Perputaran uang di Bandung belum maksimal
Senin, 29 Oktober 2012 - 18:09 WIB
Perputaran uang di Bandung belum maksimal
A
A
A
Sindonews.com - Tingginya perputaran uang di Kota Bandung saat long weekand, dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap ekonomi masyarakat. Transaksi tersebut baru berdampak pada sektor tertentu saja.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Pasundan (Unpas) Acuviarta Kartabi mengatakan, dari sisi pajak, perputaran uang di Kota Bandung saat akhir pekan berdampak terhadap peningkatan serapan pajak hotel dan restoran. Sementara pada sektor perdagangan, belum memberikan dampak positif terhadap ekonomi masyarakat.
“Sektor perdagangan yang kita unggulkan, tidak semuanya memanfaatkan potensi lokal. Beberapa produk yang dijual, justru berasal dari daerah lain. Artinya, masyarakat Bandung hanya menikmati fee dari jasa penjualan dan serapan pajak saja,” kata Acuviarta Kartabi di Bandung, Senin (29/10/2012).
Semestinya, sektor perdagangan lebih mengedepankan produk lokal agar sektor industri tumbuh dan berkembang. Menurut Acuviarta, pada dasarnya, Pemkot Bandung bisa memaksimalkan sektor perdagangan dengan membuat tempat atau pasar yang menjual potensi lokal. Seperti di Surabaya dan Yogyakarta.
“Efek yang diterima masyarakat belum maksimal. Padahal, kita bisa mendapatkan potensi ekonomi lebih besar dari itu,” pungkas Acuviarta. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, saat long weekand, perputaran uang di Bandung bisa mencapai Rp7,5 miliar per hari. Transaksi tersebut baru pada sektor tertentu saja.
Lebih lanjut Acuviarta mengatakan, pada dasarnya, perputaran uang di Kota Bandung bisa lebih tinggi dari nilai transaksi saat ini. Sayangnya, potensi itu tidak bisa termanfaatkan secara maksimal lantaran masih terkendala insfrastruktur. Terutama akses jalan dari satu tempat ke tempat lainnya.
Wisatawan yang datang ke Bandung, cenderung terpusat di titik tertentu, mereka enggan berkunjung ke tempat lain karena jalan macet dan permasalahan lainnya.
“Semestinya, masalah insfrastruktur menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Dengan begitu, kita akan mendapatkan efek lebih besar dari banyaknya wisatawan yang datang ke Bandung,” lanjut dia. Masyarakat, juga akan menikmati efek lebih besar dari penyebaran wisatawan tersebut.
Dihubungi terpisah, Ketua Kadin Kota Bandung Deden Y Hidayat menjelaskan, pengembangan sarana insfrastruktur menjadi mutlak dilakukan Kota Bandung. Terlebih, dalam beberapa tahun kedepan, pemerintah akan melakukan pengambangan bandara.
“Panjang jalan di Kota Bandung saat ini sekitar 1.100 meter. Sementara panjang mobil saat akhir pekan bisa mencapai 1600 meter. Artinya, sudah over kapasitas,” jelas dia.
Diakui Deden, serapan Pendapatan Asli Daerah (PAD) ke Kota Bandung masih sangat minim. Padahal, potensinya masih sangat besar. Tahun ini, PAD Kota Bandung diprediksi sekitar Rp550 miliar. Jumlah tersebut tidak sebanding dengan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Rp2,4 triliun.
“Bandung masih perlu investor. Paling tidak, mereka bisa ikut terlibat pada pembangunan insfrastruktur kota untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Tapi, untuk meyakinkan investor, perlu kepastian hukum, kenyamanan, dan kepastian bisnis,” tambah dia.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Pasundan (Unpas) Acuviarta Kartabi mengatakan, dari sisi pajak, perputaran uang di Kota Bandung saat akhir pekan berdampak terhadap peningkatan serapan pajak hotel dan restoran. Sementara pada sektor perdagangan, belum memberikan dampak positif terhadap ekonomi masyarakat.
“Sektor perdagangan yang kita unggulkan, tidak semuanya memanfaatkan potensi lokal. Beberapa produk yang dijual, justru berasal dari daerah lain. Artinya, masyarakat Bandung hanya menikmati fee dari jasa penjualan dan serapan pajak saja,” kata Acuviarta Kartabi di Bandung, Senin (29/10/2012).
Semestinya, sektor perdagangan lebih mengedepankan produk lokal agar sektor industri tumbuh dan berkembang. Menurut Acuviarta, pada dasarnya, Pemkot Bandung bisa memaksimalkan sektor perdagangan dengan membuat tempat atau pasar yang menjual potensi lokal. Seperti di Surabaya dan Yogyakarta.
“Efek yang diterima masyarakat belum maksimal. Padahal, kita bisa mendapatkan potensi ekonomi lebih besar dari itu,” pungkas Acuviarta. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, saat long weekand, perputaran uang di Bandung bisa mencapai Rp7,5 miliar per hari. Transaksi tersebut baru pada sektor tertentu saja.
Lebih lanjut Acuviarta mengatakan, pada dasarnya, perputaran uang di Kota Bandung bisa lebih tinggi dari nilai transaksi saat ini. Sayangnya, potensi itu tidak bisa termanfaatkan secara maksimal lantaran masih terkendala insfrastruktur. Terutama akses jalan dari satu tempat ke tempat lainnya.
Wisatawan yang datang ke Bandung, cenderung terpusat di titik tertentu, mereka enggan berkunjung ke tempat lain karena jalan macet dan permasalahan lainnya.
“Semestinya, masalah insfrastruktur menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Dengan begitu, kita akan mendapatkan efek lebih besar dari banyaknya wisatawan yang datang ke Bandung,” lanjut dia. Masyarakat, juga akan menikmati efek lebih besar dari penyebaran wisatawan tersebut.
Dihubungi terpisah, Ketua Kadin Kota Bandung Deden Y Hidayat menjelaskan, pengembangan sarana insfrastruktur menjadi mutlak dilakukan Kota Bandung. Terlebih, dalam beberapa tahun kedepan, pemerintah akan melakukan pengambangan bandara.
“Panjang jalan di Kota Bandung saat ini sekitar 1.100 meter. Sementara panjang mobil saat akhir pekan bisa mencapai 1600 meter. Artinya, sudah over kapasitas,” jelas dia.
Diakui Deden, serapan Pendapatan Asli Daerah (PAD) ke Kota Bandung masih sangat minim. Padahal, potensinya masih sangat besar. Tahun ini, PAD Kota Bandung diprediksi sekitar Rp550 miliar. Jumlah tersebut tidak sebanding dengan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Rp2,4 triliun.
“Bandung masih perlu investor. Paling tidak, mereka bisa ikut terlibat pada pembangunan insfrastruktur kota untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Tapi, untuk meyakinkan investor, perlu kepastian hukum, kenyamanan, dan kepastian bisnis,” tambah dia.
(gpr)
Lihat Juga :