Perbankan China tak lagi fokus di Inggris
Selasa, 30 Oktober 2012 - 08:52 WIB
Perbankan China tak lagi fokus di Inggris
A
A
A
Sindonews.com - Perbankan China mengubah fokus bisnisnya di Eropa, dari semula berpusat di London ke Luksemburg. Langkah tersebut dilakukan karena Pemerintah Inggris memperketat regulasi.
Dikutip Financial Times (FT), bank-bank China yang tergabung dalam Asosiasi Bank Asing telah melayangkan protes melalui surat kepada Pemerintah Inggris tentang ketatnya aturan likuiditas perbankan di negara itu.
“Bank-bank China tersebut mendapati bahwa semakin sulit untuk beroperasi di Inggris di bawah lingkungan peraturan saat ini,” ujar FT mengutip surat dari Asosiasi Bank Asing seperti dilansir Reuters, kemarin.
Seperti diketahui, bank milik Pemerintah China termasuk Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), China Construction Bank (CCB) dan Agricultural Bank of China (ABC) telah membuka cabang di London sejak krisis keuangan global pada 2008 lalu.
Lebih lanjut FT menyatakan, salah satu bank China sudah mengalihkan bisnisnya lebih dari tiga kali dari London ke Luksemburg. Sementara, bank lainnya baru berencana memindahkan operasionalnya ke Luksemburg karena peraturan yang lebih ringan.
Salah satu permasalahan utama yang dihadapi perbankan China adalah dibatasinya pendirian cabang di London oleh otoritas bank di Inggris (Financial Services Authority/ FSA). Menurut FT, bank-bank China tersebut beroperasi di Inggris melalui anak perusahaan dengan aturan sama seperti bank lokal.
Sementara itu, Pemerintah China saat ini tengah mempertimbangkan pungutan pajak yang lebih rendah terhadap investor sebagai upaya mendorong investasi jangka panjang. China Securities Journal melaporkan, dalam proposal tersebut investor yang memegang saham selama lebih dari satu bulan akan mendapatkan perlakuan pajak preferensial.
Sedangkan, yang memegang saham selama lebih dari satu tahun akan mendapatkan pemotongan pajak lebih besar. “Pemerintah Beijing juga tengah mempelajari kebijakan pajak dalam kaitannya dengan Qualified Foreign Institutional Investors (QFII) dan perdagangan minyak mentah berjangka,” kata laporan tersebut.
Dikutip Financial Times (FT), bank-bank China yang tergabung dalam Asosiasi Bank Asing telah melayangkan protes melalui surat kepada Pemerintah Inggris tentang ketatnya aturan likuiditas perbankan di negara itu.
“Bank-bank China tersebut mendapati bahwa semakin sulit untuk beroperasi di Inggris di bawah lingkungan peraturan saat ini,” ujar FT mengutip surat dari Asosiasi Bank Asing seperti dilansir Reuters, kemarin.
Seperti diketahui, bank milik Pemerintah China termasuk Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), China Construction Bank (CCB) dan Agricultural Bank of China (ABC) telah membuka cabang di London sejak krisis keuangan global pada 2008 lalu.
Lebih lanjut FT menyatakan, salah satu bank China sudah mengalihkan bisnisnya lebih dari tiga kali dari London ke Luksemburg. Sementara, bank lainnya baru berencana memindahkan operasionalnya ke Luksemburg karena peraturan yang lebih ringan.
Salah satu permasalahan utama yang dihadapi perbankan China adalah dibatasinya pendirian cabang di London oleh otoritas bank di Inggris (Financial Services Authority/ FSA). Menurut FT, bank-bank China tersebut beroperasi di Inggris melalui anak perusahaan dengan aturan sama seperti bank lokal.
Sementara itu, Pemerintah China saat ini tengah mempertimbangkan pungutan pajak yang lebih rendah terhadap investor sebagai upaya mendorong investasi jangka panjang. China Securities Journal melaporkan, dalam proposal tersebut investor yang memegang saham selama lebih dari satu bulan akan mendapatkan perlakuan pajak preferensial.
Sedangkan, yang memegang saham selama lebih dari satu tahun akan mendapatkan pemotongan pajak lebih besar. “Pemerintah Beijing juga tengah mempelajari kebijakan pajak dalam kaitannya dengan Qualified Foreign Institutional Investors (QFII) dan perdagangan minyak mentah berjangka,” kata laporan tersebut.
(rna)
Lihat Juga :