Subsidi energi tingkatkan inefisiensi
Rabu, 24 Oktober 2012 - 12:42 WIB
Subsidi energi tingkatkan inefisiensi
A
A
A
Sindonews.com - Tingginya subsidi energi di Indonesia membuat perekonomian menjadi tidak efisien. Rendahnya harga energi seperti listrik dan bahan bakar minyak (BBM) membuat konsumsi energi masyarakat dan dunia usaha menjadi tinggi.
"Fuel consumption kita di atas rata-rata karena banyak subsidi, masih banyak hal yang perlu kita perbaiki dalam hal efisiensi," ujar Peneliti CSIS, Yose Rizal Damuri di Hotel Four Season, Rabu (24/10/2012).
Disamping terlalu memanjakan rakyat dengan subsidi energi, Yose menilai bahwa pembagian subsidi energi kurang tepat. Misalnya, subsidi listrik yang lebih besar ke rumah tangga daripada industri. "Kebijakan kita agak aneh, subsidi energi listrik untuk rumah tangga lebih besar daripada untuk industri. Akibatnya, konsumsi listrik rumah tangga menjadi tinggi," terangnya.
Dampak lainnya, menurut Yose, ialah ketergantungan industri pada subsidi energi. Industri seharusnya memangkas pengeluaran-pengeluaran yang tidak efisien dan mengurangi konsumsi energi. Mereka menjadi kurang terdorong melakukan efisiensi-efisiensi tersebut karena dimanjakan oleh harga energi yang murah. "Harga energi yang tarlalu rendah membuat dunia usaha tidak inovatif," tukas dia.
Untuk mendorong efisiensi, Yose mengusulkan pengurangan subsidi energi. Lagipula, kenaikan harga energi tidak akan berdampak besar secara ekonomis. "Kalaupun harga energi naik 100 persen, ongkos produksi hanya naik 6,5 persen," jelasnya.
"Fuel consumption kita di atas rata-rata karena banyak subsidi, masih banyak hal yang perlu kita perbaiki dalam hal efisiensi," ujar Peneliti CSIS, Yose Rizal Damuri di Hotel Four Season, Rabu (24/10/2012).
Disamping terlalu memanjakan rakyat dengan subsidi energi, Yose menilai bahwa pembagian subsidi energi kurang tepat. Misalnya, subsidi listrik yang lebih besar ke rumah tangga daripada industri. "Kebijakan kita agak aneh, subsidi energi listrik untuk rumah tangga lebih besar daripada untuk industri. Akibatnya, konsumsi listrik rumah tangga menjadi tinggi," terangnya.
Dampak lainnya, menurut Yose, ialah ketergantungan industri pada subsidi energi. Industri seharusnya memangkas pengeluaran-pengeluaran yang tidak efisien dan mengurangi konsumsi energi. Mereka menjadi kurang terdorong melakukan efisiensi-efisiensi tersebut karena dimanjakan oleh harga energi yang murah. "Harga energi yang tarlalu rendah membuat dunia usaha tidak inovatif," tukas dia.
Untuk mendorong efisiensi, Yose mengusulkan pengurangan subsidi energi. Lagipula, kenaikan harga energi tidak akan berdampak besar secara ekonomis. "Kalaupun harga energi naik 100 persen, ongkos produksi hanya naik 6,5 persen," jelasnya.
(gpr)
Lihat Juga :