif stagnan.
“Akhir tahun ini kemungkinan terkontraksi,” ujar Bundesbank dalam laporan bulanan seperti dikutip BBC, Senin (22/10/2012) malam waktu setempat.
Bundesbank menambahkan, Jerman mengalami penurunan pertumbuhan pada kuartal II/2012 sebesar 0,3 persen atau lebih lambat dari kuartal sebelumnya, di mana perekonomian negara beribu kota Berlin itu tumbuh 0,5 persen.
Menurut Bundesbank, laporan saat ini mencerminkan melemahnya prospek ekspor dan berlanjutnya ketidakpastian mengenai outlook perkembangan ekonomi global.
Sebelumnya Kementerian Keuangan Jerman juga telah memperingatkan, adanya kemungkinan perlambatan pertumbuhan pada kuartal terakhir tahun ini akibat merosotnya kinerja ekonomi blok mata uang tunggal, di mana merupakan pasar ekspor terbesar Jerman.
Menteri Ekonomi Jerman Philip Roesler mengatakan, pemerintah serta lembaga terkemuka di Berlin telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan menjadi hanya 1 persen.
“Saat ini Jerman tengah melintasi badai dari krisis utang zona euro dan perlambatan ekonomi di negara-negara berkembang di Asia dan Amerika Latin,” ujarnya.
Kantor berita Xinhua melaporkan, sejauh ini perekonomian Jerman terus mengalami pertumbuhan. Hal ini berbanding terbalik dengan beberapa negara anggota zona euro banyak yang mengalami penurunan.
Seperti diketahui, negara yang terletak di Eropa Barat tersebut merupakan pendukung utama dari dua dana penyelamatan zona euro yang telah digunakan untuk menyelamatkanYunani, Irlandia, dan Portugal.
Terakhir, Jerman juga mendukung penggunaan dana penyelamatan guna membantu perbankan Spanyol. Pada saat yang sama, pemerintah Berlin menolak laporan Financial Times mengenai Kanselir Jerman Angela Merkel yang mengancam membatalkan pertemuan puncak Uni Eropa pada bulan depan.
Surat kabar tersebut sebelumnya menuliskan, Jerman baru akan menyetujui konferensi tersebut jika Inggris mengubah pendiriannya dalam penggunaan hak veto terkait kebijakan dana talangan.
“Berita tersebut tidak benar. Saya dengan tegas membantah laporan itu,” jelas juru bicara Pemerintah Jerman Steffen Seibert dalam konferensi pers dilansir Reuters.
Dia menambahkan, pemerintah memiliki kepentingan dalam keberhasilan konferensi tingkat tinggi (KTT) pada November serta siap mendukung Presiden Uni Eropa Herman van Rompuy guna mendapatkan kesepakatan mengenai anggaran jangka panjang pada 2014–2020 mendatang.
Menurut Seibert, Berlin memiliki keyakinan bahwa kesepakatan akan mengirim sinyal kuat mengenai kemampuan Eropa untuk menyelesaikan krisis utang dan menawarkan tingkat perencana keamanan bagi negara-negara anggota zona euro.
Di Athena, pemerintah Yunani secepat mungkin akan mengamankan dana talangan (bailout) baru dari pemberi pinjaman internasional atau troika yakni Uni Eropa, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) dan Bank Sentral Eropa (European Central bank/ECB) sebesar 31,5 miliar euro guna menghindari gagal bayar (default) dan kebangkrutan pada bulan depan.
Untuk itu, Perdana Menteri (PM) Yunani Antonis Samaras akan mengadakan pertemuan guna membahas masalah tersebut dengan mitra koalisinya. Laporan Badan Statistik Yunani (ELSTAT) menunjukkan, defisit Athena tahun lalu berada di angka 19,7 miliar euro atau 3 persen lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, sementara pada 2010 sebesar 10,7 persen dan 15,6 pada 2009.
Meskipun putaran langkah-langkah penghematan telah diimplementasikan dalam dua tahun terakhir, utang Negeri Dewa-Dewa itu pada 2011 sebesar 355,7 miliar euro atau 170,6 persen dari PDB naik dari 2010 sebesar 148 persen.
(gpr)
Lihat Juga :