BUMN Care : Jangan buru-buru panggil paksa Dahlan

Sabtu, 27 Oktober 2012 - 13:04 WIB
BUMN Care : Jangan buru-buru...
BUMN Care : Jangan buru-buru panggil paksa Dahlan
A A A
Sindonews.com - BUMN Care Community (BUMN Care) meminta Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) agar tidak terburu-buru memanggil paksa Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan karena dua kali mangkir dalam rapat dengar pendapat (RDP) di komisi energi tersebut.

Sedianya, RDP tersebut dilaksanakan pada Senin awal pekan ini, namun karena Dahlan Iskan pada saat itu tidak hadir lantaran memenuhi undangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghadiri International Microfinance Conference di Yogyakarta, sehingga menyebabkan RDP ditunda menjadi Rabu (24/10) malam.

Namun, RDP tunda ini kembali diundur lantaran mantan Direktur Utama perusahaan listrik pelat merah tersebut kembali mangkir, dengan alasan ke Jambi untuk memenuhi undangan peresmian penjualan 1.000 ekor sapi, hasil program integrasi sawit di PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VI.

RDP yang akan membahas realisasi tindak lanjut atas temuan laporan hasil pemeriksaan BPK RI Nomor : 30/Auditama VII/PDTT/09/2011 seharusnya dihadiri Dahlan Iskan selaku mantan Direktur Utama PLN, Menteri ESDM, Kepala BP Migas, Kepala BPH Migas, Dirut Pertamina, Dirut PLN dan Dirut Perusahaan Gas Negara (PGN). Dalam laporan BPK tersebut diungkapkan bahwa PLN menderita kerugian mencapai Rp37,6 triliun pada saat kepemimpinan Dahlan Iskan.

Akibat ketidakhadiran Dahlan, yang dianggap penting mengingat kedudukannya sebagai mantan Direktur Utama PLN, menyebabkan Komisi VII kesal dan mengancam untuk memanggilnya secara paksa.

Terkait hal ini, Koordinator BUMN Care Budi Purnomo Karjodihardjo meminta, anggota Komisi VII DPR Effendi Simbolon untuk bersabar. "Tidak perlu memanggil paksa Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk datang ke DPR. Apalagi, pak Dahlan sudah menyatakan kesediaannya untuk hadir asalkan dengan undangan formal," kata dia dalam dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (27/10/2012).

Budi menjelaskan, pada panggilan pertama, Dahlan sedang keliling berbagai kota dengan Presiden SBY. Sedangkan, pada panggilan kedua, Dahlan sedang berada di sejumlah tempat, yang sudah dijadwalkan sejak lama terkait kesejahteraan rakyat.

Mengenai temuan BPK tersebut, Budi menjelaskan, Dahlan Iskan sudah menjelaskan di media bahwa inefisiensi PLN sejak dulu dipastikan lebih dari angka tersebut. Menurut dia, inefisiensi terpaksa dilakukan Dahlan karena melihat banyaknya aspek, termasuk bisnis, kemanusiaan dan pemerintahan yang dikorbankan akan lebih besar jika pemadaman dilakukan.

"Beliau dihadapkan kepada pilihan, Jakarta mati total karena tidak ada lisrik, transaksi perbankan berhenti, rumah sakit berhenti, bahkan pemerintah bisa berhenti. Pak Dahlan mengambil pilihan Jakarta tidak boleh mati (listrik) dengan berbagai konsekuensinya," papar Budi.

Sementara mengenai pemanggilan RDP berikutnya, menurut dia, Dahlan Iskan bersedia menghadirinya. Dahlan Iskan sebelumnya menyatakan, tidak mengetahui bahwa pemanggilan Komisi VII sudah mendapat restu dari Komisi VI, yang membidangi BUMN. "Aku tidak tahu kalau (Komisi VI) setuju," tukasnya.

Kendati demikian, dia menegaskan, akan datang pada panggilan RDP dengan Komisi VII berikutnya untuk membahas hasil temuan BPK tersebut. Adapun nominal inefisiensi PLN yang diungkapkan BPK tersebut, menurut Dahlan, jauh diatas angka tersebut. Dia menyebut, angkanya bisa mencapai Rp100 triliun.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Dahlan Iskan: Ada 30...
Dahlan Iskan: Ada 30 BUMN Mati, tapi Tak Bisa Dikuburkan karena Politik
Cerita Dahlan Iskan,...
Cerita Dahlan Iskan, Batuk dan Defisit Vitamin D Setelah Positif COVID-19
Tanggapi Dahlan Iskan,...
Tanggapi Dahlan Iskan, Bos HK Beberkan Penyebab Kinerja BUMN Karya Berdarah-darah
Dahlan Iskan Meraba...
Dahlan Iskan Meraba Penyebab BUMN Karya Merugi, Sebut Bunga Bank Tinggi
Buku Akhlak Untuk Negeri...
Buku Akhlak Untuk Negeri Disebut Personifikasi Erick Thohir, Dahlan Iskan Tebar Pujian
Dahlan Iskan: Banyak...
Dahlan Iskan: Banyak BUMN Sudah Jadi Mayat Hidup Tapi Belum Dikubur
Berita Terkini
RANS Resmi Jadi Perusahaan...
RANS Resmi Jadi Perusahaan Terbuka, Investor Sambut Positif Debut di Bursa
2 jam yang lalu
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp5.000 per Gram, Buyback Jadi Berapa?
3 jam yang lalu
Easycash, OJK dan AFTECH...
Easycash, OJK dan AFTECH Perkuat Literasi Keuangan Generasi Muda di Bali
4 jam yang lalu
IHSG Sepekan Naik 0,83%,...
IHSG Sepekan Naik 0,83%, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp10.340 Triliun
4 jam yang lalu
Promo Spesial BRI Kartu...
Promo Spesial BRI Kartu Kredit: Jalan-Jalan Lebih Hemat Rp125.000 di tiket.com!
4 jam yang lalu
Imbal Hasil Obligasi...
Imbal Hasil Obligasi Kian Jadi Penentu Utama Pergerakan Valas
5 jam yang lalu
Infografis
Iran Paksa AS Terima...
Iran Paksa AS Terima Kekalahan setelah 40 Hari Berperang, Ini 10 Poin Gencatan Senjata
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved